Berat Diongkir,  Migor Satu Harga Belum Bisa Diterapkan

Pedagang di Pasar Youtefa Abepura saat mengatur Migor jualannya. (Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Minyak Goreng (Migor) satu harga  tampaknya sulit diterapkan di seluruh kabupaten/ kota yang ada di Papua. Hal ini dikarenakan dampak dari mahalnya ongkos transportasi ke daerah -daerah khususnya di pegunungan tengah Papua. Karena dalam pendistribusian Migor satu harga sampai di pelabuhan besar saja, sehingga untuk pendistrubusian sampai ke toko dan kios kecil tidak ada.

Oleh karena jika ada ritel modern yang bekerjasama dengan distributor Migor tentu bisa seperti di daerah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan sebagian di Kabupaten Merauke. Hal ini dikatakan PPNS Disperindagkop, UKM, Ketenagakerjaan Kota Jayapura Eko Y Laksono, Jumat (18/2).

Eko mengungkapkan, sejatinya minyak goreng satu harga dari segi keuntungan memang ada di luar Papua karena daerahnya daratan sehingga banyak masyarakat yang menikmati subsidi pemerintah Migor satu harga dan di Papua terkendala ongkos angkut pengiriman yang tinggi.

Diakui, Dasar Migor HET satu harga adalah Permendag nomor 3 Tahun 2022 dan Nomor 6 Tahun 2022, Permendag No 3 tentang mekanisme penyaluran subsidi lewat Badan Pendanaan Perkebunan Kelapa Sawit (BPPKS)  yang dilakukan melalui produsen kelapa sawit minyak goreng baik produk baru dan lama.

Sedangkan di Papua sendiri kendala ongkos transportasi tidak bisa ditanggung BPPKS tidak seperti di Jawa walaupun di Papua sudah ada tol laut tetapi hal ini tidak bisa mengatasinya.  Dan kendala ini sudah dikoordinasikan pusat perhitungan ongkos angkut dari produsen mereka hitung sampai di pelabuhan besar dengan harga Rp 13.000 diterima oleh distributor dengan harapan pas sampai ritel pedagang bisa dijual Rp 14.000.

Tapi distributor juga mau ambil untung sehingga harganya jadikan Rp 13.500 dan pedagang jual Rp14.000. Tapi kalau dikirim ke daerah yang jangkauannya sulit dan tidak bisa.

  “Untuk kendala sendiri memang produsen minyak goreng satu harga berpatokan harga Migor satu harga mudah diterapkan di Jawa karena daerahnya satu daratan tidak dipikirkan di wilayah timur Indonesia seperti Papua yang ada ongkos kirimnya juga lebih tinggi,”katanya

Menurutnya, semua distributor mengeluh karena produsen hanya menghitung ongkos angkut sampai di pelabuhan besar seperti di Biak, Jayapura dan Merauke. Untuk itu jika pedagang ingin bisa mendapatkan untung walaupun dijual Migor satu harga cara membelinya dilakukan di distributor langsung.(dil/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *