Gara-gara Ganja, Dua Remaja Gangguan Jiwa

dr Manoe Bernd Paul. SpKJ.(K)AR. MKes

JAYAPURA-Bagi para remaja, nampaknya harus menjauhi penyalahgunaan narkoba. Pasalnya, dua dari tiga pasien anak dan remaja yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Abepura umumnya lantaran gejala psikotik atau gangguan jiwa berat yang berhubungan dengan penyalahgunaan ganja, alkohol maupun lem aibon.

  Dokter psikiater Fungsional RSJ Abepura Konsultan psikiatri anak dan remaja dr Manoe Bernd Paul. SpKJ.(K)AR. MKes menuturkan, 2 dari 3 pasien yang menjalani perawatan di bansal anak dan remaja hampir 75 persen masuk karena gejala psikotik atau gangguan jiwa berat terkait penyalahgunaan zat seperti ganja, alkohol dan lem aibon.

  “Psikotik ini biasanya tidak tunggal, dia terkena psikotik lantaran menggunakan zat yang lain termasuk lem, alkohol. Sebagaimana yang paling mudah didapatkan adalah lem dan ganja,” terang dr Manoe kepada Cenderawasih Pos, Senin (14/3).

  Dijelaskan, dampak dari menggunakan lem aibon, alkohol ataupun ganja maka yang terjadi adalah gangguan keseimbangan kimiawi di otak. Terutama pada bagian logus frontalis atau bagian areal otak depan. Sebagaimana diketahui, otak depan pada masa anak dan remaja masih dalam proses perkembangan dan belum matang.

  Saat perkembangan otaknya belum matang, namun sudah mengalami kerusakan karena penggunaan ganja maupun alkohol, akibatnya anak dan remaja tersebut tidak mampu dalam mengambil keputusan dengan baik. Sehingga tidak mampu menilai mana baik dan buruk.

  “Masa usia anak dan remaja itu adalah usia yang cukup krusial, cukup penting dalam fase perkembangan setiap manusia. Pada fase itu kalau misalnya tidak dijalani dengan baik, maka akan terjadi hal-hal penyalahgunaan ganja dan lainnya,” tuturnya

  dr Manoe menjelaskan, seseorang dalam menjalani fase anak dan remaja. Sangat perlu dukungan dari lingkungan, terutama orang tua dan teman sebaya. Bagaimana peran orang tua dalam mengawasi, membimbing dan memberikan arahan serta contoh yang positif kepada anaknya. Jika dia sebagai pengguna, maka bagaimana cara orang tua agar menghentikan seluruh penggunaan zat zat tersebut.

  “Jika dia sebagai pengguna ganja, atau mengkonsumsi ganja dan menghirup lem aibon. Keluarga harus benar-benar mendukung si anak untuk sembuh, selain itu individu harus berlatih untuk menggunakan cara cara pemecahan masalah yang baik,” terangnya.

  Dijelaskannya, Lem aibon ataupun ganja yang dihirup akan menganggu fungsi kerja otak. Ini bisa berlanjut pada tindakan-tindakan yang membahayakan yang mungkin agresif kepada orang lain.

  Lantas bagaimana cara penyembuhannya? dr Manoe menuturkan, pengobatan atau terapi berlangsung untuk jangka waktu yang sangat lama, masing-masing individu penanganannya  akan berbeda. Ada yang hanya butuh waktu 1 hingga 2 tahun, namun ada juga yang butuh waktu hingga seumur hidup, tergantung seberapa berat yang dialami pasien tersebut.

  “Sering kali penggunaan ganja, lem atau alkohol karena anak dan remaja tidak memiliki cara yang baik untuk memecahkan masalahnya. Sehingga si anak tersebut kebingungan saat menghadapi masalah dan tidak mampu mendapatkan arahan yang positif dari lingkungan dan keluarganya, akhirnya dia mencoba-coba dan mengambil salah satu jalan keluarnya dengan penyalahgunaan ganja, alkohol atau lem aibon,” jelasnya.

  Lanjutnya, pengobatannya dengan pemberian obat, psikoterapi, psikoterapi keluarga. Namun yang paling penting butuh dukungan lingkungan dan peran serta keluarganya.“Begitu berbahayanya penyalahgunaan lem aibon, alkohol dan ganja untuk usia anak anak dan remaja. Bisa berakibat fatal untuk kejiawaan dia, untuk mengobatinya butuh bertahun tahun bahkan seumur hidup,” ungkapnya.

  Ia juga menjelaskan bahwa masa anak adalah masa perkembangan dari otak, di usia 18-19 tahun baru dianggap sebagai kondisi yang matang. Sehingga penting sekali menjaga kesehatan jiwa anak dan remaja secara umum, agar mereka bisa melewati fase anak dan remajanya dengan baik.

  “Jika fase remajanya tidak dijaga dengan baik, akan menjadi suatu individu yang mungkin tidak menjadi individu yang baik pada masa yang akan datang. Secara sumber daya manusianya tidak akan secara optimal, dimungkinkan akan mengalami gangguan konsentrasi sulit mengambil keputusan, menjadi pribadi yang serba ragu, bahkan bisa ke arah tindakan tindakan kriminal bahkan bisa mengalami gangguan jiwa berat pada masa dewasanya,” pungkasnya. (fia/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *