Nikolaus Kondomo SH. MH Kajati Pertama OAP, Membuktikan Bahwa Orang Papua Juga Bisa

Kepala Kejakaan Tinggi Papua Nikolaus Kondomo SH. MH,bersama Kajari Jayapura Alexander Sinuraya dan Asintel Kejati Papua Aguwani bersama pimpinan redaksi Cenderawasih Pos Lucky Ireuuw dalam program Ngopi Bareng Redaksi Cenderawasih Pos, Kamis (24/3). ( Tim CeposTv For Cepos)

 

JAYAPURA-Program Ngopi Bareng Redaksi Cenderawasih Pos kali ini bersama Orang Asli Papua pertama yang menduduki jabatan sangat bergengsi dalam penegakan hukum di Papua yakni sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, Nikolaus Kondomo SH. MH.

Redaksi Cenderawasih Pos kali mengunjungi langsung keruang kerjanya di Kejaksaan Tinggi Papua yang berada di Distrik Jayapura Utara, Tim Cepos sendiri diterima dengan ramah oleh Kajati Papua yang merupakan anak asli dari Papua bagian selatan ini yakni dari Kabupaten Merauke. Dialog ini dipandu langsung oleh Pimpinan Redaksi Cenderawasih Pos Lucky Ireeuw.

Didalam dialog yang nantinya dapat juga disaksikan di akun Youtube Cepos TV, Kajati Papua mengungkapkan menjadi yang pertama OAP menjadi Kajati menjadi tantangan tersendiri baginya karena mengemban tugas yang sangat berat yakni menjadi panglima hukum di tanah Papua.

“Ini kepercayaan negara untuk saya sebagai panglima hukum di Tanah Papua. Sebagai orang Papua bertugas di Papua sangat berat. Tantangannya kita menghadapi masyarakat kitra sendiri yang nota bene pemahaman hukum sangat sederhana dibeberapa tempat ya,”Ungkapnya.

Namun demikian penegakan hukum tetap harus berjalan dan tidak boleh di diamkan. Adanya temuan intelijen atau laporan masyarakat harus di proses sampai selesai yakni sampai pengadilan dan mendapatkan kekuatan hukum yang tetap.

Setiap proses hukum yang ada menurutnya bukan merusak masa depan orang itu melainkan pembinaan kepada masyarakat. Karena hukum harus ditegakkan dan harus di proses sampai selesai.

“Tidak boleh memilah. Siapa salah harus di proses, kita harus mengayomo sebagai saudara-saudara kita. Harus juga ada sosialisasi tentang hukum ini bukan saja soal korupsi melainkan pidana umum juga harus diberikan pengayoman mana yang benar dimata hukum, mana yang tidak,”tambahnya.

Adapun perjalanan karier Nikolaus Kondomo SH. MH pertama masuk kejaksaan pada tahun 1996 bertugas di Semarang sebagai calon jaksa dan kemudian tes sebagai jaksa dan kemudian dinyatakan lolos.

Adapun perjalanan tugasnya hampir sudah pernah di semua bagian daerah di Indonesia seperti di Bordodadi, Sorong sebagai kasi intel selama 6 tahun. Setelah itu di Balik Papan di Samarinda sebagai Kasidatun, menjadi kasipidsus di Kejari Jayapura dan dilanjutkan menjadi Kajari Fak-fak, menjadi Adpidsus di Kejati Papua, salah satu Kordinator di Kejagung. Menjadi Wakajati di Palu, lalu menjadi Wakajati Papua dan selanjutnya menjadi Kajati Papua sampai saat ini.

Dalam tugasnya selain menyelesaikan banyaknya kasus yang tidak terhitunglagi sepertipersoalan ilegal login, fishing dan korupsi dan tentu kasus hukum pidana umum lainnya. Selain itu dirinya juga banyak mengikuti pelatihan studi banding di dalam dan di luar negeri.

“Dari sekian banyak perkara yang mengingat saya adalah menangani kasus kekerasan dan pas ketemu diluar mereka ingat saya dan mereka berterima kasih. Kenapa karena setiap kasus yang saya pegang selalu saya kasi mereka makan dan juga saya berikanarahan untuk berubah kehidupan mereka. Jika masalah besar itu tidak berkesan lagi lah karena sudah biasa,”bebernya.

Disinggung mengenai kasus korupsi yang ditanganinya dirinya menegaskan jika memang ada niat jahat dalam kasus tersebut dipastikan harus diselesaikan perkaranya sampai pengadilan.

“Dan proses pembinaan harus tetap dilalukan. Harus dilakukan pembinaan yang mendalam. Selain dana kampung, ada bansos dan pengadaan barang juga yang rawan dikorupsi,”bebernya.

Menurutnya selain pemberantasan korupsi pihaknya juga melakukan pembinaan dan pemahaman, seperti Proyek PON yang pihaknya banyak membantu pembimbingan selama berjalan.

Sedangkan mengenai kasus Makar, Ia menilai kasus ini menarik dan harus menanganinya dengan hati-hati karena banyak pihaknya hanya ikut-ikutan dan jika kedapatan masih ada akan tetap di proses sampai selesai dengan harapan tidak diulangi.

Sedangkan mengenai kurangnya OAP di Kejaksaan dirinya mengatakan bahwa tiap tahunnya Kejaksaan mengutamakan orang asli Papua dan sudah menurunkan great nilai keluluasanya. Ia juga mengatakan dalam dua tahun terakhir ada beberapa OAP yang lulus lewat jalur umum.

“Ini membuktikan bahwa kita bisa namun kalahnya kita di Papua, disini belum ada kursus khusus untuk penerimanaan-penerimaan seperti Kejaksaan dan lainnya dan sedangkan diluar Papua itu sebelum mereka seleksi mereka sudah ikut khursus terlebih dahulu,”tambahnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa dulunya penerimaan Kejaksaan diputuskan di daerah namun saat ini semua sudah terintegrasi kepusat. Namun ini sebenarnya juga bukan alasan menurutnya karena orang asli Papua dapat berkompetisi asal benar-benar dan sungguh-sungguh dengan kemauan yang kuat.

“Yang menjadi tantangan kita memang sosialisasi yang kurang karena keterbatasan anggaran dan juga geografis kita sulit, paling yang bisa kita lakukan adalah sosialisasi melalui medai,”katanya.

Dirinya menambahkan dalam penanganan kasus korupsipun pihaknya mengalami keterbatasan dana yakni cuma memiliki dana Rp 250 Juta selama setahun dan inipun dari lidik hingga selesai, namun Ia memastikan bahwa ini bukan alasan untuk tidak menangani kasus korupsi di Papua. Ia memastikan setiap ada temuan dan laporan akan ditindak lanjut.

Nikolaus Kondomo SH. MH berpesan untuk generasi penerus Papua baik yang saat ini di dunia pendidikan yang sedang belajar untuk belajar bersungguh-sungguh mengejar mimpinya atau cita-citanya karena menurutnya kesempatan sangat terbuka dimana banyak beasiswa yang diberikan pemerintah saat ini dan juga kesempatan yang terbuka. Ia mengatakan dimasanya tidak ada kekhususan dan juga beasiswa yang terbuka namun Ia dapat membuktikan bahwa orang Papua juga bisa.

“Untuk adek-adek saya yang masih di dunia pendidikan untuk terus belajar bersungguh-sungguh, jangan mudah percaya orang, jangan mudah percaya hoax, fokus masa depanmu, kita dulu tidak ada beasiswa dan kita lebih sengsara. Sekarang banyak beasiswa gunakan itu dengan baik. Sekolah dan sekolahlah dan hidup ini akan berubah karena kita sendiri bukan orang lain dan kita pasti sukses di Negeri kita,”Pungkasnya.(gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *