Danrem: Tidak Ada Lagi Pendekatan Kekerasan

Brigjen TNI Bangun Nawoko, SIP . (Sulo/Cepos)

MERAUKE-Setelah melaksanakan tugas selama 20 bulan di Merauke sebagai Danrem 174/ATW, Brigjen TNI Bangun Nawoko, SIP, akan segera meninggalkan Merauke dengan tugas baru.  Berkaitan dengan itu,  Danrem Brigjen TNI Bangun Nawoko mengaku, banyak hal yang sangat berkesan selama bertugas di Korem 174/ATW yang meliputi wilayah tugas sampai Mimika.

‘’Yang paling berkesan itu bagaimana kita memikul tanggung jawab yang sangat besar untuk menyukseskan PON XX. Apalagi, di Merauke memiliki 2 klaster, yakni  Merauke dan Timika,’’ katanya.   Tidak sampai di situ. Bagaimana   sama-sama memantau pelaksanaan vaksinasi mulai dari door to door, dijemput dan akhirnya masyarakat mempunyai kesadaran. ‘’Awal-awal dulu vaksin masih mencari orang. Sekarang alhamdulillah orang cari vaksin,’’ katanya.  Sehingga 70 persen dari target  tercapai dan PON bisa dilaksanakan  sehingga  semua sukses. ‘’Pak   Jokowi mengakui itu. Demikian juga Pak  Wapres. Itulah kerja besar kita dengan kerja sama dengan  semua stakeholder yang ada. Karena kerja sama itulah yang luar biasa. Karena ada salah satu filosofi meliter mengatakan , tidak ada tugas-tugas meliter itu bisa dilaksanakan seorang diri,’’ terangnya.

Demikian  juga halnya  dalam  mensukseskan vaksinasi PON, kata dia,  tidak ada yang dikerjakan seorang diri.  Tapi merupakan kerja sama semua stakeholder terlebih masyarakat yang memiliki kesadaran untuk mau divaksin.   Kedua, lanjut dia, dalam pola operasi. Menurutnya, dirinya  sudah merubah. Tidak ada lagi pendekatan keamanan. Tidak ada lagi pendekatan kekerasan. Tapi dilaksanakan dengan pola pendekatan secara humanis dan pendekatan secara kesejahteraan.  Danrem Bangun Nawoko menjelaskan, di pos-pos pengamanan,  dirinya   menyambaikan baktiku untuk Papua.  Bahwa seluruh prajurit yang bertugas di Papua  itu dia akan selalu mencintai. Dia  akan selalu melindungi, dia akan selalu membantu dan ikut menjaga harkat martabatnya orang Papua.

‘’Itu yang selalu saya sampaikan dan ini lambat laun sudah mulai. Saya berani katakan, selama 20 bulan menjabat, alhamdulillah  tidak ada setetes darah yang tumpah. Harusnya begitu. Artinya keberadaan TNI semakin dekat dengan masyarakat,’’ terangnya. Namun jenderal bintang satu ini tidak  memungkiri bahwa masih ada satu dua yang mungkin arogan dan melakukan pelanggaran di tempat-tempat terlarang, namun menurutnya  itulah dinamika. ‘’Tapi,  saya punya komitmen bagi prajurit yang tidak  mengikuti perintah aturan meliter, ya sudah kita masukan ke dalam aturan meliter. Tidak ada pengampunan bagi anggota yang melanggar. Karena bagi kita, prajurit adalah orang dewasa. Artinya, orang dewasa adalah orang yang bertanggung jawab. Kalau dia  bersalah maka dia harus bertangungjawab menanganggung akibatnya,’’pungkasnya. (ulo/tho)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *