Petugas Satgas Covid-19 menggunakan mini excavator menggali salah satu liang kubur untuk pemakaman salah satu pasien Covid-19 yang meninggal dunia di Pemakaman covid, Buper Waena. Kamis (10/2) kemarin. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Aktifnya penyebaran Covid-19 varian Omicron bukan isapan jempol. Banyak tempat kerja yang setelah dilakukan pemeriksaan ternyata banyak yang dinyatakan positif Covid.

Kapal penumpang yang beberapa kali masuk ke Jayapura juga ditemukan puluhan orang positif covid. Satu persatu mulai tumbang dan pemakaman covid 19 di Buper Waena yang sempat absen beberapa bulan kini mulai aktif kembali. Itu tak lepas dari pasien Covid yang akhirnya meninggal dan dimakamkan di sana.

Tercatat dalam sepekan terakhir sudah ada empat pasien yang dimakamkan dimana total keseluruhan yang meninggal hingga Kamis (10/2) sore  kemarin sudah tujuh orang.

Varian Omicron sendiri di Jayapura disebutkan sudah  dirasakan oleh 33 orang dan jika dilakukan tracing maka sangat memungkinkan jumlah pasien terpapar akan lebih banyak. “Hingga tadi siang (kemarin) sudah tiga orang yang dimakamkan di pemakaman Covid di Buper dan sepertinya akan bertambah jika melihat laporan – laporan dari rumah sakit,” kata Yamamoto Sasarari, salah satu anggota Satgas Covid-19  Provinsi Papua saat ditemui di lokasi pemakaman Buper Waena, Kamis  kemarin.

Mirisnya meski penyampaian Wakil Satgas Covid Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM.,  bahwa kebanyakan yang meninggal adalah  pasien  lanjut usia yang belum melakukan vaksin.

Namun pada Rabu (9/2) lalu tercatat ada pasien berusia 21 tahun yang juga meninggal karena Covid. “Yang jelas sekarang teman – teman sudah mulai aktif lagi di lokasi pemakaman ini, tadi saja kami baru selesai memakamkan satu orang,” beber Yamamoto.

Hanya sayangnya pada proses pemakaman sebelumnya para relawan ini  tidak semua menggunakan APD. Hanya menggunakan sarung tangan.

Untungnya pada pemakaman Kamis (10/2) kemarin petugas relawan sudah dilengkapi dengan APD. Ini menjadi catatan salah satu pegiat sosial Kota Jayapura yang menyoroti bahwa sejatinya Jayapura bukan pertama kali mendapatkan hantaman gelombang Covid sehingga seharusnya sudah  mempersiapkan semuanya.

“Yang begini-begini (kekurangan APD) seharusnya tidak lagi terjadi. Sebab kita sudah belajar 2 tahun terakhir. Menurut saya relawan pemakaman ini harus diperhatikan sebab mereka juga bekerja penuh risiko. Kita tidak sedang dalam masa awal seperti dulu yang kehabisan stok masker, stok hand sanitizer maupun stok minyak kayu putih,” singgungnya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *