Frits Ramandey Dapat Penghargaan Komnas HAM RI

Frits Ramandey saat menerima penghargaan dari Sekjen Komnas HAM RI di Bogor, Jumat (28/1). (Foto Frits for Cepos)

 

JAYAPURA – 28 tahun Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) berdiri, untuk pertama kalinya, Komnas HAM RI memberikan penghargaan atau kenaikan pangkat luar biasa kepada Frits Ramandey yang saat ini menjabat sebagai Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua.
Komnas HAM RI sendiri berdiri sejak tahun 1994 yang memiliki 1 Kantor Pusat dan 6 Kantor Perwakilan di beberapa Provinsi di Indonesia salah satunya di Papua. Penghargaan diserahkan langsung oleh Sekjen Komnas HAM RI di Bogor dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Komnas HAM RI, Jumat (28/1) lalu.
Frits menyampaikan, penghargaan tersebut untuk pertama kalinya dilakukan oleh Komnas HAM RI. Ini tidak terlepas dari kerja kerja kemanusiaan yang dilakukan selama dirinya bekerja di Komnas HAM. “Saya ingin mempersembahkan penghargaan ini untuk korban dan pemajuan HAM di Papua,” kata Frits kepada Cenderawasih Pos, Minggu (30/1)
Dikatakan Frits, Komnas HAM RI punya barometer, kriteria tersendiri atas penghargaan yang diberikan kepada dirinya yang sudah bekerja di Kantor Komnas HAM Papua sejak pertama kali Kantor Komnas HAM Papua dibuka pada tahun 2005 silam.
17 tahun bekerja di kantor Komnas HAM Papua, Frits pernah terlibat dalam beberapa penanganan konflik di Papua dan Papua Barat, misalnya soal konflik horizontal. Salah satunya terlibat secara aktif dan ditunjuk oleh GKI di tanah Papua bersama penatua Tomi Mano untuk menangani konflik yang berbau sara antara korban di Koya dengan Jafar Umar Talib kala itu.
Frits juga terlibat aktif soal isu isu pengungsi di beberapa tempat untuk mengurus pengungsi, yang lain keterlibatan Komnas HAM yang dipimpinnya untuk melakukan negosisasi, mendengarkan bagaimana Kelompok Sipil Bersenjata yang berkonflik dengan TNI-Polri di beberapa wilayah di Papua hingga terjadi eskalasi. Selain itu terlibat dalam beberapa konflik agrarian terutama perusahaan kelapa sawit.
“Saya juga kerap mendatangi kelompok separatis bersenjata, berbicara dengan mereka untuk mengakhiri pola pola kekerasan dengan pola pola yang menjunjung HAM,” kata Frits.
Lanjut Frits, kenaikan pangkat luar biasa yang baru saja ia terima sebuah tantangan baru dan membutuhkan pengabdian lebih di tanah Papua. “Ini sebuah kehormatan tapi juga tantangan untuk mengabdikan diri dalam kemanusiaan di Papua,” ucapnya.
Tantangan yang dimaksudkan Frits adalah, konflik bersenjata di Papua masih terus terjadi hingga saat ini. Menjadi momentum kekerasan yang silih berganti, ia berharap TNI-Polri dengan pendekatakan keamanan di Papua dengan mengedepankan pendekatan damai.
Belasan tahun dirinya bekerja di Komnas HAM Papua, Frits selalu menyuarakan kepada pihak yang bertikai harus ada pendekatan yang berubah tentang penyelesaian konflik bersenjata di Papua. Tidak bisa kekerasan diselesaikan dengan kekerasan, karena itu akan melahirkan kekerasan baru. (fia/tri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *