Konflik Rusia – Ukraina, Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Aktivitas Mahasiswa asal  Papua di Rusia.

Kapel Gereja Kristen Orthodoks di Kota Tula, Rusia. Insert : Dessy Itaar, mahasiswa Papua yang berkuliah di Rusia. ( foto: Dessy for Cepos)

Dampak Secara Ekonomi Mulai Terasa,  Harga Barang Mulai Naik, Media Sosial Diblokir Pemerintah

Invasi Rusia ke Ukraina sudah berjalan lebih dari tiga pekan, sejak Kamis, 24 Februari 2022. Situasi konflik di lapangan masih belum ada solusi, krisis begitu terasa. Di Rusia, ada sejumlah mahasiswa asal Papua sedang kuliah disana. Bagaimana kondisi mereka dalam situasi konflik di negara tersebut?  Berikut cerita dari Dessy Fredrica Itaar, mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh studi di Rusia, kepada Cenderawasih Pos.

————————-

Saat ini Dessy- sapaan akrabnya- tinggal di kota: Tula, Rusia yang berjarak hanya 2 jam saja dari ibukota negara Rusia Moskow. Kota Tula juga dikenal sebagai salah satu kota pahlawan karena dulu di jaman Uni Soviet, Tula adalah kota terpenting sebagai kota pabrik pembuatan senjata Rusia. Kota Tula juga dikenal dengan kota militer,  sama seperti di kota Magelang, Jawa Tengah.

Dessy saat ini masih berkuliah di Tula State University, universitas terbesar di central Rusia. “ Saya diterima di Institut Humaniora dan Ilmu Sosial, program studi ilmu politik dan specialis di Proses, Politik dan teknologi,” ujarnya.

Ia tiba di Rusia sejak tahun 2019 dan menjalani masa persiapan bahasa Rusia selama kurang lebih 10 bulan dari satu tahun masa persiapan bahasa yang di sediakan oleh pemerintah Rusia, dalam hal ini universitas persiapan bahasa. Saat ini dirinya sudah berada di semester akhir.

Konflik antara Rusia dan Ukrania sangat terasa dampaknya bagi aktivitas masyarakat Indonesia, juga bagi Dessy dan anak-anak Papua lainnya yang saat ini studi di sana.

Sebenarnya, informasi soal konflik Rusia-Ukraina sudah mereka mendengar dan membaca pada awal December 2021. “ Sebelum mengakhiri tahun 2021 kami juga sudah menonton berita di channel Rusia bahwa Presiden Rusia sudah menyampaikan akan menyerang Ukraina di tahun baru 2022 di bulan Januari. Namun baru terlaksana di akhir Februari 2022, “ jelasnya.

Sehari sebelum penyerangan militer Rusia ke Ukraina, presiden Vladimir Putin secara langsung (Live di channel berita terbesar Rusia 24Россия) menyampaikan sejarah masa lalu 2 kota di perbatasan Rusia-Ukraina juga negara Ukraina itu sendiri selama satu jam lebih dan menjadi trending topik no.1.

Setelah penyerangan pertama pagi itu waktu Moskow, situasi di Rusia tidak ada gangguan atau pun kepanikan dari masyarakat. “ Semua berjalan seperti biasa, artinya kami tetap melakukan aktifitas seperti biasa, kuliah pun berjalan seperti biasa, pelaku usaha juga tetap membuka usahanya di jam biasa, aktifitas perkantoran pun normal,” kisah Perempuan asli Post Numbay ini.

Ada demo di dua kota terbesar di Rusia yaitu Moskow dan Saint-Petersburg tetapi demo itu hanya mau meminta tidak boleh terjadi  perang. Ini terlihat dari pesan-pesan dari aksi demo itu “jangan ada perang harus damai”, “ Ukraina adalah saudara kita”

Semua informasi demo itu mereka ikuti di berita di Rusia. Demo itu pun kurang lebih hanya seminggu setelah itu sudah tidak terdengar lagi demo di Rusia.

Seminggu setelah serangan Rusia ke Ukraina, kata Dessy, mereka belum merasakan dampaknya, namun setelah dua minggu belakangan baru mereka mulai merasakan dampaknya dari konflik tersebut, terutama dampak ekonomi. “ Sebagai mahasiswa Indonesia secara khusus mahasiswa Papua yang ada di Rusia secara langsung ikut merasakan dampak tersebut,” kata Dessy.

Memasuki minggu kedua dan ketiga, dampak dari perang ini benar-benar mulai terasa, berbagai kebijakan tertentu mulai diterapkan oleh pemerintah Rusia kepada warga. “  Perkembangan terkini saat ini kami tidak dapat lagi menggunakan visa dan mastercard untuk penarikan uang dan menukarnya ke mata uang Rusia yaitu Rubel. Ini sejak 10 Maret 2022,” kata Dessy.

Masalah menjadi berlipat ganda bagi mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Rusia, karena tepat di tanggal yang sama ( 10 Maret) biaya hidup mereka di kirim oleh pemerintah provinsi Papua dalam hal ini pihak BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) provinsi Papua, tetapi dana mereka tidak bisa diakses lagi menggunakan Kartu ATM Visa maupun master card yang biasa digunakan,

” Kami tidak dapat menarik uang dan menukarnya. Di lain sisi, Pemerintah Federasi Rusia mengeluarkan kebijakan bahwa kami bisa melakukan transaksi dengan menggunakan system pembayaran Rusia “ MIR”. Tetapi karena lambatnya respon dari pihak BPSDM sehingga kami kesulitan saat ini untuk menukarnya dan memindahkannya ke bank Rusia, bagi kami yang mendapatkan kiriman uang lewat Bank Indonesia, “ paparnya.

Bersamaan dengan itu, harga barang di semua kota di Rusia mulai mahal, Diceritakan Dessy, beberapa waktu lalu dirinya mencoba untuk melakukan observasi di beberapa toko dan membandingkan harga awal sebelum serangan dan sesudah serangan naiknya 2 kali lipat dari harga normalnya. Beberapa toko pun mulai memberlakukan konsumen untuk membeli stok bahan makanan tidak lebih dari 5kg per item untuk menjaga agar tidak ada kelangkaan stok makanan selama serangan ini masih berlangsung.

Ditengah krisis tersebut Dessy mengaku secara pribadi dia mendapat berkat tak terduga “ Puji Tuhan, kemarin tanggal 14 Maret 2022, Mahasiswa international salah satunya saya dipanggil oleh universitas untuk menandatangani surat bantuan dari Pemerintah Federasi Rusia selama situasi ini berlangsung. Salah satu bantuannya yang saya dengar langsung adalah berupa kenaikan dana beasiswa dari pemerintah federasi Rusia dalam hal ini yang ditangani langsung oleh Tula State University,” ujarnya.

Dengan bantuan tersebut, setidaknya dana beasiswa ini dapat dirinya gunakan untuk bertahan selama menyelesaikan studi akhir di Rusia.

Meskipun pemerintah Rusia terus melakukan penyerangan terhadap Ukraina, namun di kampus-kampus di Rusia, perkuliahan masih dalam keadaan normal, masih masuk dan tatap muka langsung dengan para dosen. “ Saya sendiri karena sudah di semester akhir jadi sedang melakukan penelitian dan hanya melakukan konsultasi dengan supervisor melalui email,” jelasnya.

Ditanya, apakah dirinya dan anak-anak Papua di Rusia mendapat update perkembangan stuasi secara rutin? Termasuk misalnya apa yang harus dilakukan, apa yang perlu dipersiapkan jika situasi makin memburuk.

Dessy mengaku, mereka selalu mendapat  update perkembangan situasi dari pihak KBRI Moskow melalui instagram resmi KBRI Moskow dan juga dishare langsung melalui masing-masing no. kontak whatsaap mahasiswa Indonesia di Rusia yang tergabung dalam PERMIRA (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia) atau kepada dirinya yang kebetulan selaku ketua IMAPA (Ikatan Mahasiswa Papua). “ Lewat informasi itu juga kami disarankan oleh pihak KBRI untuk selalu memantau berita di channel Rusia dan kurs mata uang Rusia,” jelasnya.

Lalu bagaimana dengan perhatian dari Pemprov Papua kepada mereka sejak konflik Rusia-Ukraina pecah? Dikatakan, dari Pemerintah Papua secara khusus dari BPSDM tidak ada komunikasi sama sekali untuk mengecek keadaan mereka. Setelah hampir dua minggu setelah serangan Rusia-Ukraina baru pihak BPSDM mengatakan lewat berita online kalau keadaan mahasiswa Papua di Rusia aman.

“ Berita ini pun menjadi kontra dengan keadaan kami yang sebenarnya yaitu sejak serangan Rusia-Ukraina pecah, biaya hidup kami susah karena kami masih menunggu biaya hidup kami. Biaya hidup baru di kirimkan pada tanggal 10 Maret yang lalu tapi itupun belum semua mendapatkan kiriman. Bagi kami itu sudah sangat terlambat karena kami tidak dapat menariknya dan menukarkannya. Saat ini kami sedang mencari solusi untuk menukarkan uang kami. Hal ini sangat penting karena kami harus membeli bahan makanan untuk bertahan selama konflik ini masih berlangsung, “ urai Dessy Itaar.

Meskipun demikian kondisi yang dialami, namun sesama anak-anak Papua yang ada di Rusia selalu saling berkomunikasi. “ Sejauh ini komunikasi antar sesama mahasiswa Papua di Rusia masih sangat lancar begitu juga dengan keluarga kami masing-masing,” terangnya.

Pemerintah Federasi Rusia juga mulai membatasi penggunaan media social oleh kalangan masyarakat. Media social seperti Facebook, Instagram dan yang sedang mau ditutup juga adalan whatsapp. Hal ini di karenakan, banyak berita-berita tidak benar tentang penyerangan Rusia ke Ukraina dan juga berita-berita lainnya mengenai negara Rusia itu sendiri. “ Internet dalam beberapa hari ini pun mulai di perlambat di jam-jam tertentu,” ujarnya.

Sejak tiba di Rusia tahun 2019, mereka berjumlah 25 orang tapi seiring perjalanan study ada yang harus dipulangkan karena sakit 2 orang 2019 (S1) setelah itu ada juga yang bermasalah dengan universitas dan harus di keluarkan di tahun 2020 (S2) dan juga ada yang kembali ke Papua dan belum kembali lagi ke Rusia sebanyak 3 orang. “Total kami yang datang di tahun 2019 saat ini yang masih kuliah di Rusia berjumlah 19 orang. Jumlah ini bertambah lagi di tahun 2022 di bulan Januari dimana Papua Language Institute (PLI) mengirimkan anak-anak yang dibina di PLI berjumlah 28 orang.

 

Setelah tanggal 14 Maret internet di Rusia sudah mulai diperlambat, kadang tidak dapat konek ke laptop jadi agak kesulitan juga kalau lagi cari data untuk penelitian atau membuka email (google).

 

Selama konflik perang Rusia-Ukraina, di Rusia sendiri belum ada

Jam malam. Masyarakat masih bisa beraktivitas masih normal,  Hanya saja kurang lebih seminggu setelah serangan tersebut ada petugas kepolisian yang melakukan patroli dan memeriksa beberapa dokumen milik mahasiswa international di dekat universitas.

“ Di Asrama sendiri tempat tinggal saya sejak saya tiba di kota ini memang ada peraturan bahwa kami harus pulang ke asrama sebelum jam 10 malam dan di hari libur bisa sampai di jam 12 malam dan kita tidak ada peraturan tambahan setelah serangan tersebut,” terangnya.

“Kita tetap bebas keluar dan berbelanja seperti hari-hari sebelumnya, begitu juga dengan aktifitas di kampus tidak ada yang berubah setelah serangan,” tambahnya lagi.

Demiikian juga untuk transporttasi di darat, tidak ada masalah berarti.

Mereka masih bisa bebas melakukan perjalanan menggunakan bus, kereta maupun pesawat tetapi hanya di dalam Rusia. Melakukan perjalanan keluar dari Rusia yang masih di perketat. “ Kami hanya di larang melakukan perjalanan ke daerah perbatasan yang sedang konflik,” jelasnya.

Perhatian dari KBRI seperti apa ke Dessy mereka dan warga Indonesia disana

Dessy mengatakan, sejauh ini yang dilakukan oleh KBRI adalah mengupdate informasi situasi Rusia dan juga melakukan pertemuan terbatas pada 4 Maret yang lalu untuk menjawab keresahan mahasiswa Indonesia dan warga Indonesia di Rusia. Keresahan seperti evakuasi mandiri apakah akan difasilitasi oleh KBRI, jawaban dari pihak KBRI adalah jika mau melakukan evakuasi mandiri di persilahkan tetapi KBRI tidak memfasilitasinya. Ada beberapa maskapai yang masih beroperasi yaitu Turkhis Airlines , Emirates , Qatar Airways dan Aeroflot .  Keresahan mahasiswa Indonesia tentang pengaruh konflik terhadap ijazah lulusan dari Rusia. Dari pihak KBRI menjawab bahwa tidak perlu kuatir bahwa di setiap negara ada pengakuan yang sama,seperti Mutual Recognition. Di Indonesia akan diakui jika sudah melakukan penyetaraan/legalisasi terlebih dahulu. Tidak ada indikasi untuk ijazah tidak diakui karena konflik.

Keresahan yang berikutnya menyangkut, jika kondisi semakin memburuk di Rusia bagaimana dengan proses evakuasi (seperti rute dan titik kumpul). Pihak KBRI menjawab bahwa mereka belum dapat menyampaikan secara pasti mengenai proses evakuasi namun dari pihak Atase Pertahanan sudah memiliki contingency plan jika nanti kondisi semakin memburuk dan akan diberitahukan langsung oleh KBRI jika ada eskalasi.

Perhatian dari pemprov Papua bagaimana? Apakah ada yang cek kondisi Dessy mereka disana sejak Konflik pecah? Kata Dessy, mereka hanya mendapatkan perhatian ketika kami menanyakan biaya hidup kami yang sudah sangat terlambat di kirim. Itupun setelah dua minggu konflik pecah antara Rusia dan Ukraina. “ Beberapa adik-adik disini juga biaya kuliahnya belum di respon padahal saya selaku ketua IMAPA sudah mengirimkan perkembangan terkini kami dan katanya sudah di respon dari pihak BPSDM tetapi yang di respon hanya biaya hidup sedangkan biaya kuliah dan biaya penelitian kami tidak di respon hingga saat ini,” ujarnya.

Dengan situasi Konflik dan perang di Negara tersebut, sebagai masyarakat di luar dari Rusia harus lebih bijaksana lagi dalam menonton dan menyebarkan berita tentang negara Rusia itu sendiri. Banyak berita yang tidak benar beredar apalagi soal negara Rusia itu sendiri jika mau dikaitkan situasi seperti ini.  Bagi Dessy sendiri negara Rusia adalah negara yang hebat yang mampu bertahan di tengah banyaknya sanksi yang diberikan oleh dunia. “ Saya berharap perekonomian di dalam Rusia kembali normal sehingga harga bahan makanan pun kembali membaik. Terakhir, kita harus bijak dalam melihat konflik ini,” jelasnya.

“kenapa Rusia harus diberikan banyak sanksi”? Itu agak aneh bagi dirinya yang sementara kuliah di Rusia dan yang pernah belajar sejarah dan budaya orang Rusia. “ Sebagai anak asli Papua, secara pribadi saya mau bilang bahwa situasi di perbatasan Rusia sama halnya dengan Papua saat ini dan harapan saya kiranya perdamaian itu tercipta. Terima kasih,” ujarnya . (lucky Ireeuw).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *