Polda Papua Barat Kantongi Identitas Pelaku

Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Pom Tornagogo Sihombing didampingi pejabat utama Polda Papua Barat saat meninjau lokasi kejadian yang menewaskan 17 orang akibat terbakar, di Kota Sorong, Rabu (26/1). (Bidang Humas Polda Papua Barat )

*20 Orang Dimintai Keterangan, 17 Orang yang Tewas Tidak Terlibat Dalam Pertikaian
JAYAPURA-Kota Sorong, Provinsi Papua Barat mulai kondusif pasca pertikaian dua kelompok massa di Kilometer 10, Selasa (25/1). Sebanyak 18 orang tewas dalam pertikaian itu.
Langkah-langkah penanganan sudah dilakukan Polda Papua Barat melalui Polres setempat. Bahkan, Kapolda Papua Barat didampingi Dansat Brimob dan sejumlah pejabat utama Polda Papua Barat, meninjau lokasi kejadian, Rabu (26/1).
Kabid Humas Polda Papua Barat, Kombes Pol Adam Erwindi menyampaikan, sebanyak 20 saksi telah dimintai keterangan dalam peristiwa tersebut. Mereka di antaranya adalah karyawan THM Doble O dan kedua pihak yang bertikai termasuk masyarakat yang melihat kejadian itu.
Adam Erwinda juga menyampaikan, Selasa (25/1) malam, Kapolres didampingi PJU Polda Papua Barat yang diBKO-kan di Kota Sorong sudah melakukan pertemuan dengan para tokoh dari kedua belah pihak di Polres Sorong.
“Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak dari para tokoh sepakat untuk tidak melakukan kejadian serupa. Mereka juga menyampaikan akan membantu pihak Kepolisian untuk mencari para pelaku guna mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Adam Erwinda Cenderawasih Pos, Rabu (26/1).
Lanjut Kabid Humas, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka dalam peristiwa tersebut. Hanya saja, beberapa nama pelaku sudah terindikasi. Anggota sedang bekerja ekstra untuk mengungkap kasus ini.
“Jika sudah waktunya, kita akan lakukan upaya hukum untuk penangkapan pelakunya. Meski sudah dilakukan pertemuan kedua pihak, namun kasus tetap jalan, sebab ini menjadi atensi Kapolda,” tegasnya.
Sementara itu untuk korban penganiayaan KR menurutnya sudah dimakamkan, Rabu (26/1). Sedangkan 17 jenazah yang terdiri dari tamu, karyawan dan pemain band belum dimakamkan karena belum diidentifikasi.
“Sebanyak 17 orang yang tewas akibat terbakar saat kejadian tidak ada kaitannya dengan kedua belah pihak yang bertikai. Hanya saja, lokasi pertikaiannya saat itu di TKP tersebut, menyebabkan mereka ini meninggal dunia,” terangnya.
Dikatakan, 17 jenazah ditempatkan di kontainer pendingin dalam kondisi gosong dan berada di rumah sakit. Direncanakan, Kamis (27/1) DVI Mabes Polri akan tiba di Sorong dan melakukan identifikasi terhadap 17 jenazah.
Polisi menurut Adam Erwinda, sudah menghubungi yang dimungkinkan itu adalah keluarga korban yang meninggal akibat terbakar. Nama-nama panggung mereka sudah dikantongi sesuai dengan keterangan saksi  dan manager serta teman-teman korban. “Para korban sebagian besar pemain band yang berasal dari Jawa,” bebernya.
Pasca peristiwa tersebut, Kabid Humas mengaku pengamanan di Kota Sorong ditingkatkan. Patroli skala besar dilakukan dan kedua kelompok massa yang bertikai tetap dalam pengawasan aparat.
“Sudah ada penebalan pasukan BKO Polres Sorong, BKO Brimob dan rekan-rekan TNI untuk mengantisipasi hal serupa terulang. Anggota di lapangan melakukan penyekatan di titik kubu yang menjadi basis dari kedua kelompok tersebut,” tutupnya
Sementara paguyuban Ikemal (Ikatan keluarga Maluku) langsung menggelar rekonsiliasi damai. “Saya atas nama Ketua Ikatan Mata Sirih Pelau di Tanah Papua menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kei yang ada di Sorong Raya. Sebab dari kejadian akhirnya terjadi ketidakharmonisan. Sekali lagi saya memohon maaf,” kata Ir. Latuconsina, Ketua Ikatan Keluarga Pelau di Papua dalam keterangan persnya di Humbold Cafe, Rabu (26/1).
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para kepala suku di Sorong Raya yang ikut terganggu dari kejadian tersebut.
Latuconsina juga mengimbau agar para pihak yang sempat bertikai untuk menahan diri, lalu menghindari bentuk provokasi yang akhirnya menimbulkan keadaan yang tidak kondusif. “Semua harus berpikir dan bergandengan tangan dengan moto, potong di kuku, rasa di daging. Sekali lagi kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian,” jelas Latuconsina.
Di tempat yang sama Ketua Perhimpunan Pemuda dan Mahasiswa Kei Provinsi Papua, Soleman Um menyampaikan bahwa pihaknya ikut berduka cita bagi keluarga korban dari insiden yang terjadi di Sorong. Dari kejadian ini diharap tidak berimbas ke mana-mana baik di Jayapura, Timika maupun lainnya dan di sini pihaknya mendukung Polisi perlu segera menangkap aktor intelektual kemudian diungkap agar tidak terulang.
Penasehat Pemaka (Persekutuan Masyarakat Kariu) Jayapura, Pdt. Lieke Pattikawa menambahkan bahwa masyarakat kedua pihak perlu kooperatif untuk menciptakan situasi yang kondusif. Masyarakat Kariu di Papua juga jangan sampai terprovokasi melakukan aksi – aksi anarkis hingga terjadi konflik bersaudara. “Kita perlu merenungi secara pribadi dan mengoreksi diri serta membantu aparat keamanan baik di Sorong maupun di Maluku untuk segera dituntaskan,” katanya. Pihaknya mengajak masyarakat Kariu juga menerima permohonan maaf dan pengampunan serta menyatukan hati untuk berdamai. “Anak – anak muda juga perlu mengendalikan emosi,” tambahnya.
Sementara Ketua Ikemal Pusat di Papua, Christian Sohilait menambahkan bahwa terjadi tiga peristiwa yang melibatkan masyarakat Maluku. Mulai di Sorong, di Ambon dan Kariu maupun Pelau. “Kami menyepakati beberapa hal, pertama kami sampaikan permohonan maaf atas nama keluarga besar Maluku di Papua kepada semua pihak yang terdampak. Kedua seluruh pertikaian ini diserahkan kepada pihak berwajib untuk ditindak secara hukum positif. Baik di Ambon, Maluku dan Papua Barat,” jawab Sohilait.
Kemudian seluruh masyarakat Maluku diminta tidak terprofokasi dan memasrahkan semua ke Polisi. “Ingat di Papua, masyarakat Maluku dikenal membawa Injil, guru dan pelayan yang menyampaikan kebenaran. Lalu kita di tanah rantau yang sepatutnya menghargai pemilik negeri. Kita juga akan memasuki hari masuknya injil di Papua sehingga kami sampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua dan Papua Barat atas kegaduhan ini,” tegas Sohilait.
Disini mereka juga meminta agar tidak ada lagi yang memposting foto maupun video keibutan dan korban karena hanya akan mengganggu kebatinan terutama keluarga yang sedang berduka cita. (fia/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *