Mahasiswa Persoalkan Pelantikan Ketua STAKPN

Ratusan mahasiswa yang tergabung di dalam aksi demo damai di depan kampus STAKPN Sentani,  Senin (7/3)  kemarin. (Robert Mboik Cepos)

SENTANI– Ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani melakukan aksi demo damai dengan melakukan pemalangan kampus tersebut,  Senin (7/3) kemarin.

Ada dua hal utama yang disoroti mahasiswa sehubungan dengan aksi itu. Pertama terkait dugaan mal administrasi yang dilakukan  oleh Kementerian Agama Republik Indonesia mengenai pelantikan Ketua STAKPN Sentani pada Desember lalu dan terkait adanya indikasi dugaan korupsi dana di kampus tersebut yang dilakukan oleh Ketua  STAKPN, Fredrik Wawer.

Dalam pernyataan sikapnya, penanggung jawab umum aksi itu Onis Wenda mengungkapkan, demo itu dilakukan pihaknya untuk meminta pihak Kementerian Agama RI meninjau kembali SK Pelantikan Ketua STAKPN Sentani periode 2021-2025. Karena pelantikan itu dianggap melanggar aturan.

“Sesuai SK pelantikan yang dikeluarkan Kementerian Agama RI, No SKSK. 052113.6/B.II/2021. Bersifat rahasia mengenai undangan pelantikan sumpah janji jabatan Ketua Perguruan Tinggi Negeri, dimana yang diundang dalam undangan itu Yosep Kambu,”kata Onis Wenda, Senin (7/3).

Namun pada saat di Jakarta, Yosep Kambu justru menerima surat pembatalan pelantikan dirinya sebagai Ketua TAKPN Sentani. Hal ini membuat sebagian mahasiswa marah dan meminta penjelasan dari Kementerian Agama RI.

Bahkan kata Yosep Kambu, usai seleksi itu dia kembali sudah mendapatkan panggilan resmi dari Sekjen Kemenag dan memintanya ke Jakarta untuk mengikuti pelantikan sebagai Ketua STAKPN Sentani. Namun setibanya di Jakarta, Sekjen menyampaikan penundaan pelantikan dan menyampaikan akan meninjau kembali.

“Saya sudah dipanggil untuk dilantik, lalu ditunda dan dasarnya apa. Makanya sekarang kami sedang gugat melalui PTUN Jakarta,” jelasnya.

Sementara itu, Fredrik Wawer menjelaskan, mekanisme pelantikan dirinya sudah sesuai mekanisme. Mulai dari tahap seleksi awal, ujian online hingga pelantikan di Jakarta pada 31 Desember 2021.

Dia mengatakan, berdasarkan informasi dari Dirjen Bimas Kristen, hasil ujian seleksi itu, dia menempati nilai tertinggi dari semua peserta. Sementara Yosep Kambu di peringkat tiga. Namun kata dia, selanjutnya Yosep Kambu dipanggil untuk hadiri pelantikan dan akhirnya dibatalkan.

“Yosep dipanggil bukan untuk dilantik, hanya undangan karena tidak ada SK. Selanjutnya saya ditunjuk untuk menjadi Ketua dan pada 31 Desember saya diundang Sekjen untuk dilantik. Saya sekarang sebagai ketua dan sudah ada SK,”jelasnya. (roy/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *