Sesuai Simbol Masyarakat Papua 

Prosesi adat Port Numbay mengawali pencanangan pembangunan gedung MRP di lokasi eks kantor Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Rabu  (23/2). (Noel/Cepos)

*Gedung MRP 14 Lantai Mulai Dibangun

JAYAPURA-Gedung Majelis Rakyat Papua (MRP) mulai dibangun di lokasi eks kantor Dinas Perhubungan Provinsi Papua di Jalan Dr. Sam Ratulangi, Distrik Jayapura Utara, Rabu (23/2) kemarin.
Gedung MRP yang akan dibangun 14 lantai tersebut menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman, Provinsi Papua, Gerius One Yoman menyebutkan, gedung MRP ini dibangun sesuai dengan budaya masyarakat asli Papua.
Diakuinya, pembangunan gedung MRP yang baru ini, dibangun dengan setiap simbol suku dan budaya yang ada di Papua sesuai keterwakilan yang ada di MRP.
“Dasar pemikiran pertama, pembangunan gedung Majelis Rakyat Papua keterwakilan suku yang ada di wilayah adat di Provinsi Papua. Ini keterwakilannya semua ada di Majelis Rakyat Papua. Untuk itu, gedung MRP akan dibangun sesuai dengan budaya dan ukiran yang ada di Papua. Karena keterwakilanya semua ada di MRP. Jadi semua sesuai ciri khas adat Papua dan akan megah,” ungkapnya kepada wak media di sela-sela pencanangan pembangunan gedung MRP di lokasi eks kantor Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Rabu  (23/2).
Pembangunan gedung baru MRP ini menurut Gerius Yoman, melibatkan perusahaan yang telah membangun beberapa bangunan yang megah di Indonesia. “Rencananya dibangun 14 lantai. Itu maksimal dan akan ditambah 2 lantai untuk helipad. Jadi lebih tinggi,” tambahnya.
Gerius Yoman mengatakan tempat yang akan dibangun kantor MRP merupakan daerah bersejarah sampai dengan kantor gubernur. Dengan pembangunan ini, tentunya akan memberikan wajah kota yang lebih baik.
“Sebagai wilayah bersejarah akan jadi kota metropolitan maka gedung-gedung yang ada di sini harus tinggi, dan hari ini kami launching,” tuturnya.
Ditambahkan, pembangunan gedung baru MRP ini tidak bisa lepas dari budaya, agama dan pemerintah. Oleh sebab itu, dalam proses pembangunannya hal yang pertama yang harus diperhatikan adalah budaya dan tanah milik masyarakat adat.
“Tuhan telah menaruh budaya dan karakter kita orang asli Papua. Sehingga dalam pembangunan gedung Majelis Rakyat Papua, hal ini tetap akan kami utamakan simbol orang Papua. Jadi bangunan apapun harus kita menghargai budaya yang melekat pada lingkungan itu dan sebagai pondasi Ondoafi Port Numbay  telah memberikan legitimasi agar pembangunan dilakukan di daerah ini. Nantinya bangunannya akan berdiri kokoh dan diresmikan Gubernur Lukas Enembe,” tegasnya.
Yoman menyebutkan untuk peresmian sendiri akan dilakukan 3 bulan sebelum masa berakhirnya jabatan Gubernur Papua Lukas Enembe. “Jadi tiga bulan sebelum masa berakhir Gubernur Enembe sudah harus diresmikan dan kami yakin semua pihak serta masyarakat adat sudah mendukung penuh agar pembangunan ini berjalan sukses,” bebernya.
“Gedung ini jelas akan mengangkat simbol-simbol masyarakat adat yang ada di Provinsi Papua dan ini sebagai bukti bahwa torang bisa yang menjadi motor PON. Itu menjadi ukuran kita bahwa banyak orang menganggap kami tidak bisa, tetapi kami juga membuktikan bahwa kami mampu dengan pembangunan gedung ini  guna mengangkat simbol budaya  dari setiap suku yang ada di Papua,” lanjutnya.
Adapun pemcanangan pembangunan gedung MRP Papua direstui dan diakui oleh masyarakat adat Chaay Saiba Kampung Kayo Pulo dengan ditandai dengan prosesi adat.
Kepala Suku Chaay Saiba Kampung Kayo Pulo,  Ir. Marthen Chaay mengatakan, bangunan ini merupakan salah satu bangunan tertinggi di Provinsi Papua dan Papua Barat.
“Kami bangga dan bersyukur gedung ini bisa dibangun di atas tanah hak ulayat kita. Besar harapan kami lembaga ini sebagai hak kultur bagi kami orang Papua dan bisa menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi masyarat serta mempertahankan adat istiadat dan menghargai masyarakat yang ada di Papua dan Papua Barat. Bukan saja di Jayapura saja tetapi di Provinsi Papua,” ujarnya.
Masyarakat diakuinya sangat mengharapkan itu dan benar-benar terjadi sebagai representatif orang Asli Papua. Ia mengaku bangga karena ada di atas tanah dan hak ulayat mereka.
“Kita tidak akan halangi pembangunan ini dan kita akan selesaikan secara terhormat. Kami masyakat adat akan menyelesaikannya juga secara terhormat dan kami mendukung program pemerintah dan apa yang sudah dilakukan Gubernur Lukas Enembe sudah sangat luar biasa,” tutupnya.
Secara terpisah, Manajer Pelaksanaan Pembangunan PT. PP (Persero), Nurgianto Trisakti menyampaikan rasa Syukur dan terima kasih i  untuk melaksanakan pembangunan gedung MRP. Dimana pihaknya diberi waktu kerja 400 hari sesuai kalender.
“Kontrak ini sudah ditandatangani sejak 19 November 2021 dan targetnya selesai tanggal 23 Desember 2022. Saat ini sudah ada waktu 3 bulan yang sudah berjalan. Walaupun demikian kita tetap berusaha akan menyelesaikan ini cepat waktu. Jadi kami minta dukungan dari pihak adat terutama dan masyarakat Papua untuk mendukung kami dapat melaksanakan pembangunan ini. Targetnya kami bisa selesaikan pekerjaan ini lebih awal dan tepat waktu. Satu bulan sebelum kontrak berakhir dan hasilnya bisa diterima dari pihak proyek maupun kultur tadi MRP dan adat Chaay Saiba Kayo Pulo,” pungkas Nurgianto Trisakti. (oel/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *