Miris, Kebanyakan yang Tewas Berusia 16 – 35 Tahun

Aktifitas lalu lintas di depan GOR Cenderawasih Jayapura dimana ada pengendara terlihat melanggar berkendara tanpa menggunakan helm, Selasa (29/3)

Kombes Pol Muhammad Nasihin

JAYAPURA-Ditlantas Polda Papua tengah mendorong agar upaya penertiban berlalu lintas  sifatnya tidak hanya dilakukan dengan cara instan atau di saat ada momentum tetapi bagaimana ketertiban berkendara ini memang tumbuh karena adanya kesadaran.

  Tugas Polisi hanya mengingatkan dan menindak, namun ini semua  kembali ke warga pengguna jalan, baik pengendara maupun pengemudi. Bagaimana tidak di tahun 2021 lalu tercatat ada 159 orang yang meninggal akibat kecelakaan berlalu lintas.

   Mirisnya lagi usia yang tewas adalah mereka yang masih prouduktif, yakni berusia 16-35 tahun. “Ini yang menjadi keprihatinan kami, dimana angka korban kecelakaan lalu lintas cukup tinggi dimana ada 159 orang yang meninggal di jalan raya akibat kecelakaan di tahun lalu,” kata Dirlantas Polda Papua, Kombes Pol Muhammad Nasihin di ruang kerjanya, Selasa (29/3).

    Dengan rata-rata usia korban 16 tahun – 35 tahun ini,  ia menyampaikan bahwa semua kembali ke kesadaran pengguna kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Apalagi dikatakan tidak sedikit yang masih berstatus pelajar, mahasiswa dan pekerja wiraswasta.

   Penyebab awal lainnya kata perwira polisi asal Brebes ini kebanyakan dipicu, karena minuman keras. Baik pengendara motor  maupun pengemudi mobil, ada yang menjalankan kendaraannya dengan kondisi dipengaruhi minuman keras dan terjadilah kecelakaan. “Kami coba menumbuhkan kesadaran berlalu lintas kepatuhan, tapi ketaatan secara permanen, bukan yang instan. Kalau yang instan ini hanya tertib ketika ada sweeping atau razia tapi setelah itu sudah  melanggar lagi,” bebernya.

    Pihak Ditlantas juga menyampaikan bahwa di tahun 2021 lalu tercatat ada 1.028 kasus kecelakaan dengan fatalitas korban meninggal sebanyak 159 orang dan jumlah pelanggar mencapai 18.662 pelanggar.

   “Kami coba menertibkan dengan system E-TLE   ini dan ke depan penegakan hukum tidak kontak langsung melainkan lewat digital dan itu tidak bisa dipungkiri, sebab semua terekam oleh foto maupun video,” tutup Nasihin. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *