Selama Ramadan, Penggunaan Plastik Diprediksi Meningkat

Proses Brand Audit yang dilakukan mahasiswa/i program studi Ilmu Kelautan FMIPA Uncen  di kawasan ekosistem mangrove Hanyaan, Entrop, Sabtu (23/4). Dari hasil tersebut mendapati jika produk air minum Botol Aqua masih mendominasi jumlah sampah yang ditemukan selama beberapa hari terakhir. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Hasil grebek sampah dan brand audit yang dilakukan sejumlah mahasiswa program studi Ilmu Kelautan FMIPA Uncen  di kawasan ekosistem mangrove Hanyaan, Entrop mendapati bahwa jumlah sampah yang masuk ke hutan bakau ini belum berkurang. Masih banyak sampah yang terselip  di akar-akar bakau setelah terbawa  air saat pasang. Dan hasil brand audit selama 2 tahun  terakhir ternyata belum mengalami perubahan dimana produk botol air mineral Aqua yang mendominasi.

   Setelah itu, produk botol Qualala dan ketiga produk botol Teh Pucuk. “Sampah – sampah ini selama 2 tahun terakhir dari hasil brand audit yang dilakukan oleh teman – teman masih mendominasi dan sampai sekarang dari brand audit terakhir ternyata tidak mengalami perubahan,” ujar Roni Stenly, satu koordinator Rumah Bakau Jayapura, usai mendampingi grebek sampah di hutan bakau Hanyaan, Entrop, Sabtu (23/4).

   Ia menyebut dari survei yang dilakukan selama beberapa hari terakhir ditemukan 212 botol Aqua, 198 botol Qualala dan 118 botol The Pucuk. Sisanya adalah sampah umum semisal bekas minuman sachet, stereofoam dan botol plastic lainnya.

“Tapi yang terbanyak tiga produk tadi,” katanya. Ini lanjut Roni bisa menggambarkan bahwa masyarakat di Kota Jayapura lebih menyukai produk Aqua. “Kalau kami mau kritisi apa bedanya air Aqua dengan air dari mata air di Jayapura. Ada Cycloop yang masih mengalir. Masak untuk air minum saja harus memberi dari luar Papua. Mendatangkan pakai kapal dari luar Papua. Apakah mata air kita tidak bisa menghidupi warga kota?,”sindirnya.

  Namun yang catatan lain dari hasil brand audit ini adalah Jayapura ataupun Papua masih mendatangkan sampah dari luar. “Kami bisa katakanan demikian karena botol – botol ini sebagian besar hanya dibuang. Kita belum memiliki karakter mengelola sampah plastic soalnya,” imbuh Roni.

   Selain itu, Rumah Bakau Jayapura juga memprediksi angka penggunaan kantong plastik sekali pakai selama Bulan Ramadhan akan mengalami peningkatan  sekitar 30 persen. “Sangat mudah dilihat dimana setiap takjil atau kue yang dibeli pasti satu paket dengan kantong plastik. Tiga produk  sama artinya 3 kantong plastic dan itu setiap hari. Saya pikir sudah waktunya merubah paradigma lama dimana di area Jawa sudah banyak yang menggunakan bungkus ramah lingkungan semisal dari bambu yang dianyam maupun daun pisang atau daun jati. Bukan kita harus seperti itu, tapi paling tidak ada upaya lain. Gunakan toples atau Tupperware dari rumah juga bisa,” tutup Muhammad Ikbal satu koordinator Rumah Bakau Jayapura. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *