Genangan Organda Tergantung Goa Kecil

Kondisi genangan air di Perumahan Organda Padang Bulan yang hingga Minggu (9/1)  kemarin belum juga surut. Lokasi ini perlu ditangani serius agar tak menjadi langganan banjir tiap tahunnya ketika intensitas hujan tinggi dan satu solusinya adalah merelokasi tempat tinggal warga. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Warga yang bermukim di kawasan Perumahan Organda Padang Bulan Waena nampaknya harus lebih bersabar untuk memastikan air surut pasca banjir, Jumat (7/1) pekan kemarin. Dua hari pasca hujan deras yang  mengakibatkan banjir hampir diseluruh Kota Jayapura ternyata wilayah Perumahan Organda hingga Minggu (9/1) malam masih belum surut.

   Ribuan warga masih bertahan dengan air sepinggang meski sebelumnya berada pada titik dada orang dewasa. Lambatnya air surut dikarenanya hanya memiliki dua  jalur pembuangan yakni sebuah goa kecil di bawah Bukit Konya dan drainase yang berada disamping gedung PGSD tak jauh dari kampus USTJ.

   Hanya saja dari intensitas hujan yang tinggi dua hari terakhir membuat dua saluran pembuangan ini tak lagi mampu menampung banyaknya debit air yang masuk, alhasil kawasan di Perumahan Organda maupun di sekitar Dusun Emereuw masih tergenang hingga kini.

   “Bagaimana mau surut  kalau  saluran pembuangannya tersumbat. Ponor Kali Konya itu kecil dan kayu serta botol plastik serta sendimentasi juga sudah masuk  menutupi jalur – jalur tersebut,” kata Rudi Mebri, salah satu warga terdampak saat ditemui depan kediamannya di Konya, Sabtu (9/1).

   Warga sekitar Kali Konya sendiri akhirnya memilih mengungsi di salah satu  venue PON di samping Lapangan Trikora.

Ponor Konya sendiri hanya berupa goa kecil yang terbentuk secara alami  yang fungsinya mengalirkan air dari Dusun Emereuw ke arah belakang Koramil hingga ke Saga dan Kali Acai. Ponor ini beberapa kali tersumbat akibat potongan kayu yang tersangkut di dalamnya.

   Menurut Rudi normalisasi Kali Konya sepatutnya rutin dilakukan  mengingat ada kawasan perumahan yang berada di sekitar lokasi ditambah dengan mulai maraknya perumahan. Namun disini ia justru mengkritisi lokasi yang seharusnya tidak boleh dibangun. “Ya seperti itu, akhirnya dampaknya kemana – mana,” imbuhnya.

   Salah satu akademisi Uncen, Yehuda Hamokwarong menjelaskan bahwa dahulu organda dan hutan sagu sekitarnya hingga Koramil dan Saga Abe jika tergenang itu bisa menampung curah hujan lebih di atas 300 mm/hari.

   Air genangan itu akan tinggal selama 2 minggu hingga 1 bulan kemudian akan surut perlahan. Air akan tersalur keluar melalui ponor atau saluran dalam tanah dan melalui limpasan ke arah Koramil Abe dan selanjutnya ke Saga Abe. “Sekarang ini dua saluran itu tersumbat oleh sendimen maupun sampah akibat banyaknya bangunan di sekitar drainase yang mengarah ke Saga Abe,” beber Yehuda.

   Ia menyarankan satu – satunya cara adalah membebaskan lahan sekitar saluran drainase ke arah Saga  kemudian dilakukan pelebaran drainase. “Soalnya untuk saluran lewat goa atau ponor itu sulit, kecuali pemerintah mau buat terowongan saluran air ke arah Kali Acai, hanya ini butuh biaya yang besar,” pungkasnya.

   “Saya pikir drainase yang sekarang ini ke arah Saga Abe perlu diperlebar 30 meter dan lahannya segera dibebaskan. Mereka yang tinggal disitu bisa direlokasi dengan pertimbangan ancaman banjir,” saran Yehuda. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *