Vakum 7 Tahun, PGRI Diharap Bangkit untuk Kemajuan Pendidikan

Konfrensi PGRI Kabupaten Jayawijaya yang dilakukan di Gedung Ukumiarek Asso Wamena, Kamis, (21/4), kemarin. (Denny/ Cepos)

WAMENA-Setelah vakum selama 7 tahun, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jayawijaya melakukan Konfrensi PGRI untuk kembali menghidupkan organisasi ini. Konferensi ini digelar di Gedung Ukumiarek Asso Wamena, Kamis, (21/4), kemarin.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jayawijaya, Thony M Mayor, Spd, MM menyatakan, pemerintah mengharapkan Konfernsi PGRI di Kabupaten Jayawijaya bisa memberikan kontribusi untuk mengatasi masalah pendidikan yang ada di Jayawijaya.

“Kita berharap lewat konfernsi ini, ada rumusan atau rekomendasi terkait masalah pendidikan, sekaligus memberikan masukan kepada kami pemerintah lewat dinas pendidikan, sehingga ada langkah yang baik dalam meningkatkan mutu pendidikan,” ungkapnya, Kamis (21/4) kemarin.

Menurutnya, dalam dunia pendidikan memang banyak masalah yang dihadapi, namun dengan perumusan masalah, bisa mencari solusi yang tepat bersama -sama, bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di Jayawijaya, ini salah satu peran dan tugas dari PGRI selaku organisasi profesi yang menginput seluruh guru di Jayawijaya.

“Kami berharap mereka bisa merumuskan langkah -langkah dalam bentuk program dan kegiatan yang akan diberikan kepada dinas pendidikan untuk peningkatkan mutu pendidikan di Jayawijaya,” beber Thony.

Secara terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Bambang Budiandoyo menyatakan, sejak 2015, PGRI vakum,  padahal mestinya perubahan -perubahan yang terjadi dalam kemajuan Iptek ini harus diantisipasi dengan baik karena diarahkan dalam satu organisasi yakni PGRI.

“PGRI diharap kembali menyamakan presepsi dan motivasi para guru di Jayawijaya dalam menangkap perubahan dan menyesuaikan dengan perubahan yang ada, karena akhir -akhir ini terlalu banyak perubahan, termasuk dalam mendorong siswa belajar,” jelasnya.

Ia berharap, dengan adanya Konfrensi PGRI ini maka ada kesatuan presepsi, bahwa profesi guru adalah jiwa dan panggilan yang melekat dalam diri tenaga pendidik, sehingga mereka bukan menjadi guru karena pilihan yang terpaksa, tetapi lebih pada menjadi agen perubahan.

“Ini bisa dikoordinasikan, disatukan melalui organisasi PGRI, sehingga menjadi seorang guru bukan terpaksa tetapi memang panggilan jiwa sehingga bisa mewujudkan guru sebagai agen perubahan,”tutupnya.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *