Dianggap Paling Dahsyat, 7 Warga Tewas Tertimbun Longsor

Warga terdampak banjir di Pasar Youtefa melintas di genangan air yang sudah surut, pada pukul 17.00 WIT, kemarin (7/1). Banjir awal tahun 2022 ini disebut menjadi banjir terdahsyat yang pernah terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. (Gamel/Cepos)

Sejumlah warga mengusung jenazah Asniati salah satu korban tanah longsor usai disalatkan di masjid Agung Jayapura, kemarin. (Gamel/Cepos)

Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., turun langsung meninjau salah satu lokasi pemukiman yang terendam banjir, kemarin. (Ayu/Cepos)
Salah seorang Warga kompleks depan SMKN 5 Jayapura saat menyelamatkan kucing akibat banjir Jumat (7/1) pagi. (Elfira/Cepos)

JAYAPURA-Hujan deras yang menyelimuti Kota Jayapura hingga Kabupaten Jayapura, Jumat (7/1)  dini hari kemarin memakan korban jiwa.

Tercatat ada 7 orang ditemukan tewas tertimbun longsor. Ini menambah panjang catatan kelam musibah yang berkaitan dengan curah  hujan di Jayapura.

Dari catatan Cenderawasih Pos musibah serupa pernah terjadi pada Februari  2015, lalu 3 Agustus 2017, kemudian 16 Maret 2019 dan 7 Januari 2022 kemarin. Namun dari semuanya, warga mengaku bahwa banjir Jumat (7/1) kemarin menjadi yang terdahsyat selama ini.

Hingga kemarin tim Basarnas maupun aparat keamanan dibantu komponen masyarakat lainnya masih bahu membahu mengevakuasi dan membereskan sisa – sisa banjir.

Data korban yang diterima Cenderawasih Pos yaitu korban di APO Bengkel bernama Anthoneta Sables lalu korban di Jalan Nirwana I Dok V yakni Simion Itlay, Teo Itlay dan Joni Itlay sedangkan dua korban tewas lainnya di Bhayangkara yakni Djunaedi dan istrinya Sutarti yang merupakan mertua dari Karo SDM Polda Papua, Kombes Pol Nanang Djunaedi. Sementara seorang wanita di Klofkamp bernama Asniati juga ditemukan tewas tertimbun tanah longsor.

Selain korban tewas, ada juga korban yang mengalami luka-luka yakni keluarga dari almarhum Antoneta yakni Jeyn Regina dan Yanti Martina Veronika yang tengah menjalani perawatan karena ditemukan kritis sedangkan korban lain yang masih dalam perawatan adalah Briptu Azid Ainum Naim yang merupakan sopir dari Karo SDM Polda Papua.

Ia mengalami luka patah pada bagian rusuk dan dirawat di RS Provita. Lalu Bripda Jordan yang juga sopir Karo SDM yang mengalami luka sobek pada bagian kaki dan tangan.

Korban lain  di Jalan Nirwana yang masih dirawat yaitu Otika Hisage dan Peles Itlay. Jenasah mertua Kombes Pol Nanang Djunaedi sendiri siang kemarin sudah diterbangkan ke Tulung Agung, Jawa Timur. Sedangkan jenazah Asniati langsung disalatkan di Masjid Agung Jayapura dan dimakamkan di pemakaman umum Buper Waena sedangkan tiga jenasah di Jl Nirwana telah diambil pihak keluarga.

Wakapolresta Jayapura Kota, AKBP. Supraptono yang dikonfirmasi membenarkan jika data yang dihimpun pihak kepolisian mendapati ada 7 warga yang tewas dari musibah banjir dan longsor kemarin. “Ada 7 yang meninggal dan semua dampak dari tertimpa longsoran dan lokasi kebanyakan di bawah lereng semisal di APO dan di Bhayangkara juga begitu,” kata Supraptono saat dihubungi siang kemarin.

Namun  disini Supraptono belum bisa memastikan apakah jumlah korban akan bertambah atau dipastikan hanya 7 orang saja. Pasalnya hingga kini cuaca masih belum menentu dan dari hujan kemarin diprediksi masih  akan berlanjut. Ini yang menurut Praptono perlu diantisipasi dan polisi lanjut dia menghimbau agar warga yang bermukim disekitar lereng untuk lebih peka membaca situasi.

“Jika curah hujan tidak kunjung reda dan sudah malam maka kami sarankan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman. Jangan justu bertahan karena bisa berpotensi jatuh korban,” jelasnya.

Polres Jayapura Kota sendiri bersama TNI lebih mengutamakan bagaimana menolong korban kemudian membantu para korban yang selamat  kemudian dibawa ke rumah sakit termasuk korban banjir yang kami evakuasi. Jadi tak hanya korban longsor tapi ada juga korban banjir. “Kalau curah hujan tidak reda kami minta cari tempat yang aman apalagi jika hujannya malam hari. Tapi kami bersyukur karena hingga kini belum ada lokasi pengungsian meski kami di Polres juga siap untuk menampung hanya saja nampaknya  warga lebih memilih berkumpul dengan keluarganya,” beber Praptono.

Sementara beberapa pedagang di Pasar Youtefa yang ditemui mengaku banjir kali ini paling besar dibanding yang sudah – sudah. Itu bisa dilihat dari genangan air yang tidak hanya berada di pusat pasar tetapi sampai ke jalan menuju pasar. Bahkan ketinggian air di tengah pasar menurut beberapa pedagang ada yang mencapai 3 meter. Alhasil tak sedikit yang malam itu harus nginap di atap atau loteng.

“Ini yang paling besar. Belum pernah air seperti ini karena dulu – dulu itu hanya disekitar pasar saja tapi ini sampai keluar,” kata Ilham satu pedagang saat ditemui di pintu pasar.

Ilham menyebut ada orang tua dan anak – anak yang terjebak malam itu namun untungnya bisa dievakuasi.

Dari pengakuan warga saat ini yang paling dibutuhkan adalah makanan siap saji dan pakaian bayi atau anak – anak. “Kalau untuk kami tidak ganti pakaian tidak masalah tapi kasihan anak – anak banyak yang belum makan. Tadi ada yang bagi – bagi makan tapi dari organisasi – organisasi, bukan pemerintah,” sindir Ilham lagi.

Cerita lain disampaikan Faisal. Pedagang goden sejak tahun 2010 ini mengatakan ia sampai harus menyelam untuk bisa menutup pintu dan mengangkat barang – barang yang tenggelam. “Sudah bingung saya, itu kelelep dan saya harus turun menyelam untuk mengunci pintu,” ceritanya.

Ia mengatakan tidak sempat memindahkan barang – barangnya ke tempat yang lebih aman karena  menduga air hanya sebatas dada orang dewasa. Namun ternyata air melewati kepalanya. “Itu yang saya bilang ini yang paling dahsyat, ngeri sekali,” sambungnya.

Pedagang wanita lainnya justru memprotes pemerintah. Pedagang bernama Asma Nawawi ini menggerutu dan mengatakan apa yang pemerintah lakukan untuk pedagang dan pasar ini. Padahal ia dan pedagang lainnya setiap bulan membayar retribusi sebesar Rp 500 ribu. Tapi untuk selokan atau got saja masih harus dibuat oleh pedagang sendiri.

“Sekarang jalannya juga seperti apa? rusak sekali. Timbun tapi tidak diratakan dan pembeli malas masuk. Nanti kami tinggikan sedikit malah disuruh bayar padahal ini kami pakai duit sendiri,” cecarnya.

Ia bahkan berani mengatakan bahwa Pasar Yotefa  ini jika tak api ya banjir. “Hanya dua itu, kebakaran dan kebanjiran dan kami setiap bulan harus tetap membayar,” koarnya.

Beberapa pedagang lainnya juga menanggapi lambatnya   penanganan OPD. “Sampai malam mini belum ada posko, kami bingung mau mengadu kemana. Anak – anak juga banyak yang kelaparan,” sindir Anto, satu pedagang ikan.

Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Irawadi yang dihubungi via handphonenya membenarkan soal belum adanya posko. “Ini masih kami rapatkan dan rencana akan dibangun di GOR Waringin atau di Brimob. Segera kami putuskan,”  singkatnya dalam rapat.

Sementara hingga sore kemarin terpantau air di Pasar Youtefa yang sebelumnya menyentuh atap perlahan – lahan mulai surut dan hanya sebatas lutut orang dewasa. Hanya saja banyak sekali sampah yang berserakan dan warga mengaku lambatnya air keluar dari kawasan pasar tak lepas dari tersumbatnya saluran pembuangan akibat sampah.

Sementara itu, banjir setinggi dua meter merendam pemukiman warga di depan SMKN 5 Jayapura, Jalan Pasar Youtefa. Banjir terjadi sejak Kamis (6/1) malam yang diawali dengan hujan deras. Tak lama kemudiam sekira pukul 01:00 WIT dini hari, listrik padam.

Banjir memiliki ceritanya sendiri sendiri. Warga tidak hanya mengevakuasi dirinya agar selamat melainkan juga turut mengevakuasi binatang seperti ayam maupun kucing. Ada juga warga yang nyaris tenggelam di Pasar Youtefa namun berhasil dievakuasi oleh tim gabungan.

  Mardi seorang warga kompleks depan SMKN 5 Jalan Pasar Youtefa menyampaikan, ini banjir terparah selama 10 tahun ia tinggal di kompleks SMKN 5 Jayapura. Biasanya kalaupun banjir menurut Mardi, itu sebatas pinggang orang dewasa.

“Luapan air dari mana-mana menyebabkan banjir, ditambah saluran drinase yang tidak berfungsi. Drinase bukannya menampung air melainkan menampung sampah manusia ” terang Mardi.

 Dijelaskan Mardi, banjir diakibatkan oleh luapan air dari Kali Acai. Barang-barang jualan miliknya terbawa arus sejak hujan Kamis (6/1) malam yang mengguyur Kota Jayapura secara merata. “Namanya musibah, cuman tidak menyangka saja tiba-tiba air naik hingga tak ada barang yang diselamatkan,” ucap Mardi.

 Dalam banjir kali ini, dilaporkan tujuh korban jiwa meninggal dunia akibat longsor. Dengan lokasi longsor pertama terjadi Dok V Atas kelurahan Trikora ada tiga korban jiwa yang tertimbun yakni, John Itlay (23), Gidion Itlay (18) dan Theo Itlay (18).

 TKP kedua yaitu di Kompleks Bhayangkara yang memakan korban jiwa sebanyak dua orang yakni Junaedi (68) dan Sudarti (67). Sedangkan korban luka-luka ada dua orang yang merupakan anggota polri yakni Ainul (22) dan Jordan (22).

 TKP ketiga di APO Kali terdapat satu korban jiwa yaitu Antonieta (39) dan kritis satu orang yakni Martina (15). TKP keempat di belakang Kantor POM AD XVII Cenderawasih terdapat juga korban jiwa satu orang meninggal dunia karena tertimbun yakni Asniati (35).

Adapun titik banjir di Kota Jayapura di depan Kantor Gubernur Dok II, Depan Kantor Balai Pusat Statistik, Depan Polsek Jayapura Selatan hingga PTC, Depan Dealer Daihatsu Entrop, seputaran SMAN 4 Jayapura, Pasar Youtefa dan Perumahan Organda Padang Bulan.

Sementara di Sentani sendiri, longsor dan banjir terjadi di Kuburan Cina longsor dan lumpur. Jembatan 2 dimana banjir disertai tiang listrik tumbang. RM. Yougwa pohon tumbang, Telaga Ria lumpur dan material batu di jalan. Telaga Maya lumpur dan longsor, Kampung Asei Kecil banjir, depan Polsek Sentani Timur longsor, depan Stadium LE banjir dan sebelum tikungan Netar  longsor. Perumahan Gajah Mada yahim sentani terdapat pengungsi sebanyak 21 KK mengungsi di Mushola Mifthauljana.

Terkait banjir di sejumlah titik, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., dan Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., turun langsung ke lokasi yang terdampak banjir dan tanah longsor.

Wali Kota Benhur Tomi Mano, terlihat turun langsung di daerah Dok IX Distrik Jayapura Utara. Di lokasi ini BTM memberikan apresiasi kepada RT/RW yang sangat baik untuk membantu membersihkan parit dan juga longsor.

Dari pantauannya di lapangan, banjir yang terjadi di sekitar Dok IX selain karena curah hujan tinggi, penyempitan aliran sungai akibat pembangunan rumah warga juga jadi pemicu.

“Dulu kali atau sungai lebarnya 9 meter sekarang tinggal 1 meter karena penyempitan dibangun rumah-rumah penduduk. Jadi kalau ada kayu yang patah dan tumbang menjadi sampah dan mampet, air dan lumpur akan meluap ke rumah warga. Kalau kali ini lebar, saya kira tidak ada masalah. Itu yang saya amati,” jelasnya.

Penebangan liar di sejumlah wilayah di Kota Jayapura menurut BTM juga menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor.

Wali Kota BTM juga mengaku mendapat laporan adanya sejumlah warga yang meninggal dunia akibat tanah longsor. Selain korban jiwa ada juga beberapa warga yang mengalami luka-luka.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota BTM memberikan apresiasi kepada semua pihak yang turun membantu warga yang tertimpa musibah banjir dan tanah longsor.

Untuk memberihkan sisa-sisa banjir di jalan protokol, Wali Kota BTM mengaku telah meminta petugas kebersihan untuk turun membersihkan. Dirinya juga meminta petugas pemadam kebakaran Kota Jayapura untuk menurunkan armadanya membantu warga membersihkan endapan lumpur yang masuk ke dalam rumah.

“Kita melakukan pembersihan dan hari ini (kemarin, red) kami rapat Forkopimda untuk langkah-langkah

apa yang kita akan lakukan. Tapi kami sudah lakukan langkah awal di beberapa tempat-tempat yang terendam banjir semuanya,” tambahnya.

Terkait musibah banjir dan tanah longsor ini, Wali Kota Tomi Mano mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk penanganan darurat bencana di wilayah Kota Jayapura.

Dirinya berharap masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam menghadapi curah hujan yang masih tinggi. “Untuk itu kepada masyarakat, saya minta yang tinggal di tempat-tempat rawan longsor harus hati-hati. Kalau tidur malam harus mengungsi ke tempat yang aman dulu,” pungkasnya.

Secara terpisah, Wakil Wali Kota Rustan Saru menambahkan bahwa Pemkot Jayapura telah menangani serta melakukan pemetaan dan penanganan kejadian secara satu persatu.

Saat ditemui, dirinya sedang melakukan evakuasi serta penanganan pedagang dan masyarakat yang terjebak banjir di Pasar Youtefa.

“Di Pasar Youtefa ini kita lakukan evakuasi terhadap pedagang yang ada di dalam. Dengan menggunakan perahu karet untuk membuat mereka keluar agar mereka tidak terjebak di dalam pasar,” jelasnya.

Selain di tempat tersebut, dirinya juga melakukan penelusuran di beberapa tempat, termasuk meninjau pohon-pohon tumbang yang terkena longsor di beberapa titik.

Pemerintah kota juga memberikan makanan kepada korban terdampak, sebab tempat-tempat masak sudah terendam.

“Langkah berikut memberikan mereka makanan siap saji agar mereka bisa makan karena memang kondisi darurat. Ini kita akan bantu sampai dengan air ini surut kembali,’ tambahnya.

“Saya minta masyarakat, tidak usah panik, tidak usah khawatir. Kita bantu, pemerintah hadir untuk memberikan pelayanan agar semua terkendali dengan baik,” sambungnya.

Secara terpisah Kepala BPBD Provinsi Papua, Willem Manderi menjelaskan, terkait dengan musibah banjir dan longsor di Kota dan Kabupaten Jayapura, mengakibatkan korban jiwa. Tercatat sebanyak 7 korban meninggal dunia dan  6 orang lainnya luka-luka.

“Kami terus melakukan pemantauan. Ada beberapa titik pengungsian yang disediakan baik korban banjir dan korban longsor. Semua kebutuhan logistik disediakan bahkan sampai saat ini saya sudah menghadap orang kementrian untuk bantuan bagi korban banjir dan longsor,” tambahnya.

Diakuinya untuk korban, titik pengungsian, posko dan sebagainya masih dilakukan pendataan. Dirinya akui jika semua tim gabungan terus melakukan pendataan dan koordinasi terus dilakukan.

“Penanggulangan bencana sudah dilakukan. Diharapkan semua masyarakat untuk tetap waspada, memingat kondisi saat ini belum stabil. Untuk itu, waspada harus dilakukan khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan banjir dan longsor,” pungkasnya. (ade/fia/cr-265/ana/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *