Kegiatan Kebudayaan Sudah 2 Tahun Terhenti

Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan Ristek dan Teknologi Hilmar Farid saat berada di tempat wisata Mumi Jiwika Distrik Kurulu, kemarin. (Denny/ Cepos )

WAMENA — Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan Ristek dan Teknologi, Hilmar Farid melihat pengembangan pariwisata serta pengembangan Kopi Arabika di Jayawijaya.
Dikatakan, ada dua hal yang dilihat dalam kunjungan ini, pertama fisik dan yang kedua non fisik, Untuk fisik sudah ada rencana pembangunan dari Kementerian PUPR, tadi sudah disampaikan oleh warga, hanya saja pihaknya belum mendapatkan detailnya.
“ Saya lihat untuk fisik ini tidak terlalu besar, hanya perbaikan jalan dan keperluan infrastrukturnya saja , mungkin lebih penting itu yang nonfisik sebab kegiatan —kegiatan kebudayaan di Jayawijaya sudah 2 tahun terhenti,”ungkapnya Selasa (1/2) kemarin.
Masyarakat yang hidup dengan budaya seperti yang ada di objek wisata Mumi Jiwika ini masih bergantung pendapatannya, apabila ada iven seperti festival, sehingga yang perlu dipikirkan bagaimana caranya untuk menghidupkan festival yang sempat terhenti ini.
“Tadi kita juga sudah berdiskusi dengan Dinasd Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jayawijaya, harapannya tentu harus konsisten sebab tidak mungkin harus satu atau dua yang dilakukan, artinya jangan hanya festival,”kata Hilmar
Menurutnya, wisata Mumi Jiwika ini sudah menjadi tempat yang lama, namun ia belum melihat adanya penetapan cagar budaya , sebab ini penting untuk perlindungan tempat wisata ini, karena parawisata itu seperti pedang bermata dua, yang ditakutkan kalau banyak yang berkunjung sehingga terjadi perubahan dalam masyarakat di sini.
“Ini yang perlu dipertimbangkan untuk membuat cagar budaya guna melindungi masyarakat,”jelasnya.
Sementara pengembangan Kopi Arabika di Wamena, kata Hilmar, pihaknya sudah berkunjung ke tempat pengembangan kopi milik Hubertus Marian, ada penggunaan indikasi geografis, pertanian kopinya sendiri sudah ada koperasi sampai pengemasan, itu sudah baik, yang kurang mungkin soal perlindungannya.
“Karena adanya indikasi geografis maka orang bisa menggunakan kopi Wamena ini di mana —mana, mungkin dari daerah lain, tapi dinamakan kopi Wamena, sehingga jika dikasih indikasi geografis maka bibit , proses , cara pembuatan dan seterusnya akan terlindungi,”katanya.
Ia juga memastikan telah mengecek jika untuk indikasi georafis ini sudah masuk di Kemenkuham dan telah ditetapkan , hanya saja aplikasi harus dilakukan monitoring terus.
“kita sudah jelaskan nanti ada teman —teman yang bergerak di pengembangan Kopi untuk ikut membantu memonitor Indikasi Geografis ini agar tidak penjadi penyalagunaan,”bebernya
Ditempat yang sama Sekda Jayawijaya Thony M Mayor, Spd, MM menyatakan pemerintah mengharapkan jika adanya kunjungan dari pemerintah pusat bisa melihat budaya local yang ada di Jayawijaya terutama khususnya untuk Jayawijaya,
“Kami berharap dengan kunjungan ini mereka bisa menyampaikan nilai budaya kita, khususnya Mumi sehingga bisa memberikan informasi yang positif, agar bisa menarik banyak wisatawan, baik dalam dan luar negeri sehingga memberikan dampak ekonomi bagi daerah ini,”bebernya.(jo/tho)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *