La Nina Akan Bertahan Hingga Pertengahan Tahun

Petani sayur di belakang otonom Kotaraja saat menyiram tanamannya. BMKG ingatkan masyarakat di daerah rawan kekurangan air bersih dapat melakukan penyimpanan air saat masa peralihan musim hujan ke kemarau. (Elfira/Cepos)

Kemarau Datang Lebih Awal, Waspadai Daerah yang Kekurangan Air Bersih

JAYAPURA-Wilayah Provinsi Papua memiliki topografi yang sangat beragam, menjadikan cuaca dan Iklim Provinsi Papua sangat dinamis dan kompleks. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap iklim Provinsi Papua, antara lain adalah fluktuasi suhu permukaan laut Samudra Pasifik ekuator, Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ),  Monsun Asia Tenggara-Australia, sirkulasi Hadley dan Walker, serta MJO.

   Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura Hendro Nugroho menyampaikan, Iklim Papua juga turut dipengaruhi oleh tiga sistem peredaran angin, yakni angin pasat, angin meridional, dan angin lokal. Keseluruhan faktor tersebut berinteraksi membentuk suatu sistem baik lokal, regional, maupun global, yang kemudian turut menentukan varian dan keragamanan iklim Provinsi Papua.

  “Kondisi Iklim di Papua sangat bergantung pada kondisi Iklim di Samudra Pasifik sebagai penyuplai uap air terbesar di Papua. BMKG memprediksi kondisi La Nina masih akan bertahan hingga pertengahan tahun 2022, yang artinya peluang hujan masih berpotensi terjadi hingga pertengahan tahun 2022,” paparnya.

   Menurutnya, kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) diprediksi akan terus melemah dari Maret hingga Mei 2022 yang artinya, pengurangan curah hujan juga mulai terjadi. Prediksi ini akan terus diperbaharui setiap dasarian atau 10 harian.

  “Kedatangan musim kemarau sangat berkaitan erat dengan peralihan angin angin monsoon asia menjadi angin monsoon Australia. BMKG memprediksi angin monsoon Australia mulai aktif pada akhir April 2022 dan mulai mendominasi pada bulan Mei hingga Agustus 2022,” tuturnya.

  BMKG juga menjelaskan Provinsi Papua terdiri dari 4 Zona Musim, diantaranya adalah Zona Musim 339, 340, 341, dan 342. Dari total 4 Zona Musim di Provinsi Papua, 50% zona musim diprakirakan mengalami musim kemarau lebih awal yaitu pada bulan Mei 2022, dan 50% lainnya diprakirakan mengalami kemunduran musim kemarau yaitu pada bulan Juni dan Juli 2022.

   “Rekomendasi yang dapat kami berikan selama menghadapi musim kemarau adalah kami mengimbau pemerintah daerah, stakeholder serta masyrakat untuk tetap mewaspadai wilayah yang akan memasuki musim kemarau lebih awal dibanding normalnya yaitu zona musim 341 dan 342,” terangnya

   Sementara itu, Sub Koordinator Bidang Manajemen Data Balai Besar MKG Wilayah V Jayapura, Nurul Puspitasari menyampaikan, masa peralihan musim hujan ke musim kemarau ini biasanya berpotensi terjadi curah hujan ekstreme.

  “Karena itu, seluruh stakeholder dan masyarakat diharapkan waspada dan terus memantau informasi cuaca yang dikeluarkan BBMKG Wilayah V Jayapura,” terang Nurul dalam konferensi pers via zoom.

   Dijelaskan, musim kemarau diperkirakan akan datang lebih awal dibanding normalnya yaitu pada Mei 2022 untuk ZOM 341 meliputi, Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom dan ZOM 342 yakni Kabupaten Merauke.

  “Diharapkan pemerintah daerah dan masyarakat di daerah yang rawan kekurangan air bersih dapat melakukan penyimpanan air pada masa peralihan musim hujan ke musim kemarau. Khususnya yang berada di ZOM 342 yaitu wilayah Selatan Papua,” tuturnya.

   Lanjutnya, di daerah ZOM 342 saat musim kemarau sama sekali tidak ada hujan, tidak seperti di ZOM lainnya di Papua. “Kondisi musim kemarau tahun ini diperkirakan normal atau sama dengan rerata klimatologis untuk semua zona musim. Untuk puncak musim kemarau Provinsi Papua tahun ini sendiri diprakirakan terjadi pada bulan Juni dan Agustus 2022,” terangnya. (fia/cr-267/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *