Rekonstruksi Pasca Bencana Harus Dilakukan dari Hulu

Salah satu jalur air yang ada di kawasan Pemukiman Sosial Sentani yang belakangan ini menjadi pemicu utama terjadinya banjir di Jalan Utama Kota Sentani,  Kamis (3/3). (Robert Mboik Cepos)

SENTANI– Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 275 Miliar untuk melakukan kegiatan rehabilitasi pasca bencana yang terjadi di Kabupaten Jayapura pada tahun 2019 lalu.

Sehubungan dengan itu,  Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui BNPB telah melaksanakan sejumlah program kegiatan untuk merehabilitasi sejumlah kawasan yang menjadi dampak dari bencana banjir bandang pada Maret 2019 itu.

Meski begitu,  belum semua kawasan yang terkena dampak dari bencana itu sudah dilakukan rekonstruksi.  Dari pengamatan Cenderawasih Pos di kawasan belakang pemukiman sosial,  masih ada daerah aliran sungai atau kali mati  yang belakangan masih menjadi penyuplai air pada saat hujan, sehingga berdampak pada terjadinya genangan air yang cukup tinggi di sekitar Jalan Utama Kota Sentani tepatnya di depan 751 sampai di SMP Negeri 2 Sentani.

Oleh karena itu masyarakat meminta kepada pemerintah agar rekonstruksi dilakukan tidak saja di bagian hilir tetapi juga di bagian hulu. Misalnya merekonstruksi beberapa daerah aliran sungai musiman atau kali mati yang masih menjadi ancaman serius terjadinya bencana banjir di wilayah Kota Sentani .

“Tepat di bawah kawasan Cycloop masih ada beberapa sungai kecil yang muncul saat bencana banjir pada Maret 2019. Itu perlu dilakukan rekonstruksi, jadi jangan hanya dibagian hilir saja, harus dari hulu,” ungkap Mathen Iwak seorang warga yang tinggal di kawasan tersebut kepada wartawan di Sentani,  Kamis (3/3).

Belakangan ini kawasan Kota Sentani, khususnya di Komplek 751 dan Saga Mall dekat SMPN 2 Sentani kerap menjadi langganan banjir. Banjir ini merupakan kiriman dari belakang pemukiman warga.  Air yang selalu mengalir di musim hujan dan menggenang di jalan utama Kota Sentani itu merupakan bekas sungai purba. Namun karena sebagian besar daerah aliran sungai ini sudah diisi dengan infrastruktur,  maka kemudian yang menjadi pemicu air kiriman itu sulit untuk mengalir di dalam saluran air yang sudah dibangun infrastruktur.

“Jadi di sekitar Saga dan SMPN 2 Sentani sampai dibagian depan yang sudah ada rumah itu, setahu kami dulu ada sungai. Tapi dia hanya mengalir saat musim hujan. Jadi kalau mau atasi persoalan ini tidak bisa ditangani dibagian hilir, mestinya dari atas,” tandasnya.

Bupati Jayapura  Mathius Awoitauw, sebenarnya telah mengkonfirmasi bahwa upaya untuk mengantisipasi terjadinya bencana permanen di Kota Sentani Kabupaten Jayapura itu hanya dengan 1 cara yaitu memindahkan Kota Sentani ke daerah atau kawasan baru di bagian selatan Danau Sentani. Karena ancaman bencana alam di Kota Sentani Kabupaten Jayapura itu merupakan ancaman nyata dan sifatnya permanen yang sewaktu-waktu masih akan terjadi. (roy/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *