Aparat Belum Leluasa Pasca Penembakan

Sejumlah mama-mama Papua sedang menjalankan aktivitas menjual hasil kebunnya di Kenyam beberapa waktu yang lalu. Kontak tembak yang terjadi di Kenyam akhir-akhir ini, membuat masyarakat sulit beraktivitas. (Elfira/Cepos)

*Wentius Nimiangge: Jangan Lagi Ada Tembak-Tembak Di Daerah Saya. Jangan Buat Takut Masyarakat!

JAYAPURA-Meski situasi keamanan di Kenyam Kabupaten Nduga berangsur-angsur pulih namun aparat keamanan khususnya Polisi masih belum leluasa melakukan aktivitas.
Polisi memilih berjaga – jaga di pos. “Untuk saat ini situasi terakhir aman dan kondusif, tak ada gerakan dari kelompok-kelompok yang kerap membuat ulah,” kata Kapolres Nduga, I Komang Budhiarta melalui ponselnya, Minggu (10/4).
“Kami lebih memilih untuk berjaga-jaga di pos, sebab terkadang kelompok KKB ini menunggu moment dan waktu yang pas untuk melakukan penyerangan. Bila lengah sedikit maka langsung diserang jadi kami coba memperkuat pos dulu,” sambung Budhiarta.
Untungnya beberapa hari terakhir ibu kota Kabupaten Nduga ini tidak terjadi kontak senjata sehingga aktivitas masyarakat sudah mulai berjalan normal. “Kami tetap mencoba mempertahankan situasi seperti ini karena pastinya banyak masyarakat ingin beraktivitas dan bekerja seperti biasa,” bebernya.
Sementara Bupati Nduga, Wentius Nimiangge menyampaikan bahwa pasca tewasnya seorang remaja bernama Patunus Lokbere (16) sempat mengeluarkan pernyataan keras. Ia meminta jangan ada aksi kekerasan yang dilakukan KKB maupun aparat keamanan di Kenyam mengingat pihaknya ingin membangun daerah tanpa perasaan ketakutan dan kecemasan.
“Sebagai pemimpin Nduga saya merasa kehilangan generasi Nduga yang tak berdosa. Masalah ini saya lalui dengan air mata. Jangan lagi ada tembak – tembak di daerah saya. Jangan buat takut masyarakat. Kalau mau saling tembak di hutan sana,” beber Wentius dalam rilisnya.
Ia mengecem aksi kekerasan bersenjata yang menghilangkan nyawa manusia. Sebab manusia kata pria yang sebelumnya menjabat sebagai wakil bupati ini adalah gambaran Allah yang diciptakan dengan tanganya sendiri sehingga bagi siapa yang menghilangkan nyawa manusia maka ia tidak akan diampuni. Pemda sendiri memberikan uang duka sebesar Rp 100 juta untuk proses pemakaman.
Wentius sendiri sempat menghadiri proses pemakaman dan ia meminta agar pihak yang mau berperang jangan masuk ke Kenyam. Sebab ia ingin membangun daerah dan roda pemerintahan harus berjalan. Disini Bupati Wentius Nimiangge juga mendapat banyak aspirasi salah satunya menolak keberadaan TNI organik. Masyarakat kata bupati lebih memilih adanya koramil tanpa diperkuat aparat dari luar.
“Itu yang disampaikan masyarakat. Mereka meminta cukup Koramil saja. Jangan dari luar lagi sebab nanti mengganggu psikolog warga setempat. Saya juga meminta ibu guru dan pegawai yang berada di luar untuk segera kembali karena anak – anak sekolah mau ujian dan kami berikan jaminan keamanan,” tutup bupati. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *