Warinussy: Suara Presiden Sangat Diperlukan untuk Akhiri Konflik Bersenjata di Papua

Yan C Warinussy

Gustaf Kawer

Kawer: Perang di Papua, Tapi Ingin Jadi Pahlawan  Disana 

  JAYAPURA – Presiden Joko Widodo angkat bicara perihal serangan (agresi) militer Rusia ke Ukraina, Jokowi meminta pertikaian itu segera dihentikan untuk kemaslahatan bersama.
“Stop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia,” kata Jokowi dalam cuitannya di akun Twitter resmi @Jokowi pada akhir Februari lalu.

Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari Yan C Warinussy, memberi hormat dan apresiasi tinggi atas cuitan Presiden Joko Widodo tersebut. Hanya saja, kenapa cuitan seperti itu tidak berlaku saat kontak senjata yang terjadi di Papua.

“Apakah bisa Presiden menyampaikan juga kepada semua pihak yang sedang terus mengangkat senjata di tanah Papua untuk menghentikan konflik bersenjata yang terus menerus mengakibatkan selalu jatuh korban baik di kalangan rakyat sipil Papua yang adalah juga rakyat Indonesia,” kata Yan kepada Cenderawasih Pos, Kamis (3/3)

Lanjut Yan, konflik bersenjata yang terus menerus terjadi serta jatuhnya korban di kalangan anggota keamanan TNI-Polri bahkan kelompok yang dicap separatis yaitu Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau sering dilabeli dengan simbol Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) atau Kelompok Kriminal Separatis Teroris (KKST).

“Seluruh dunia telah “mengutuk” keras serangan militer Rusia terhadap Ukraina beberapa hari lalu jelang akhir Februari 2022. Tapi bagi kita di Indonesia dan di tanah Papua khususnya, hendaknya tidak boleh melupakan bahwa saling serang dan saling membunuh juga sedang terjadi antara sayap militer OPM yang bernama TPN PB dengan aparat TNI dan Polri di Tanah Papua ,” tegasnya.

Terlebih kata Yan, korban selalu berjatuhan dari kedua belah pihak bahkan selalu menyasar rakyat sipil yang sama sekali tidak tergabung dalam posisi kedua kelompok yang bertikai tersebut.

Lanjutnya, konflik di Papua tidak bisa terus menerus dibiarkan dan mesti dihentikan melalui langkah damai berbentuk dialog. LP3BH Manokwari mengingatkan Presiden Joko Widodo agar segera mengambil sikap dan langkah tegas guna menghentikan konflik bersenjata di Tanah Papua.

“Suara Presiden Joko Widodo sangat diperlukan saat ini, bahkan Twitter Presiden juga diharapkan oleh rakyat sipil di Papua, khususnya para korban perang antara aparat TNI dan Polri dengan TPN PB dan atau KKB atau KKSB atau KKST hari ini,” pungkasnya.

  Praktisi Hukum.dan Pemerhati Perdamaian Gustaf R Kawer mengatakan dampak Perang dapat meningkatkan kekacauan, kemiskinan,dan sakit penyakit , “wabah” perang ini ada dimana-mana termasuk paling banyak di negara dunia ketiga seperti Indonesia yang juga menjajar Papua.

Dikatakan sebagai salah satu negara dunia ketika Indonesia  gemar berperang melawan rakyatnya sendiri dan paling banyak dan terlama yang ada di Papua.

  “Perang itu telah ada sejak tahun 1961 (Sejak Trikora dikumandangkan) sampai saat ini (60 Tahun lebih), bukti dari perang masih terjadi di Papua hingga terkini adalah kekacauan masih terjadi di Puncak Jaya, Intan Jaya, Nduga, dan hampir merata di beberapa daerah di pegunungan,termasuk  yang terjadi di Maybrat, Papua Barat,” katanya kepada Cenderawasih Pos, di Kotaraja, Rabu, (02/3).

   Dikatakan Gustaf yang juga berprofesi sebagai  Pengacara Papua itu bahwa kemiskininan di Papua juga mencapai angka tertinggi di republik ini, begitu juga penduduknya tingkat kesehatannya sangat rendah, yang paling memprihatinkan situasi ini dialami oleh pengungsi-pengungsi dibeberapa daerah konflik yang angkanya mencapai kurang lebih 60.000 orang.

 “Perhatian kita kini di Perang antara Rusia VS Ukraina, Indonesia menurut wacana di beberapa media ingin tampil sebagai negara yang berperan mendukung perdamaian dunia dengan berinisiatif menjadi media “mediator” bagi perang ini, Pemerintah Indonesia ingin menunjukan kepada negara lain sebagai pihak yang mempunyai andil untuk menciptakan perdamaian dunia,” katanya.

  Lanjutnya saat ramai perhatian dunia untuk perang Rusia VS Ukraina, ratusan prajurit TNI dari beberapa daerah di Indonesia dikirim ke perbatasan Papua dan Papua New Guinea dan beberapa daerah di pegunungan, ditambah pasukan organik dan non organik maka telah ada puluhan ribu pasukan yang ada di Papua.

  “Jika negara ini ingin tampil menciptakan perdamaian dunia, seharusnya yg ditunjukan didaerah ini bukan mengirim puluhan ribu pasukan, tetapi cukup mengirim puluhan atau ratusan dokter dan tenaga pendidikan di daerah konflik untuk menjawab problem kesehatan dan pendidikan yang tentunya berdampak bagi peningkatan pembangunan dan kesejahteraan di Papua,” katanya.

  Bahkan ia menabahkan  negara ini gemar dengan sinetron yang mematikan akal sehat ketimbang objektif sengan persoalan.” Perang di sini tapi ingin jadi pahlawan di sana,” katanya, (fia/oel).

  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *