Hasil Pemerikaan BPOM, Semua Jajanan Tajil Aman

Mojaza Sirait, S.Si., Apt, (Karel/Cepos)

JAYAPURA– Balai Besar  Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Jayapura melakukan pengawasan dan pemiriksaan sample dari makanan berbuka puasa. Total ada 541 sampel yang diuji kandungan berbahayanya, diantaranaya  di Kota Jayapura (Abe-Waena) 167 sampel, Kabupaten Jayapura 153 sampel, Kabupaten  Keerom 52 sampel, Kota Jayapura (Entrop-Hamadi) 169 sampel.

  Dari hasil uji laboratorium, semua jenis makanan untuk berbuka puasa tidak ada yang  mengandung bahan berbahaya baik Formalin, Boraks, Rhodamin B maupun  Methanyl Yellow. Melihat hasil ini Kepala Balai Besar POM Jayapura Mojaza Sirait, S.Si., Apt, mengakui bahwa pelaku usaha sudah memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya kualitas makanan dibandingkan daya jual dari setiap prodak.

  “Tren temuan ini sejak tiga tahun lalu tidak pernah ada temuan bahan berbahaya pada makanan berbuka puasa. Hal ini patut dibanggakan, karena kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas makanan semakin membaik”, tutur Mojaza.

   Jenis prodak yang diuji laboratorium oleh Balai BPOM Jayapura adalah es, mie, kudapan, jeli (agar agar), lauk dan sayur siap saji, sirup, serta minuman yang berwarna.  “Pada intinya kami  pada bulan ramadan ini kami fokus pada makanan buka puasa, karena hal ini penting untuk diawasi,” ujarnya.

   Dikatanya bahwa hal yang perlu menjadi perhatian serius dalam hal terkait kualitas menu buka puasa ini adalah kesadaran para pelaku usaha,  terkait sanitasi serta kehigenisan baik dari sisi keberisan penjual maupun tempat jualanya karena selama ini masih ditemukan dibeberapa tempat yang kurang bersih dan bagaimana para pelaku usaha mengabaikan pentingnya  sanitasi serta hieginitas  makanan.

   “Hal ini yang perlu kami ingatkan kepada para pembuat takjil untuk lebih memperhatikan kebersihan badan, kebersiahan peralatan dan kebersihan penyajiannya”, tuturnya

   Pelaku usaha diminta juga memperhatikan kemasan pangan, sebab menurutnya saat ini masih ada pelaku usaha yang  masih menggunakan kemasan seperti kantong kresek sebagai wadah lansung penyimpanan pangan. Penggunaan bahan kemasan seperti itu sangatlah tidak baik untuk kesehatan.

  “Terkait hal ini kami terus mendorong dengan berbagai upaya sosialisasi akan dampak dari pada penggunaan bahan kemasan seperti ini.  Membungkus Kemasan yang  sesuai standard hanya dengan kantong plastik bening”, tutur Mojaza Sirait.

   Mojaza Sirait juga mengatakan dengan  harga harga minyak goreng yang cukup melejit. Pihaknya juga melakukan antisipasi  dengan  melakukan uji lab.  Hal ini tujuannya agar mengetahui standar penggunaan minyak goreng.

   “Ada 10 jenis minyak goreng merek terbaru yang selama ini jarang kita temukan di pasar, sehingga dan tentunya kita harus mengetahui standart kelayakan prodak trsebut. kalau yang merek lama juga tetap disampling”, pungkasnya. (cr-267/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *