Kaki Diamputasi Usai Tertembak, Keluarga Minta Pelaku Diproses Hukum

Mathius Matuan. (Elfira/Cepos)

Frits Ramandey.

*Kerap Didampingi Komnas HAM Selesaikan Masalah, Keluarga Sampaikan Terima Kasih ke Komnas HAM

JAYAPURA-Anthus Itlay, menjadi korban penembakan bersama warga lainnya saat aksi demo penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Kabupaten Yahukimo yang berujung pada dua warga dari peserta demo tewas, diduga akibat ditembak aparat, Selasa (15/3) lalu.

Mahasiswa berusia 25 tahun yang dari pengakuan keluarga itu terpaksa menjalani penanganan medis hingga saat ini, lantaran kakinya diamputasi usai terkena tembakan pada kaki bagian kanan.

Mathius Matuan menyampaikan, keponakannya itu saat ini sedang menjalani rawat jalan usai kakinya diamputasi. Dimana setelah kejadian Maret lalu di Yahukimo, yang bersangkutan langsung dirujuk ke RSUD Jayapura. “Pihak keluarga meminta pelaku dalam kasus ini diproses hukum,” tegasnya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (7/4).

Disampaikan Mathius, sejak kejadian Maret lalu hingga saat ini, pihaknya terus didampingi oleh Komnas HAM Papua. Bahkan pihak keluarga selalu berkomunikasi dengan Komnas HAM. “Hingga saat ini kami didampingi oleh Komnas HAM. Kami mengapresiasi kerja Komnas HAM yang sejak kejadian sudah mendampimgi kami sebagai korban,” kata Mathius yang ditemui di Jayapura.

Sebagai korban, Mathius meminta pemerintah untuk bisa melihat persoalan ini. Termasuk meminta pemerintah Yahukimo bisa membantu kemenakannya itu dalam hal pengobatan. “Usai diamputasi kami selalu rutin melakukan kontrol. Kami ingin Itlay bisa tertolong usai ditembak agar bisa kembali ke Yahukimo,” pintanya.

Secara terpisah, Ketua Komnas HAM Frits Ramandey menyampaikan, untuk peristiwa Yahukimo pihaknya sudah berkoordinasi termasuk sudah mengirim hasil investigasi Komnas HAM kepada Polres Yahukimo.

“Saya juga sudah sampaikan kepada Kapolda Papua dan Kabid Propam Polda Papua terkait dengan hasil investigasi dan rekonstruksi yang telah kami lakukan pasca kejadian,” terang Frits.

Frits berharap penegakan hukum di internal Polisi itu penting. Namun di lain sisi karena ada kerugian material dimana ada korban, puluhan kios dibakar termasuk pembakaran  fasilitas  pemerintah dan ini juga harus ada upaya penegakan hukum.

“Penegakan hukum harus berimbang, baik kepada korban yang meninggal dunia dan di internal aparat. Kita tidak tahu aparat yang menembak apakah TNI-Polri atau ada satuan lain,  tapi dari hasil rekonstruksi kami bisa tergambarkan,” kata Frits.

Komnas HAM juga menyarankan kepada Pemda Yahukimo untuk terus memberi perhatian kepada korban yang tertembak juga keluarga korban yang meninggal dunia serta korban lainnya.

“Cara untuk melakukan rekonsiliasi yang baik adalah Pemda menjadi pihak terdepan untuk berkomunikasi, kemudian merekonsiliasi pasca kejadian itu menjadi penting. Para korban yang saat ini sedang menjalani perawatan medis perlu dukungan dari Pemda, terlepas dari  perbuatan mereka tetapi tanggung jawab Pemda untuk terus memberi perhatian,” pungkasnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *