Kapolres Kaget Egianus Sudah Pakai Senjata Berat ini 

Jenasah Letda Mar Moh Iqbal dan Pratu Mar Wilson Gere yang gugur setelah kontak tembak di Pos Marinir Perikanan Quari Bawah, Kabupaten Nduga saat tiba di Bandara Timika, Minggu (27/3). Dari kontak tembak ini 10 prajurit terluka dan dua diantaranya gugur. (Kodim 1715/Yahukimo for Cepos)

 

 

JAYAPURA – Dari kontak tembak yang dilakukan Kelompok Separatis Teroris (KST) di Papua pimpinan Egianus Kogeya di Pos Marinir Perikanan Quari Bawah ada sesuatu yang cukup mengagetkan aparat keamanan. Pasalnya pada kontak tembak Sabtu (26/3) kemarin ternyata Egianus telah mengoperasikan senjata GLM.

Senjata ini termasuk kelompok senjata kelas berat yang bisa digunakan untuk melontarkan granat alias grenade launcher. Ini menjadi satu senjata berkualitas yang dimiliki TNI. Diduga Egianus memiliki ini dari rampasan yang dilakukan di Pos Raider 330 sekira tahun 2020 lalu.

Dari data Pindad, GLM memiliki jarak pelontaran dapat mencapai 350 meter dengan kecepatan 75 m/s. Hanya saja untuk mekanisme penembakan dilakukan satu persatu dengan cara pengisian manual. “Itu senjata berat sebab ada granat pelontarnya dan sepertinya kelompok Egianus ini dapat dengan cara merampas pada tahun 2020 lalu,” jelas Kapolres Nduga, AKPB I Komang Budiartha.

Hanya selama ini dikatakan, Egianus Kogeya tidak pernah menggunakan karena tidak bisa mengoperasikan sehingga hampir 2 tahun senjata tersebut hanya dipajang.

Namun setelah salah satu oknum prajurit dari TNI yang disersi bergabung, diduga dialah yang mengajarkan bagaimana mengoperasional GLM.

Kelompok Egianus saat ini terbilang menjadi paling kuat di pegunungan dengan jumlah anggota hampir 30 orang dan menguasai sekira 27 senjata api. Ada sejumlah senjata canggih yang dikuasai kelompok ini, salah satunya GLM itu. “Yang kami tahu mereka juga miliki senjata sniper 2 unit, senjata serbu yang diperkirakan ada 15 unit dan ada juga senjata rakitan,” beber Kapolres Budiartha.

“Dia (Egianus Kogeya) dari dulu sudah punya amunisinya (amunisi GLM) tapi tidak tahu cara menggunakan. Jadi dugaan kami anggota yang disersi dari Keerom dulu inilah yang mengajarkan Egianus. Ia kabur dan memilih bergabung kesana dan Egianus juga menyampaikan bahwa senjata ini akan terus digunakan sampai pelurunya habis,” beber Kapolres.

Terkait senjata GLM itu, satu akademisi Uncen, Marinus Yaung bahkan sempat memposting gambar senjata dua moncong ini di beranda media sosialnya.

“Senjaja GLM pelontar granat ini sudah sampai ke tangan Egianus Kogoya adalah berita paling mengejutkan saya minggu ini,” tulis Yaung terlihat kaget karena senjata yang digunakan lebih canggih dari yang biasa. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *