Bentrok Warga di Wamena, Satu Orang Tewas, Empat Luka-luka

Anggota Polres Jayawijaya saat berupaya untuk melerai dua kelompok warga yang bertikai di Kampung Wouma, Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (8/1). (Denny/Cepos)

*Tiga Rumah dan Tiga Honai Dibakar

WAMENA-Bentrok dua kelompok warga asal Kabupaten Nduga dan Lanny Jaya terjadi di Kampung Wouma, Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (8/1).

Bentrok tersebut mengakibatkan seorang warga tewas atas nama Sibelu Gwijangge. Korban tewas terkena panah di bagian punggung sebelah kanan. Selain korban tewas, empat orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan 3 rumah serta 3 honai dibakar.

Empat orang yang luka-luka yaitu Witenus Tabuni terkena panah di kaki kanan, Rondi Kogoya terkena panah di dada kiri, Wemas Wenda (18) terkena panah pada perut dan Berkas Tabuni (18) kepala bocor dan lubang di tumit kaki kanan. Sementara itu, dua orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka namun identitasnya belum diketahui.

Aksi saling serang yang terjadi sekira  pukul 15.47 WIT antara warga yang berasal dari Kabupaten Nduga dan Lanny Jaya. Diduga, saling serang ini dipicu tewasnya salah seorang warga asal Nduga bernama Sibelu Gwijangge.

Dari kronologi yang diperoleh Cenderawasih Pos, sekira pukul 08.30 WIT., korban Sibelu Gwijangge mendapatkan informasi dari teman-temanya bahwa akan diselesaikan permasalahan antara dirinya dengan Yuli Kogoya terkait mas kawin yang belum dibayarkan kepada pihak keluarga perempuan Yuli Kogoya.

Pertemuan tersebut juga kabarnya membahas permasalahan, dimana Sibelu Gwijangge yang merasa  sudah membayar mas kawin Yuli kogoya kepada keluarganya.

Persoalan lainnya, diduga seseorang yang tidak diketahui membawa istri korban tanpa sepengetahuan Sibelu Gwijangge selaku suaminya.

Pertemuan ini kabarnya difasilitasi dan dimediasi oleh Jeremias Kogoya selaku sekretaris distrik sekaligus RT Kampung Wesakma.

Jeremias Kogoya mengarahkan, sebelum mengurus permasalahan untuk kedua belah pihak menaruh benda-benda tajam di depan lokasi tempat penyelesaian masalah. Selanjutnya Jeremias Kogoya membuka dan memberikan kesempatan kepada salah satu pihak keluarga untuk berbicara dimana dari pihak perempuan yang memulai.

Selanjutnya saat berjalanya pembicaraan, Sibelu Gwijangge selaku suami korban tersinggung dengan perkataan dari pihak keluarga istrinya Yuli Kogoya dan lansung mengambil parang kemudian menyerang Jepit Kogoya yang merupakan bapak dari Yuli Kogoya.

Akibatnya kedua belah pihak diduga saling serang. Bahkan korban Sibelu Gwijangge diduga  menaruh parang dan kembali mengambil panah kemudian mengarahkan ke pihak keluarga Yuli Kogoya.

Beberapa menit setelah saluing serang, Sibelu Gwijangge terlihat terjatuh dan tidak sadarkan diri (meninggal dunia). Korban terkena benda tajam dan dua orang lainya terkena luka panah di bagian kaki sebelah kiri dan dada sebelah kiri.

Kapolres Jayawijaya, AKBP. Muh. Safei AB, SE., melalui Wakapolres Jayawijaya Kompol Ferdinand B. Maasawet ketika dikonfirmasi membenarkan adanya bentrokan antara dua kelompok warga tersebut.

Wakapolres Ferdinand Maasawet mengatakan, setelah mendapat laporan sekira pukul 11.00 WIT., personel regu 1 Polres Jayawijaya dipimpin Iptu I Made Sujana merespon ke TKP bersama dengan piket Reskrim untuk mengimbau para tokoh masyarakat agar kelompok warga yang terlibat bentrok  di Wesakma tidak keluar dan tetap menahan diri.

“Usai kejadian tersebut sekira pukul 15.10 WIT, massa dari pihak keluarga korban yang masih emosi dan tidak menerima kejadian tersebut bergerak dari rumah duka di Sinakma menuju Wesakma dan melakukan penyerangan, sehingga terjadi aksi saling serang menggunakan alat perang tradisional panah tak terhindarkan,” jelasnya, Sabtu (8/1) kemarin.

Ferdinand Maasawet mengatakan, dirinya memimpin langsung personel Polres Jayawijaya dibantu personel Brimob turun langsung ke TKP mengimbau dan melerai kedua belah pihak yang bertikai untuk menghentikan aksi saling serang. Pihaknya juga melakukan upaya mediasi dan pendekatan kepada tokoh masyarakat kedua pihak guna menahan diri dan kembali ke tempat masing-masing. Namun karena banyaknya massa dari keluarga korban yang tidak puas, mereka akhirnya melakukan penyerangan dan menerobos penjagaan yang dilakukan personel Kepolisian.

“Kami berhasil mengendalikan situasi dan melerai pertikaian antara kedua kelompok serta mengimbau untuk kedua belah pihak untuk pulang ke rumah masing-masing,”jelasnya

Wakapolres menyatakan bahwa saat terjadi pembunuhan, personel Satuan Reskrim Polres Jayawijaya lah melakukan olah TKP awal serta mengevakuasi korban meninggal dunia ke RSUD Wamena untuk dilakukan pemeriksaan terhadap tubuh korban dan luka yang dialami.

“Untuk situasi saat ini sudah kondusif, sedang dari masing-masing kelompok sudah diberikan imbauan untuk tetap tenang dan kembali ke rumah masing-masing,” tandasnya.

Ia menambahkan guna mengantisipasi terjadi aksi balasan, pihaknya telah melakukan pendekatan terhadap para tokoh agar bisa menenangkan masyarakatnya. Pihaknya juga telah menyiapkan personel untuk disiagakan guna melakukan patroli di kedua kubu guna mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Hingga saat ini bentrokan antara dua kelompok masih berlangsung. Dimana aksi penyerangan masih terus dilakukan pihak korban kepada pihak pelaku,” tutupnya.

Secara terpisah, Bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom, SE., M.Si., meminta kepada para tokoh dan jajarannya segera melakukan pendekatan kekeluargaan kepada pihak yang terlibat bentrok dan meminta warganya yang berada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya untuk dapat menahan diri dan tidak terprovokasi atau ikut-ikutan terkait terjadinya bentrok antar warga Nduga dan Lanny Jaya yang terjadi di Kampung Wouma pada Sabtu (8/1).

Selain itu, Bupati Befa juga dengan tegas meminta kepada semua tokoh masyarakat, tokoh agama dan pejabat pemerintahan dan DPRD Lanny Jaya untuk mengambil langkah-langkah penyelesaian bentrok antar warga tersebut dan memastikan tidak ada lagi bentrok susulan.

“Segera mengambil langkah-langkah menyelesaikan perang suku di sekitar Kali Uwe atas dan bawah. Saya minta  lakukan pendekatan kekeluargaan baik diatas maupun di bawah. Dekati para pimpinan perang, bagimana format kita selesaikan masalah ini,” ungkap Bupati Befa Yigibalom dalam rilisnya kepada Cenderawasih Pos, Minggu (9/1).

“Saya sudah minta tolong kepada Muspida Jayawijaya untuk mendekati kedua kubu sore ini (kemarin red),” sambungnya.

Untuk itu, dirinya meminta kepada para tokoh-tokoh yang ada untuk mengendalikan para warganya masing-masing sehingga tidak ada lagi korban yang diakibatkan bentrok.(jo/gin/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *