Sampah Produk Malaysia Juga Ditemukan di Hutan Bakau

Kegiatan grebek sampah yang dilakukan oleh volunteer Rumah Bakau Jayapura pada Sabtu (29/1) kemarin. Dari grebek sampah ini ditemukan sebanyak 62.5 Kg sampah dimana diantaranya ada sampah produk luar negeri dari Malaysia. (Ikbal For Cepos)

JAYAPURA-Ada yang menarik dari gerebek sampah yang dilakukan volunteer Rumah Bakau Jayapura pada akhir pekan kemarin. Rumah Bakau sendiri menjadi wadah berhimpunnya beberapa komunitas lingkungan di Jayapura yang memiliki rutinitas mengumpulkan sampah di berbagai titik termasuk mengadvokasi sejumlah isu-isu lingkungan lainnya. Dari sampah yang terkumpul kemarin ternyata ada produk dari negeri Jiran, Malaysia. Bentuknya pembungkus makanan ringan yang terlihat masih baru.
Di sini kelompok pemuda peduli lingkungan ini merasa heran sebab produk tersebut jauh kaitannya dengan Kota Jayapura apalagi hutan bakau. “Tapi kemarin kami temukan dan kami awalnya tidak menyangka karena mirip produk lokal tapi ternyata dari Malaysia,” kata Ezterin Baransano, salah satu koordinator kegiatan, Sabtu (29/1).
Dikatakan gerebek sampah tersebut dilakukan selama 2 jam dimana tidak saja diikuti sejumlah mahasiswa tetapi juga ada anak sekolah bahkan guru. Selama 2 jam tersebut berhasil dikumpulkan sampah sebanyak 16 trash bag dengan 633 jenis produk dan berat keseluruhan sampah 62,5 Kg.
“Kami juga menemukan 15 produk sampah B3 yang seharusnya tidak dibuang di sungai maupun laut, tapi entah mengapa malah mampir ke hutan bakau,” beber Ezter.
Selain itu, menurut Ezter produk Unilever yang masuk dalam 3 besar perusahaan penghasil sampah plastik terbesar dunia maupun Danone yang menduduki peringkat 8 besar dunia juga masih mendominasi sampah secara umum.
“Tentunya sampah-sampah ini tidak masuk begitu saja ke perairan Teluk Yotefa tetapi banyak yang tidak masuk ke tong sampah kemudian terbawa air hingga terselip di akar – akar pohon bakau. Kami berharap perilaku nyampah sembarang ini perlu diperbaiki. Tidak bisa begini – begini terus mengingat sesuai penelitian di tahun 2050 nanti jumlah sampah akan lebih banyak ketimbang jumlah ikan di laut dan itu miris,” tutup Ezter. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *