Gaungkan Perdamaian Antar Umat

Rombongan KFN Indonesia saat mengunjungi Pura Agung Surya Bhuvana pada Sabtu (12/02). (Ayu/cepos)

KFN Indonesia Adakan Kunjungan Rumah Ibadah Di Kota Jayapura

JAYAPURA – Kaiciid Fellows Network (KFN) Indonesia mengadakan Training dialog antar agama untuk perdamaian, bagi pemimpin muda lintas iman. Terdapat berbagai rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 10 Februai lalu. Salah satunya adalah mengunjungi rumah ibadah, di    Pura Agung Surya Bhuvana Skyland pada Sabtu (12/2).    

   Koordinator program,  Ridwan Al-Makassary menjelaskan bahwa kegiatan kali ini diadakan oleh satu organisasi alumni program Kaiciid internasional dan tingkat Asia dari Indonesia. “Kaiciid yaitu satu pusat center yang berpusat di Austria atau Vienna. Jadi saat ini ada sekitar 30 alumni dari Indonesia yang telah mengikuti program Kaiciid internasional maupun tingkat Asia yang fokusnya dialog antar agama dan antar budaya,” ujarnya.

    Ridwan mengatakan kegiatan kali ini diikuti oleh semua komunitas pemuda lintas agama dari berbagai daerah. “Kita undang untuk mengikuti acara ini, di Jayapura ada yang datang dari Sentani dan dari keerom. Karena kita hanya memfokuskan dulu Jayapura dan sekitarnya. Ini hanya kegiatan pertama. Nanti kami dari KFN indonesia mungkin akan melakukan mentoring kepada alumni dan juga mungkin akan ada kegiatan lain kedepan,” Ujarnya.

   Kegiatan selama 3 hari tersebut diharapkan dapat membentuk duta perdamaian hingga tingkat nasional. “Tiga hari kita adakan di sini. Kita harapkan antar pemuda ada perjumpaan komunikasi, sehingga mereka bisa diharapkan menjadi duta duta perdamaian terutama di lingkungan masing masing syukur syukur mereka bisa bermain di level provinsi bahkan di tingkat nasional.” Ujarnya.

   Dirinya menyampaikan, alasan memilih Papua sebagai pusat kegiatan karena menjadi lokasi yang rawan isu antar agama. Hal tersebut menjadi penting melihat rawannya gesekan yang ditimbulkan dengan dalih agama. “Kita melihat pertama konteks Papua ini cukup rawan dengan isu-isu yang bisa dimainkan untuk gesekan ataupun konflik antar agama,” Ujarnya.

  Ridwan mencontohkan gesekan tersebut terjadi seperti pada tahun 2015 insiden Tolikara, kemudian tahun 2016 kontroversi pembangunan perluasan masjid di Jayawijaya. Dan isu lainnya yang memicu terjadinya konflik. “Ada kontroversi pembangunan menara masjid di Sentani, dan juga ada kelompok tertentu Kristen yang menginginkan Manokwari sebagai kota injil yang bisa dianggap eksklusif yang mengunderestimate atau mengeksklusi kelompok komunitas agama yang lain,” Ujarnya.

   Dari hal tersebut, dirinya bersama KAICIID mencoba mengembangkan program di Papua agar tidak terjadi konflik antar agama lagi. “Jadi itu kita coba mengembangkan sebuah program yang diberi nama KFN indonesia untuk papua tanah damai. Maka kita buat beberapa rangkaian kegiatan yang pertama adalah training dialog antar agama untuk perdamaian bagi pemuda lintas iman, yang didalamnya menyediakan pemahaman atau pengetahuan tentang apa itu dialog antar agama dan apa itu konflik dan perdamaian,” ujarnya. (rhy/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *