Pelaku Calo Terbilang Nekat

Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota, AKP Handry Bawiling ketika mengecek barang bukti motor bodong yang dibawa pelaku BR usai diamankan, Selasa (8/2). (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Penyidik Polresta Jayapura Kota akhirnya mengambil alih penanganan kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh seorang pemuda berinisial BR (23). Disini penyidik mencari tahu soal apakah pelaku dalam menjalankan aksinya bermain sendiri atau ada pihak lain yang terlibat.
Tak hanya itu, barang bukti lain yakni motor pelaku juga ditandai karena tak memiliki surat-surat. Polisi menduga motor ini juga motor bermasalah alias motor yang diperoleh dari cara yang tidak benar.
“Kasusnya sudah kami tangani dan saat ini Satreskrim sudah lakukan penyidikan terutama motor yang dibawa pelaku karena tak memiliki surat-surat,” kata Kasat Reskrim Polrest Jayapura Kota, AKP. Handry Bawiling menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos usai pelimpahan Selasa (8/2).
Saat ini dikatakan pelaku bisa dijerat dengan pasal 378 KUHP karena ada unsur penipuan dengan ancaman hukuman 4 tahun. Disinggung soal pola yang dilakukan apakah melakukan aksinya sendiri atau ada kerja sama pihak lain, Handry Bawiling menyebtukan hingga kemarin pihaknya masih mendapati keterangan jika pelaku bermain sendiri.
Ia juga kaget karena pelaku berani mematok nominal yang diminta ke korban dengan harga fantastis yakni Rp 200 juta dan kemudian turun menjadi Rp 80. BR sendiri bisa dibilang nekat karena tidak mengetahui banyak soal penerimaan ini namun berani melakukan upaya penipuan.
“Yang kami tahu ia sudah mengikuti korban dari Nabire, entah apakah satu kapal atau seperti apa dan yang masih kami cari tahu adalah mengapa ia bisa berkomunikasi dengan korban. Bagaimana ia bisa mendapati nomor korban termasuk mengetahui jika para korban ini akan mengikuti tes prajurit di Lantamal X,” tambahnya.
Handry Bawiling mengingatkan publik untuk tidak memercayai oknum yang tidak bertanggung jawab apalagi jika hanya melakukan komunikasi via handphone. Kalaupun memang membutuhkan informasi maka disarankan untuk datang langsung mencari informasi dari sumbernya.
“Ada markas Lantamal, ada Mapolda Papua, ada Polresta. Jadi kalau butuh penerimaan semisal Bintara Polda bisa menanyakan di Polda atau Polresta. Begitu juga dengan TNI AL bisa menanyakan di Lantamal X. Jangan justru dari mulut ke mulut,” pintanya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *