Perlu Dibuatkan Floodway Untuk Sborhonyi dan Jalankan Metode Struktur-Non struktur

Cenderawasih Pos berdiskusi dengan Rektor Uncen, Dr. Ir. Apolo Safanpo ST, MT  di Abepura beberapa waktu lalu.   (Gamel/Cepos)

Ngobrol Bareng Rektor Uncen Terkait Banjir di Jayapura dan Penanganannya

Setelah 2 tahun lebih, Jayapura kembali dibuat panik soal banjir. Tahun 2019 masih menyimpan catatan kelam dan kini terjadi di awal tahun 2022. Cenderawasih  Pos sempat berdiskusi dengan Rektor Universitas Cenderawasih, Dr. Ir. Apolo Safanpo ST, MT soal banjir dan penanganannya.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Musibah kembali dirasakan masyarakat Kota Jayapura di awal tahun 2022. Intensitas curah hujan yang tinggi ditambah petir menyambar disana sini membuat situasi pada Jumat, 7 Januari lalu menegangkan. Endingnya juga bisa ditebak dimana terjadi banjir dan longsor dimana – mana.

   Tak hanya itu, esok harinya tim evakuasi  juga mengangkat 7 jenasah warga yang tertimbun longsor di empat titik di Jayapura. Ini seperti mengulang kembali  catatan kelam  pada Maret 2019 lalu. Banjir seperti ini bukan kali pertama terjadi, dimana dari catatan Cenderawasih Pos musibah serupa pernah terjadi pada Februari  2015, lalu 3 Agustus 2017, kemudian 16 Maret 2019 dan 7 Januari 2022 kemarin. Namun dari semuanya, warga mengaku bahwa banjir Jumat kemarin menjadi yang terdahsyat selama ini.

   Cenderawasih Pos sempat berdiskusi dengan Rektor Uncen, Dr. Ir. Apolo Safanpo ST, MT  yang memiliki catatan khusus soal banjir dan cara penanganannya khusus di Kota Jayapura. Dari catatannya, ia menjelaskan dari pemahaman mendasar bahwa banjir adalah meluapnya aliran air pada palung sungai atau saluran drainase karena debit air yang mengalir melebihi kapasitas sungai atau saluran drainase, sehingga mengakibatkan genangan pada suatu wilayah tertentu.

    Banjir dalam skala yang besar menurut rektor dapat menyebabkan kerugian mulai dari materil hingga nyawa manusia. Secara hidrologis, dikatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi besar atau kecilnya banjir. Pertama jenis tanah pada lapisan permukaan, kedua intensitas curah hujan dan ketiga luas daerah tangkapan hujan atau Catchment area.

   Jenis tanah pada lapisan permukaan sangat mempengaruhi besar atau kecilnya aliran air di permukaan tanah. Ketika air hujan jatuh ke tanah aluvial dan lain-lain yang masih alami, maka air akan langsung meresap ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan air tanah (perkolasi). Bisa juga meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan mengalir melalui akifer-akifer di dalam tanah dan keluar ke permukaan sebagai mata air di daerah dataran rendah. Air hujan yang meresap ke dalam tanah ini (infiltrasi dan perkolasi) dan tidak akan menyebabkan banjir.

   Rektor Apolo menyebut bahwa semakin banyak air hujan yang meresap ke dalam tanah akan semakin baik. Hanya saja, apabila jenis tanah pada lapisan permukaan adalah jenis tanah liat, atau tanah yang sudah terbangun dengan permukiman, atau bangunan lain yang tertutup dengan beton maupun aspal, maka ketika air hujan jatuh ke tanah, air tersebut justru mengalir di permukaan tanah karena tidak dapat meresap.

   “Air hujan yang mengalir di permukaan tanah inilah yang akan menyebabkan banjir. Semakin banyak permukaan yang tertutup oleh bangunan, beton, maupun aspal, maka sebakin banyak air yang mengalir di permukaan tanah dan debit banjirnya akan semakin besar,” beber rektor, Ahad (9/1).

   Lalu faktor kedua yang mempengaruhi besar atau kecilnya banjir adalah intensitas hujan. Ini juga tergantung tingginya curah hujan dan durasi  waktu terjadinya hujan. Semakin lebat dan lama, maka akan semakin besar potensi banjir yang terjadi. Faktor ketiga yang mempengaruhi adalah luas daerah tangkapan hujan (cacthment area) yang dibatasi punggung-punggung bukit atau gunung yang akan membentuk cekungan.

  Semakin besar luas daerah tangkapan hujan maka akan semakin besar debit banjir yang terkumpul. Pengamatan Rektor Apolo beberapa tahun belakang ini wilayah Abepura dan Kotaraja di Kota Jayapura selalu menjadi langganan banjir. Ia melihat banyak hal sudah dilakukan Pemkot dalam upaya menangani banjir di wilayah Abepura dan Kotaraja, mulai dari pembersihan drainase, imbauan hingga pengerukan sedimen terutama pada Kali Acai dan Kali Siborgoni.

  Mantan Dekan Fakultas Teknik Uncen ini juga melihat satu wilayah yang cukup parah adalah Pasar Youtefa. Padahal ini merupakan salah satu urat nadi perekonomian rakyat dan sumber Pendapatan Asli Daedah (PAD) yang cukup besar bagi Pemkota Jayapura. Setiap terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi, dalam durasi minimal 1 jam  maka aliran air di Kali Acai dan Kali Siborgoni akan meluap dan menggenangi Pasar Youtefa dengan ketinggian mencapai 1 meter atau lebih. Hal ini selalu berdampak pada kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum di Pasar Youtefa serta harta benda para pedagang di lokasi tersebut.

  “Sudah cukup banyak ide dan gagasan yang didiskusikan dan diseminarkan terkait dengan penanganan permasalahan banjir di wilayah Abepura dan Kotaraja, khususnya di Pasar Youtefa. Belakangan saya melihat wacana penanganan banjir di Pasar Youtefa mengerucut pada dua pilihan, yakni rekonstruksi dan relokasi Pasar Youtefa,” jelasnya.

  Rekonstruksi dijelaskan merupakan tindakan pembangunan kembali bangunan atau infrastruktur yang rusak dengan konstruksi yang lebih kuat, sedangkan relokasi merupakan tindakan memindahkan (Pasar Youtefa) dari lokasi yang sekarang ke lokasi atau tempat lain yang dianggap lebih aman.

   Gagasan ini menurutnya baik sehingga rekonstruksi ataupun relokasi dilakukan untuk menyelamatkan pedagang dan usahanya. “Tapi jika kita kaji lebih jauh, sesungguhnya rekonstruksi maupun relokasi sama sekali tidak ada hubungannya dengan permasalahan banjir sebab banjir akan tetap ada di wilayah ini sekalipun Pasar Youtefa direkonstruksi ataupun direlokasi,”  bebernya.

  Jadi menurut Apolo untuk mengatasi banjir di wilayah Abepura dan Kotaraja perlu dilakukan studi yang komprehensif dan holistik dengan mengidentifikasi penyebab-penyebab terjadinya banjir termasuk melakukan langkah-lngkah terukur agar  penanganannya tepat. “Secara teoritik, 3 faktor yang menyebabkan banjir tadi  bisa diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu banjir yang terjadi oleh sebab-sebab alami dan banjir yang diakibatkan oleh ulah manusia. Misalnya curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan erosi dan tanah yang tererosi tersebut mengakibatkan sedimentasi di dalam saluran drainase atau sungai, sehingga kapasitas sungai atau saluran drainase menjadi berkurang atau tidak memadai, pasang-surut air laut, pengaruh fisiografi sungai atau saluran, dan lainnya,” papar Apolo.

    Sedangkan banjir yang terjadi sebagai akibat dari tindakan manusia antara lain seperti perubahan lapisan permukaan tanah akibat pembangunan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti pengundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, pembangunan dan perluasan kota yang mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air, kebiasaan membuang sampah di sungai atau saluran drainase dan lain-lain.

    “Jadi setelah mengidentifikasi penyebab-penyebab terjadinya banjir di wilayah ini barulah kita dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan terukur untuk menyelesaikan permasalahan banjir tersebut,” tambahnya.

   Solusi yang diberikan adalah upaya penanganan banjir bisa dilakukan dengan dua  metode yaitu metode struktur dan metode non struktur. Metode struktur dapat dilakukan dengan membuat Bangunan Pengendali Banjir seperti Bendungan (Dam),  Kolam retensi, Embung-embung, Retarding Basin, pembangunan drainase polder atau dengan melakukan perbaikan dan pengaturan sistem sungai atau saluran drainase seperti normalisasi sungai, pengerukan sedimen, pelebaran sungai, pembuatan sudetan (by pass) dan pembangunan floodway atau banjir kanal.

   Floodway atau kanal banjir pada Kali Siborgoni sangat dianjurkan, karena dari berbagai hasil kajian, dapat mengurangi banjir di wilayah Abepura dan kotaraja. Untuk diketahui, semua aliran air permukaan di wilayah Abepura dan Kotaraja masuk dan mengalir melalui dua sungai yang merupakan saluran Induk, yaitu Kali Acai dan Kali Siborgoni. Tapi outlet dari kedua sungai tersebut hanya satu muara, yaitu muara kali Acai, sehingga pada saat terjadi hujan, aliran air Kali Siborgoni tidak bisa keluar ke outlet Kali Acai dan mengakibatkan back water yang menyebabkan banjir dan genangan. Oleh karena itu perlu  dibuat floodway atau kanal banjir,” saran Apolo.

“Sedangkan penanganan banjir dengan metode non struktur dapat dilakukan dengan Law Enforcement, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Pengaturan Tata Guna Lahan, Persiapan terhadap bencana (SatKorLak), kemudian rencana tindak darurat semisal evacuation and relocation, Flood proofing, forecasting and warning system, informasi dan pendidikan kebencanaan, konservasi lahan serta pengendalian erosi di DAS,” pungkasnya. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *