Aktivitas Perekonomian Turun Bukan Hanya Karena Covid-19

Suasana di Pasar Sentral Hamadi jelang pergantian malam tahun baru 2021-2022, Jumat (31/12) lalu. (Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Awal tahun 2022, aktivitas perekonomian di Kota Jayapura menurun. Turunnya aktivitas perekonomian ini bukan hanya disebabkan meningkatnya kembali kasus Covid-19 di Kota Jayapura.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Provinsi Papua, Harris Manuputty menyebutkan, masih lesunya aktivitas perekonomian di awal tahun ini, bukan hanya karena adanya peningkatan kasus Covid-19 yang membuat Pemkot Jayapura kembali mengambil kebijakan melakukan pembatasan aktivitas masyarakat dan perekonomian.

“Pandemi sudah berjalan dua tahun dan aturan-aturan pemerintah yang dikeluarkan melalui instruksi wali kota juga sama dengan sebelum sebelumnya. Jadi lesunya perekonomian di awal tahun ini bukan hanya karena Covid,” jelas  Harris Manuputty kepada Cenderawasih Pos, Jumat (11/2).

Harris Manuputty menyebutkan, menurunnya pergerakan ekonomi saat ini tidak terlepas dari kegiatan pemerintahan belum berjalan maksimal sehingga perputaran uang untuk perekonomian juga belum berjalan maksimal. Kondisi ini diakuinya sering terjadi di awal tahun.

Penyebab lainnya menurut  Harris Manuputty, banjir yang terjadi di Kota Jayapura pada Januari lalu. Banyak warga yang mengalami kerugian harta benda akibat banjir pada bulan Januari, diyakini berpengaruh dengan kondisi keuangan warga.

“Penyebab lainnya, yaitu anak-anak baru masuk sekolah lagi sehingga keuangan masyarakat cukup terkuras dan akhirnya warga lebih banyak berbelanja sesuai kebutuhan saja. Hal itulah yang menyebabkan perekonomian memang turun di Kota Jayapura,” tuturnya.

Harris yang juga GM Saga Ritel Group Jayapura mengakui, saat ini masyarakat mengeluarkan uang hanya untuk berbelanja kebutuhan mendasar seperti membeli kebutuhan pokok dan kebutuhan anak. Namun untuk membeli kebutuhan lain fashion, tas sepatu, sandal, barang elektronik belum maksimal. “Untuk menyikapi supaya minat masyarakat masih tetap berbelanja di ritel modern, rata-rata pusat perbelenjaan menghadirkan promo menarik,” tutupnya.

Secara terpisah, Ketua Umum BPD Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Papua, Syahrir Hasan, SE., mengakui pandemi Covid-19 mengakibatkan perekonomian menurun dan ini dirasakan khususnya di perhotelan. Karena tidak banyak kegiatan yang dilakukan di perhotelan oleh pemerintah, perusahaan termasuk tamu yang menginap di hotel.

“Okupansi perhotelan semenjak ada Corona memang turun. Karena tidak banyak pemerintah membuat kegiatn di hotel, akibatnya okupansi hanya 30-40 persen. Saat kasus Covid-19 sempat turun, memang ini berdampak pada peningkatan okupansi,”ucapnya.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua dan Papua Barat, Adolf F.T Simanjuntak mengatakan untuk memastikan ada tidaknya pengaruh peningkatan kasus Covid-19 di Kota Jayapura terhadap perekonomian, harus ada data dari perbankan. (dil/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *