Lava Bantal Abepantai Menarik Digarap Jadi Geowisata

Lokasi lava bantal yang berada di Abe Pantai persis di pinggir poros jalan utama yang bisa dilihat secara jelas saat difoto Sabtu (19/3). Lava Bantal merupakan lokasi yang bisa digarap menjadi objek wisata Geowisata namun perlu diproteksi lebih dulu. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Abe Pantai Distrik Abepura ternyata tak hanya memiliki spot wisata Gunung Srobu yang menjadi sejarah peradaban manusia di kawasan Mamberamo Tabi tetapi sebuah spot lain kembali ditemukan.

Meski sudah lama terlihat namun baru kali ini dipublish. Ini setelah tim dari Jurusan Geologi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura melakukan pendataan lokasi terkait lava bantal.

Lokasi lava bantal di Abe Pantai ini menjadi menarik karena sedikit berbeda dengan lokasi  lain di Indonesia. Bentuknya juga lebih bagus dibanding yang lain karena ukurannya jauh lebih besar.

Keberadaan lava bantal ini ketahuan setelah di sekitar lokasi pernah dilakukan galian atau pembongkaran. Sebelumnya lokasi yang berada di pinggir jalan ini dulunya adalah bukit namun karena ada pembongkaran akhirnya bebatuan tersebut terlihat.

Akademisi menyarankan untuk lokasi temuan lava bantal ini dijadikan spot geowisata atau geoheritage. Sifatnya juga urgent mengingat di sekitar lokasi sempat dilakukan penambangan atau galian C.

“Ini satu temuan baru juga sebab selama ini  kami juga baru tahu jika ada lava bantal di Jayapura dan lokasinya sangat dekat dan lebih menarik dibanding lava bantal di lokasi lain khususnya di daerah  Jawa,” kata Rahmat Indrajati, Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Uncen kepada Cenderawasih Pos pekan kemarin

Lava bantal bentuknya tumpukan bebatuan dengan berbagai ukuran dan kebanyakan berbentuk bundar. Lava bantal terjadi bisa karena kejadian tertentu di alam, misalnya gunung meletus maupun gempa bumi. Namun umumnya lava bantal ini terjadi karena meletusnya gunung merapi bawah laut dan laharnya beku kemudian berbentuk seperti bantal.

Indra menyampaikan bahwa lokasi lava bantal bisa menjadi sarana edukasi bahwa dulu di sekitar lokasi ini adalah daerah vulkanik yang berada di dasar laut.

Bisa juga untuk objek wisata karena bentuknya yang menarik dan tidak perlu repot menyelam untuk bisa melihat bentuk bebatuan seperti itu, karena sudah berada di permukaan.

Selain itu, tempat ini juga bisa menjadi bahan penelitian soal daerah yang dulunya pernah jadi daerah vulkanik. “Mungkin saja ada korelasi dengan cebakan mineral atau panas bumi di tempat lain,” sambung Indra.

Untuk di Indonesia ternyata tidak semua punya spot ini karena memang jarang ada. Bahkan di Jawa jika ingin melihat harus ke Karangsambung, Jawa Tengah namun itupun tidak sebesar di Abepantai. Ada juga di Bukit Klagon Merapu maupun di Parangkusumo.

Namun setelah mengunjungi lokasi tersebut, Indra menyampaikan bahwa ada  ancaman lain yang bila tak diproteksi maka lokasi ini bisa saja hilang mengingat di sekitar lokasi ada aktivitas galian.

“Iya ada galian dan lokasi lava bantal kalau menurut kami dulu tidak terlihat karena masih berbentuk bukit. Bisa jadi  aktivitas galian ini dipindahkan karena   memang lava bantal termasuk bebatuan yang sulit dibongkar. Lava ini merupakan produk gunung api  namun kami belum tahu umurnya,” jelas Indra.

Disinggung soal keberadaan gurung api, menurut Indra untuk saat ini tak ada gunung  api di sekitarnya,  karena sudah tidak ada lagi bentuk kerucut gunung api di sekitar  lokasi.

Jadi temuan ini secara akademik merupakan singkapan berupa tubuh batuan beku basaltic dengan struktur lava bantal berwarna abu – abu afanitik atau kristalin halus. Pada beberapa bagian dijumpai lapisan  rijang (pelagic sedimen kaya silica) yang bisa dijadikan sebagai penanda bagian atas  dari endaman erupsi gunung api  bawah laut. Lava bantal sendiri bisa menjadi ciri bagian sentral hingga bagian medial dari fasies gunung api.

“Tapi kalau dari referensi  gabungan dari gunung api dan batuan di sekitarnya bisa disebutkan berumur sekitar 16-57 juta tahun yang lalu. Tapi umur ini juga relatif, sebab kami masih menjadi data dan referensi konkrit referensi terkait usia lava ini sendiri,” bebernya.

Iapun merekomendasikan bahwa karena posisinya ada dan dekat dengan area tambang batuan maka lokasi ini sebaiknya dijadikan kawasan lindung geologi karena memiliki keunikan. Selain itu jika di daerah lain, spot-spot ini  biasa dilestarikan oleh pemerintah setempat. “Saran kami sebaiknya lokasi ini diproteksi sebelum akhirnya hilang,” tutup Indra. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *