Semangat Natal Harus Bisa Bawa Perubahan bagi Kinerja

Kepala Kantor Wilayah BPN Papua , John Wiclif Aufa menyalakan lilin natal dalam perayaan natal bersama keluarga besar  kantor Wilayah BPN Papua  tahun 2021 di Hotel Suni Abepura, Kamis (16/12) lalu. ((Gamel Cepos))

JAYAPURA – Kepala Kantor Wilayah BPN Papua , John Wiclif Aufa memberi sejumlah penegaskan terkait pelayanan dan kinerja pegawainya di tahun 2020 hingga tahun 2021 dan harus beranjak di tahun 2022 nanti. Ia meminta seluruh pegawai Badan Pertanahan di Provinsi Papua  untuk merubah kinerja menjadi lebih baik. Menjadi professional dan terpercaya sehingga masyarakat bisa mengakui bahwa memang ada perubahan yang terjadi pada era sekarang. Ia tak mau setiap tahun PR (pekerjaan rumah) BPN hanya berkutat pada itu – itu saja. Dan tentunya ia menyarankan untuk tidak bekerja dengan kekuatan sendiri melainkan  tetap mengandalkan Tuhan.

Ini disampaikan Wiclif pada ibadah dan perayaan natal keluarga besar  kantor Wilayah BPN Papua  tahun 2021 di Hotel Sunny Abepura, Kamis (16/12). Banyak  penekanan yang diberikan mulai dari status BPN, kinerja, potensi hingga  target yang harus dicapai. “Coba baca kembali UU Otsus pasa 43 dan pasal lainnya apakah ada 1 pasal yang mengatakan karena anak Papua  jadi akan menduduki jabatan ini itu?. Saya dari pusat dan digaji dari negara dan bukan dari dana Otsus jadi aturan main semua dari pusat,” beber Kakanwil yang menjelaskan soal    jam kerja pegawainya saat pandemic 2020 di hadapan 100 lebih jemaat dan tamu undangan dari keluarga besar BPN.

Pegawai BPN  memang tidak  mengikuti waktu libur yang dikeluarkan pemerintah daerah lewat surat edarannya. Ini karena BPN merupakan instansi vertical  dan tidak digaji secara otonom melainkan semua dari pusat sehingga Wiclif meminta pelayanan tetap berjalan seperti biasa. Baik saat covid maupun lockdown, semua kantor pertanahan tetap buka namun menjalankan protokol kesehatan. “Yang covid saya suruh istirahat tapi kalau berulang – ulang saya minta periksa ditempat lain sebab bisa saja hasil lab nya yang salah. Mungkin saya satu – satunya kakanwil di republic ini yang membuat surat dan menanyakan ke pihak medis apakah betul hasil  pemeriksaan lab tersebut sebab saya tidak percaya cerita, saya harus lihat dan buktikan,” bebernya.

Dengan begini kata Kakanwil dirinya tidak akan dikerjai oleh pegawainya yang berkantor di daerah – daerah. “Saya telepon dan dijawab lagi di kantor dan saya video call untuk memastikan sebab BPN Papua  tahun ini tidak terlalu jelek dan tidak terlalu baik tapi bisa menghasilkan sesuatu yang cukup baik,” jelasnya.  Nah hasil baik ini dikatakan bukan karena kerja sendiri melainkan karena mengandalkan kekuatan Tuhan sehingga ibadah menurutnya adalah wajib,” sambungnya. Di kantor ia menyampaikan bahwa semua pegawai adalah anak – anak Abraham dan apakah itu di Al kitab maupun di Al Quran   itu sama. Anaknya hanya Isa dan Ismail makanya ibadah itu wajib dengan satu tujuan yakni memuliakan Tuhan. Kakanwil yang dikenal tegas dan tidak kompromi ini memberlakukan aturan yang cukup ketat. Intinya ingin BPN ada perubahan dan yang sudah dilakukan adalah memacu kinerja dan inovasi pegawainya.

Tak bisa begitu – begitu saja tetapi harus selangkah bahkan belangkah – langkah lebih maju sebab BPN merupakan kantor pelayanan dan masyarakat  menunggu serta menilai. Dirinya tak lupa menyampaikan terima kasih kepada ibu – ibu yang mendampingi suaminya bekerja. Wiclif lantas membandingkan firman Tuhan dengan kinerja BPN yang dianggap jauh sekali. Apalagi saat ini negara sudah banyak berubah dan jika Papua  masih begini – begini saja maka sangat rugi. “Jadi di Kantor Pertanahan, Kanwil saya cuma tekankan bahwa 1 kantor itu 1 keluarga dan yang pendeta sampaikan yakni hukum kasih itu bukan pura – pura,” singgungnya.

Kinerja harus berubah dan dibenahi  untuk melayani masyarakat dengan baik. “Jika ada warga ke kantor BPN di Kota kemudian mendengar ada masalah, saya cuma bilang, telinga saya ada dua dan saya dengar saya telepon kepala kantornya. Jika 4-5 bulan  tidak berubah maka saya akan pindahkan sebab di Alkitab juga menjelaskan seperti itu, pohon yang rantingnya sudah tidak berbuah maka dipotong saja agar muncul dahan baru dan berbuah lebih baik,” sambung Kakanwil mengaitkan etos kerja dengan ayat di Alkitab.

Kembali ia menegaskan bahwa kantor pertahanan  adalah kantor pelayanan untuk masyarakat. Pekerjaan yang dilakukan bila salah ya berurusan dengan pidana. Masyarakat di Papua  juga bukan orang Papua  sendiri, begitu juga dengan kantor – kantor dimana seluruh kantor pertanahan ada orang Indonesia di dalamnya. Karenanya ia mengajak untuk membawa semangat kebhinekaan  dalam membangun Papua . “Tapi lakukan lewat pelayanan yang prima dan selalu andalkan Tuhan,” wantinya. Dan untuk menjangkau pelayanan lebih dekat dikatakan  di Sentani Kabupaten Jayapura akan segera beroperasi kantor BPN   dan ia berharap masyarakat datang dan melihat bahwa BPN berubah. Wiclif berharap  dari 12 kantor yang ada saat ini akan terus berdiri kantor – kantor BPN lainnya sebab saat ini Papua  masih  kekurangan 17 kantor.

“Masalah pertanahan di Papua  kalau mau diselesaikan maka harus dibentuk kantor semua namun dengan kuasa doa pasti semua akan terbuka. Ini juga agar adik atau anak – anak yang baru selesai sekolah bisa mengabdi di BPN. Saya harus akui jika pelayanan BPN memang belum maksimal namun kami memiliki cita – cita, melayani secara professional dan terpercaya. Terpercaya ini sangat berat tapi harus kesana. Yang penting punya komitmen yang dilandaskan dengan doa lalu kita maju,” ucapnya menyemangati.

Lalu kata Kakanwil saat ini persoalan di BPN banyak  sekali, mulai tanah adat, tanah ulayat hingga kawasan hutan yang ditetapkan oleh kehutanan tapi dibangun dan ada pembangunan. “Saat ini yang bisa kami sertipikatkan hanya 7 persen dan sebagai warga negara yang baik juga harus taat hukum. Papua  harus dibangun menjadi lebih baik,” tambahnya. Upaya ini dimulai dengan menyiapkan sarana  berbasis teknologi. Ada aplikasi – aplikasi yang dibuat untuk memudahkan. Lalu kembali Kakanwil mengingatkan pegawainya untuk menyelesaikan tunggakan. Ia meminta semua wajib diselesaikan, jangan hanya  menerima apa yang masyarakat bayarkan kemudian dibiarkan. “Menjadi aneh  kalau kita tunggak terus, ini ibarat negara yang berhutang kepada masyarakat dan saya mau  dari kinerja yang ditingkatkan ini kalau ada raker di pusat kita jangan selalu menjadi penonton karena kita sudah memulai,” imbuhnya. Sementara peraan natal bersama ini juga disertai dengan pemberian bingkisan kepada tokoh – tokoh agama yang selama ini mendampingi kerja – kerja BPN. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *