Warga bersama Tim SAR berhasil menangkap buaya pemangsa sepanjang 4 meter. Membawanya ke rumah keluarga korban untuk dibuat ritual, dan kemudian membela perut buaya guna mengeluarkan tubuh korban yang dimangsanya, di Kampung Ayuka, Distrik Mimika Jauh, Kabupaten Mimika, Sabtu (22/1)  (foto: Humas SAR for Cepos)

Korban Disambar ketika Mencuci Karaka di Kali Ayuka, Mimika

JAYAPURA – Nasib naas dialami seorang pemuda bernama Demianus Tauda (30). Ia meregang nyawa setelah diterkam buaya, di Kampung Ayuka tak jauh dari tempat tinggalnya. Tepatnya di Distrik Mimika Jauh, Kabupaten Mimika
Korban tewas dengan tubuh tercabik – cabik oleh buaya dengan panjang sekitar 4 meter tersebut. Potongan tubuh korban sendiri akhirnya dimuntahkan oleh buaya tersebut setelah ditombak oleh warga. Kejadian ini membuat geger warga di Timika karena kejadian ini sangat jarang terjadi. Bahkan foto dan video korban juga banyak disebar di media social.
Dari laporan Polda Papua, kejadian ini terjadi pada Kamis (20/1) dimana saat itu korban Demianus Tauta yang sedang mencari kepiting Karaka dan ingin mencuci hasil tangkapannya di pinggir Sungai Kampung Ayuka. Saat mencuci ini tiba-tiba seekor buaya muncul dari dalam air dan menerkam kemudian menyeret korban ke dalam air. Saksi bernama Stevanus Nimaipo (45) dan Alberth Taute yang melihat sempat kaget dan berusaha mencari serta memberitahu warga namun saat itu korban gagal ditemukan.
Keterangan yang sama juga diperoleh dari Kepala Desa Tipuka, yakni sekira pukul 15:30 WIT. Damianus ( korban) disambar buaya ketika hendak mencuci Karaka di kali Ayuka, atau tepatnya 1 Km dari jembatan pertama menuju kargodok.
Menurut seorang saksi rekan sesama pencari karaka mengatakan, ketika korban hendak mencuci karaka, tiba-tiba buaya muncul dari dalam air dan langsung menerkam korban, dan langsung di seret kedalam air.
Esok harinya Jumat (21/1) sekira pukul 07.10 WIT Kantor SAR Timika menerima informasi terkait lokasi kejadian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika George LM Randang, SIP, MAP melalui keterangan tertulis Humas SAR Timika mengatakan, keluarga korban beserta masyarakat sekitar sudah berusaha melakukan pencarian. Namun hingga jumat malam pencarian korban belum juga membuahkan hasil.
Setelah mendalami laporan dan berkoordinasi dengan potensi SAR terkait, sekira pukul 07:29 WIT, Sabtu (22/1) pagi. Kepala kantor SAR Timika George L.M. Randang langsung memberangkatkan tim SAR gabungan menggunakan lima unit perahu karet bermesin 15 PK melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian.
Tim SAR terdiri dari TNI-Polri, Basarnas dibantu masyarakat setempat pukul 09.00 WIT tiba di lokasi
Dan melakukan upaya pencarian di sekitar area sungai. Enam jam kemudian atau sekira pukul 15.00 WIT yang melakukan pencarian melihat seekor buaya di sekitar tempat kejadian kemudian melakukan penejaran dan menombak serta memanah buaya tersebut. Saat buaya tertikam tombak dan panah buaya tersebut langsung memuntahkan potongan – potongan tubuh korban yang telah dimakannya dan disitulah warga saling bahu membahu menangkap buaya tersebut dan membawa buaya ke Kampung Ayuka ke rumah orang tua korban.
“Korban ditemukan oleh tim pencari dari masyarakat dan keluarga korban yang saat itu melakukan penyisiran di lokasi kejadian. Saat ditemukan, korban masih berada di mulut buaya sehingga masyarakat harus membunuh buaya tersebut dengan cara menombak beramai-ramai agar bisa di ambir jenazah korban. Setelah korban diambil dari mulut buaya yang berukuran besar panjangnya kurang lebih 4 meter. Korban langsung dievakuasi oleh Tim SAR gabungan menuju rumah duka sekaligus buaya pemangsa tersebut. ,” terang George
Lanjutnya menerangkan, setelah sampai di rumah duka. Keluarga korban dan masyarakat membuat ritual dan dilanjutkan dengan pembelahan perut buaya untuk memastikan apakah masih ada potongan tubuh korban.
, dan ternyata benar Setelah dibelah perut buaya tersebut didapati beberapa potongan tubuh korban.
Setelah perut buaya ini dibedah, pukul 16.30 WIT Tim SAR Gabungan menyerahkan jenazah korban kepihak keluarga untuk dimakamkan.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Drs. Ahmad Musthofa Kamal, SH menghimbau kepada masyarakat agar dalam melaksanakan aktivitas sehari-sehari di sekitar sungai untuk lebih berhati-hati, sehingga kejadian tersebut tidak terulang kembali. “ Ia kami meminta kepada warga untuk ekstra berhati – hati. Jangan sampai kejadian ini kembali terjadi, ”pungkasnya.
Kepala kantor SAR Timika George L.M. Randang juga turut mengimbau masyarakat agar dapat berhati hati dalam mengadakan aktivitas di daerah yang teridikasi ada buayanya. Ia berharap pemerintah daerah bisa memediasi Basarnas dalam pemasangan tanda atau papan peringatan bahaya adanya hewan buas, dengan begitu  masyarakat bisa menghindar beraktivitas di daerah berbahaya tersebut
Sementara dari beberapa literasi soal hewan buaya yang memakan manusia ini terdapat
kejadian serupa di Bangka Belitung dimana seorang penjaga pintu air bernama Juperi Ahmad dilaporkan
tenggelam setelah diterkam buaya. Padahal buaya ini sering ia beri makan. Ketika itu BBKSDA Bangka
Belitung menjelaskan bahwa buaya menyerang manusia diduga terjadi tumpeng tindih ruang aktifitas antara hewan (buaya) dengan manusia. Terjdi fragentasi habitat buaya sehingga menimbulkan tumpeng tindih ruang aktifitas dan membuat buaya kehilangan pangan alaminya. BBKSDA setempat juga menjelaskan bahwa sejatinya buaya lebih suka memakan hewan yang ukurannya jauh lebih kecil dari tubuhnya seperti ikan, bangau maupun burung. Namun apabila sudah memakan manusia maka
sebaiknya buaya ini ditangkap karena kemudian dilakukan penangkaran karena sudah memberi sinyal
tidak lagi menyukai hewan kecil dan bisa melakukan hal berulang. (ade/fia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *