Belum Setahun, Kerja Piter-Wahfir Menyentuh Rakyat

Bupati Keerom, Piter Gusbager S.Hut. MUP ketika menyerahkan bantuan mobil kepada perwakilan Kelompok Tani Wor Kampung Workwana,  Veronika Linda Bate di halaman Kantor Bupati Keerom, Sabtu (29/1). (Ginting/Cenderawasih Pos )

 

Sebanyak 14 unit kenderaan roda empat dan 11 mesin pemipil jagung yang diberikan kelompok tani yang ada di Kabupaten Keerom. (Ginting/Cenderawasih Pos )

*Serahkan 14 Mobil dan 11 Mesin Pemipil Jagung, Masyarakat Keerom Berterima Kasih
ARSO-Satu lagi terobosan luar biasa yang dilakukan oleh Bupati Keerom Piter Gusbager, S.Hut., MUP., dan Wakil Bupati Keerom Wahfir Kosasih.
Bila belum lama ini Bupati Gusbager menyerahkan 173 ekor sapi kepada kelompok tani. Kali ini bupati yang belum genap menjabat setahun ini, menyerahkan 14 unit kenderaan roda empat (mobil) jenis hilux dan 11 unit mesin pemipil jagung kepada kelompok tani yang ada di Kabupaten Keerom.
Di halaman Kantor Bupati Keerom, Sabtu (29/1) lalu, Bupati Gusbager menyerarahkan empat mobil dan satu mesin pemipil jagung kepada kelompok tani yang sudah lolos perifikasi. Sementara sisanya Bupati Gusbager ingin memastikan terlebih dahulu kelompok tani lainnya yang memang layak menerima bantuan Pemkab Keerom tersebut.
Veronika Linta Bate dan Yulina Tikei perwakilan kelompok Tani Wor mengatakan selama ini kelompoknya kesulitan membawa hasil pertaniannya ke Pasar Afijan. Untuk itu, dengan mendapatkan kendaraan tersebut, akan mempermudah mereka membawa hasil kebun ke pasar.
“Terima kasih kepada Bapak Bupati yang sudah senang hati membantu kami di Kampung Worwana. Kami mewakili ibu-ibu, mama-mama, kami bangga dapat bantuan ini dan bantuan ini akan kami gunakan untuk menunjang pertanian kami. Belum setahun Pak Bupati menjabat tapi sudah terbukti menyentuh masyarakat,” ungkap Veronika Bate dan Yulina Tikei usai menerima bantuan kendaraan tersebut.

Kelompok taninya sendiri saat ini menanam jagung, sagu dan ubi-ubian. Selain itu, mereka juga sedang melakukan pengembangan pertanian jagung sesuai dengan arahan Pemda Keerom.
Senada dengan itu Alosius Serem dari kelompok tani Maleo mengaku bersyukur dan berterima kasih. Adapun ke depan kendaraan roda empat yang diserahkan Bupati Keerom tersebut, akan digunakan untuk mengangkut pertanian jagung. Pasalnya pihaknya juga membuka lahan jagung seluas 12 hektar sehingga kelompoknya meminta bantuan.
“Kami berterima kasih dan sangat bersyukur sekali bantuan ini. Kami akan gunakan angkat jagung yang sudah mau panen dan kami juga ada buka lahan 12 hektar, makanya kami meminta bantuan dan diberikan. Selama ini belum pernah dapat bantuan dan baru kali ini dan kami harap kabupaten semakin maju ke depan,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Bupati Keerom Piter Gusbager S.Hut., MUP., mengatakan bantuan tersebut sesuai dengan janjinya saat berkampanye bersama Wabup Wahfir Kosasih. Dimana pihaknya berjanji akan memperhatikan sektor pertanian dan mensejahtrakan petani Keerom.
“Kepemimpinan kami, Piter-Wahfir dimasa kampanye kemarin, kita menjanjikan dukungan kepada petani untuk meningkatkan kesejahtraan petani. Karena 60 persen penduduk Keerom bekerja dibidang pertanian  dan pertanian hari ini kita tidak bisa menggunakan cara-cara lama. Kita butuh peralatan, kita butuh mesin dan lainnya. Maka kendaraan angkutan ini menjawab kebutuhan petani kita,” tegas Bupati Gusbager.
Bupati anak asli Keerom ini berkomitmen 14 kendaraan roda empat dan 11 mesin pemipil jagung ini akan langsung disalurkan kepada kelompok tani.
“Tujuannya adalah mempermudah petani Keerom mengangkut hasil pertanian dari lahan mereka ke tempat tujuan yaitu pasar. Sedangkan 11 mesin pemipil jagung, kita berikan kepada mereka yang membudidayakan jagung dan mulai hari ini kita akan mulai serahkan hari ini ada satu yakni kelompok Kali Merah,” tambahnya.
Sedangkan bantuan mobil, Sabtu (29/1) sore langsung dibawa oleh 4 kelompok tani. Sementara sisanya, Pemda Keerom terus melakukan verifikasi kepada kelompok yang layak menerima bantuan Pemda Keerom. Oleh sebab itu bila ada kelompok yang belum mendapatkan kendaraan tersebut diminta bersabar karena verifikasi sedang dilakukan.
Adapun anggaran untuk pengadaan mobil dan alat pemipil jagung tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Keerom tahun 2021 yang dianggarkan saat penggeseran, sehingga dapat menghasilkan pengadaan kendaraan bagi kelompok tani yang ada di Kabupaten Keerom.
“Kita inginkan di tahun 2022 ini juga ada bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian) termasuk pupuk untuk pengembangan pertanian di Kabupaten Keerom. Ini sesuai dengan program kita dan Pemda jadi pusat pembudiyaan jagung di kawasan Timur Indonesia,” tambahnya.
Saat ini Pemda Keerom bersama pemerintah pusat tengah menyiapkan lahan seluas 3.000 hektar di Distrik Arso Timur. Untuk itu, pihaknya merasa penting mempersiapkan calon-calon petani Kabupaten Keerom untuk berpartisipasi  dalam budidaya besar.
“Tujuan pemberian kendaraan ini, untuk mendukung revitalisasi Pasar Afijan sebagai sentra ekonomi Keerom. Untuk itu, kita wajibkan pemilik kendaraan ini untuk menjual hasil perkebunannya di Pasar Afijan dan dalam waktu berkala kita lakukan evaluasi bila tidak sejalan dengan visi 6misi pemerintah daerah,” tuturnya.
Pemda Keerom menurut Bupati Gusbager berkomitmen akan terus mekukan pengawasan terhadap pemanfaatan bantuan kendaraan ini agar sesuai dengan peruntukannya dan digunakan penuh tanggung jawab. Bila hal itu tidak dilakukan, Pemda Keerom akan menarik kendaraan tersebut.
“Yang menerima memiliki kewajiban memelihara, menjaga serta membayar pajak. Terutama memfungsikan yakni untuk mengangkut hasil pertanian bukan yang lain. Orang mabuk tidak boleh gunakan kendaraan ini, karena kendaraan ini bukan untuk orang mabuk. Ini untuk orang yang profesinya jelas yakni pertanian. Jangan ganti plat nomor. Ingat masih banyak kelompok yang mau. Dimana yang telah mendapatkan ini, telah diseleksi dan gunakan secara baik. Kendaraan ini benar benar memberi manfaat jika digunakan dengan baik,” tegasnya.
“Segera buka pertanian seluas-luasnya. Jadilah petani yang benar-benar bekerja. Kembangkan apa saja pertanian yang cocok untuk tanah di Keerom. Penyuluh harus turun ke lapangan dan yang tidak berkompeten akan kita evaluasi. Setiap kelompok memiliki hak dan tanggung jawab yang sama sehingga penggunaannya untuk semua anggota kelompok,” pungkasnya.(gin/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *