Jurnalis Cenderawasih Pos Alami Kekerasan Verbal

Aparat Kepolisian saat melakukan penjagaan di pintu masuk Pengadilan Negeri Jayapura saat sidang perdana pembacaan dakwaan Juru Bicara KNPB Victor Yeimo (VY), Senin (21/2). (Elfira/Cepos)

JAYAPURA – Kekerasan verbal dialami jurnalis Perempuan di Papua berupa pelecehan melalui lisan saat hendak meliput persidangan kasus Rasisme di Pengadilan Negeri ( PN) Jayapura, Senin (21/2) kemarin.
Korban kasus kekesaran ini, Elfira, Jurnalis harian Cenderawasih Pos yang saat itu hendak meliput persidangan. Seperti kronologi yang disampaikan oleh korban, saat itu dirinya akan meliput sidang dakwaan terhadap Juru Bicara KNPB Viktor Yeimo pada Senin (21/2) sekitar pukul 10.05 WIT di PN Jayapura.
Di katakan, saat itu, pintu masuk PN Jayapura dijaga ketat aparat sehingg kendaraan tidak bisa masuk. Elfira yang ditugaskan meliput persidangan ini tiba di Café Prima Garden yang bersebelahan dengan PN Jayapura, memarkirkan kendaraannya kemudian berjalan menuju Pengadilan Negeri Jayapura. Saat itu, dirinya menenteng Kamera hendak masuk ke Kantor PN, tiba-tiba
salah satu dari massa yang duduk di trotoar di luar pengadilan meneriaki dengan ucapan yang sangat jelas “ Sini saya perkosa ko” ( Sini saya Perkosa kamu)
“ Padahal saat itu, saya lewat dengan menenteng kamera liputan dan tidak menganggu massa yang saat itu sedang duduk di salah satu para-para yang tak jauh dari pintu gerbang Pengadilan Negeri Jayapura,” ujarnya .
Teriakan “Sini saya perkosa ko” dari salah satu massa itu disaksikan dan didengarkan oleh beberapa orang diantara mereka. Hanya saja, mereka mendiamkan hal itu tanpa melakukan apa apa.
“ Setelah kejadian itu, saya langsung masuk ke Kantor Pengadilan yang dijaga ketat oleh aparat untuk meliput proses persidangan dengan terdakwa Victor Yeimo di ruang utama Kantor Pengadilan Negeri Jayapura,” terangnya.
Aliansi Jurnalis Independen Jayapura menyesalkan adanya oknum masyarakat yang mengeluarkan kata intimidasi yang terindikasi adanya kekerasan seksual terhadap Wartawan Surat Kabar Cenderawasih Pos bernama Elfira.
AJI Jayapura mengeluarkan sikap terkait aksi intimidasi dan kekerasan verbal yang dialami Elfira.
“ AJI Jayapura meminta masyarakat menghargai tugas jurnalistik oleh insan pers khususnya jurnalis perempuan yang rentan mendapatkan kekerasan.,” ujar ketua AJI Jayapura Lucky Ireeuw dalam press rilisnya menyikapi kasus ini.
AJI Jayapura mengecam masih adanya kata berbau seksual bagi jurnalis perempuan. Hal ini menunjukkan masih adanya stigma kaum perempuan di Tanah Papua sering mendapatkan kekerasan seksual baik verbal maupun non verbal.
AJI Jayapura akan berkomunikasi dengan lembaga Perkumpulan Bantuan Hukum Pers di Tanah Papua untuk menindaklanjuti masalah ini.
Kecaman juga datang dari Forum Jurnalis Papua Indonesia (FJPI) Provinsi Papua meminta kepada LBH Pers, perusahaan media dari korban dan organisasi pers di Papua mendampingi korban pelecehan verbal yang terjadi pada jurnalis Cenderawasih Pos, Elfira Halifa saat meliput sidang perdana pembacaan dakwaan Juru Bicara KNPB, Victor Yeimo (VY) di Pengadilan Negeri Jayapura, Senin (21/2)
Dalam rilisnya bertajuk ‘Stop Kekerasan pada Jurnalis Perempuan di Papua’
Disebutkan, Elfira yang mengalami kejadian itu, sangat kesal dengan pelakuan terhadapnya. “Saya kaget, trauma, marah dan kesal, semua campur aduk. Padahal, saya tidak berbuat apapun kepada dia,” kata Elfira yang mengaku mengetahui pelaku yang meneriakinya, dengan ciri-ciri memakai topi.
Elfira datang ke PN Jayapura karena ditugaskan oleh kantornya untuk meliput sidang perdana VY, Senin (21/2/2022).
“Saya ingin melaporkan kasus ini sampai ke proses hukum, supaya ada efek jera bagi pelaku pelecehan verbal. Semoga polisi bisa mengusut tuntas hal ini,” jelas Elfira.
Anum Siregar, salah satu kuasa hukum VY menyayangkan kejadian tersebut.
“Tindakan tersebut tentu saja itu tidak dibenarkan. Saya sudah teruskan ke teman-teman PH yang komunikasi langsung dengan VY terkait kejadian tersebut,” jelas Anum.
Ketua FJPI Papua, Cornelia Mudumi menjelaskan apa yang dialami Elfira adalah pelecahan verbal harassment atau pelecehan seksual yakni ucapan yang dengan sengaja dimaksudkan untuk melecehkan perempuan. Pelecehan verbal merupakan salah satu bentuk kekerasan.
FJPI Papua mendesak: 1. Hentikan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis perempuan. 2. Mengutuk perbuatan yang melecehkan jurnalis perempuan yang sedang menjalankan tugasnya. “ Pelaku diproses hukum untuk efek jera dan edukasi bagi semua pihak untuk menghormati jurnalis perempuan,” ujarnya.(fia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *