Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal saat memperlihatkan barang bukti spanduk yang diamankan dari delapan orang pemuda yang mengibarkan bendera bintang kejora di GOR Cenderawasih samping Mapolda Papua, Rabu (1/12). (Elfira/Cepos)

Anggota TPN-PB di Paniai saat memperingati 1 Desember, kemarin. (Demianus Magai Yogi)

*Paling Heboh di GOR Cenderawasih, 8 Orang Diamankan

JAYAPURA-Bendera bintang fajar atau disebut bintang kejora berkibar di enam daerah di Provinsi Papua yaitu Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Puncak, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Paniai dan Kota Jayapura, Rabu (1/12).

Aksi pengibaran bintang kejora di beberapa daerah di Papua tidak terlepas dengan peringatan hari kemerdekaan bangsa Papua ke-60 tahun tepatnya 1 Desember 1961 – 1 desember 2021. Namun yang menghebohkan publik adalah, pengibaran bintang kejora oleh sekelompok mahasiswa di pusat Kota Jayapura, tepatnya di GOR Cenderawasih Jayapura yang berada di samping Mapolda Papua.

Bahkan mahasiswa yang berjumlah 8 orang ini sempat melakukan long march di jalan raya depan GOR Cenderawasih, Mal Jayapura dan bahkan melintas di depan Mapolda Papua sebelum akhirnya diamankan sekira pukul 11.00 WIT.

Saat pengibaran bendera, tidak ada anggota yang berjaga di lokasi tersebut. Anggota Polri mendatangi GOR Cenderawasih setelah bendera dikibarkan dan langsung menurunkan bendera bintang kejora.

Terkait dengan pengibaran bintang kejora di GOR Cenderawasih ini, delapan orang telah diamankan yakni MSY, YM, MY, MK, BM, FK, MP dan MW. Kedelapan orang ini sedang diamankan di Mapolda Papua untuk  dimintai keterangan.

Wakapolda Papua Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto menerangkan, sebelum mengibarkan bendera BK di GOR Ceenderawasih, delapan orang ini tepatnya pada Selasa (30/11) melakukan pertemuan di daerah Padang Bulan, Distrik Heram terkait rencana upacara hari kemerdekaan Papua yang akan dilaksanakan pada Rabu (1/12).

Dalam rapat tersebut, N yang memimpin rapat saat itu memerintahkan untuk melakukan upacara pengibaran bendera BK di halaman GOR Cenderawasih. Setelah itu, melakukan aksi long march ke arah Pelabuhan Jayapura.

Delapan orang ini diamankan anggota penjagaan Polda Papua saat melintas di depan Mapolda Papua. “Saat ini delapan pemuda tersebut dalam pemeriksaan intensif Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Papua. Sementara untuk N selaku pemimpin rapat  beserta beberapa orang lainnya masih dalam pencarian aparat kepolisian,” terangnya.

Menurut Wakapolda, anggota jauh hari sudah mengantisipasi peristiwa yang akan menimbulkan gejolak Kamtibmas pada 1 Desember itu.

“Secara umum menjelang 1 Desember dalam kalender Kamtibmas, kita waspadai terjadinya gejolak ganguan Kamtibmas. Terlepas dari 6 kabupaten/kota terjadi pengibaran bendera BK, situasi Papua cukup kondusif bisa terkendali,” papar Wakapolda kepada wartawan.

Menurut Wakapolda, pengibaran bendera tersebut sebagai bentuk ketidakpahaman mekanisme bernegara. Mengibarkan simbol-simbol yang tidak perlu dikibarkan, sebagaimana sudah berkomitmen berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga simbol yang bisa dikibarkan adalah bendera merah putih.

“Krimum Polda Papua sedang mengembangkan penyelidikan sekaligus penyidikan terhadap kasus tersebut,” kata Wakapolda.

Dikatakan Wakpolda, terlepas dari Kota Jayapura, ada beberapa wilayah yang mengibarkan bendera BK yang dilakukan pada 30 November dengan kisaran waktu pukul 5 sore hingga 21.00 WIT menjelang 1 Desember.

“Lima lokasi terjadi pengibaran bendera dilakukan di lokasi yang sulit dijangkau dan tidak diketahui siapa orang yang mengibarkan. ketika diketahui bendera sudah ada di lokasi tersebut,” ucap Wakapolda.

Sementara itu, Dirkrimum Polda Papua, Kombes Pol Faizal Ramadhani mengatakan, pihaknya sedang mendalami peran dari kedelapan orang tersebut.

“Dari keterangan beberapa orang yang diamankan, kegiatan ini sudah direncanakan beberapa hari sebelemunya. Dalam pertemuan mereka di salah satu tempat, mereka merencanakan untuk menggelar  dan menaikkan BK di GOR Cenderawasih,” jelasnya.

Lanjut Faizal, yang menurunkan bendera BK di GOR Cenderawasih adalah anggota Polri. “Bukan berarti kita tidak siaga, tapi memang  mereka melakukan itu dalam tempo yang cepat. Sehingga ketika anggota datang ke GOR, posisi bendera sudah di atas dan kita langsung turunkan. Waktunya sebenarnya tidak lama,” bebernya.

Enam dari delapan orang diamankan berstatus mahasiswa. Faizal mengaku sedang mendalami apakah mereka berafiliasi dengan KNPB atau tidak.

“Kasusnya dalam proses penyelidikan, kita belum putuskan status mereka dalam kasus ini. Masih ada waktu 1 kali 24 jam untuk memutuskan statusnya,” kata Faizal.

Selain mengamankan delapan orang gersebut, barang bukti yang turut diamankan yakni dua bendera bintang kejora, satu lembar spanduk bertuliskan “self  determination for West Papua stop melitarisme in West Papua” dan satu spanduk bertuliskan “Indonesia segera membuka akses bagi tim investigasi komisi tinggi HAM PBB ke West Papua.”

Secara terpisah, Danrem 172/Praja Wira Yakthi, Brigjen TNI Izak Pangemanan menyampaikan, KKB juga melakukan upacara kenaikan bendera di Distik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang tepatnya di kampung Lamek Taplo.

“Dalam penaikan bendera tersebut, ada bunyi tembakan sebanyak 3 kali. Dimungkinkan bunyi tembakan tersebut sebagai peringatan mereka melakukan upacara menaikan bendera,” ucap Danrem kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

Lanjut Danrem, bendera BK sebatas barang, untuk itu  anggotanya tidak terpancing dan itu bukan sesuatu yang begitu penting baginya. “Bendera itu hanya barang saja, jangan karena barang itu lantas kita baku bunuh,” ucap Danrem.

Sementara itu, pasca pengibaran bendera bintang kejora di tiang bendera GOR Cenderawasih Kota Jayapura, tak lama kemudian, sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Cinta Indonesia (MCI), Kota Jayapura mengibarkan bendera merah putih di titik yang sama.

Porkorus Yeroserai selaku koordinator MCI Kota Jayapura mengatakan, bertepatan dengan 1 Desember yang digadang-gadang sebagai hari Papua merdeka, MCI di Papua yang berdomisili di Kota Jayapura mengutuk keras aksi dari teman-teman yang berseberangan dengan Negara Kesatuan Repoblik Indonesia (NKRI).

“Kami merasa teman-teman yang bersebelahan, dalam aksi ini mereka telah berseberangan dengan kaidah negara. Oleh kerena itu, di titik yang sama. Kami MCI Kota Jayapura, berkumpul di lokasi yang sama untuk mengibarkan bendera merah putih yang adalah lambang dari negara yang kita cintai yaitu NKRI,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat yang ada di tanah Papua dan Papua Barat harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan. “Kita adalah satu, kita Papua kita cinta Indonesia, dan Papua adalah bagian dari NKRI,” tegas Yeroserai.

Secara terpisah, Pemimpin TPN-PB Meepago, Demianus Magai Yogi mengatakan, ada 8 daerah yang melakukan upacara pengibaran bendera bintang kejora yakni Paniai, Mimika, Ilaga, Nduga, Intan Jaya, Puncak, Nabire, Deiyai dan Dogiyai. “Kami mengibarkan bandera sebagai hari kemerdekaan bangsa Papua, saya sendiri sebagai  inspektur upacara di Paniai,” ucap Demianus kepada Cenderawasih Pos.

Dalam doa yang dipanjatkan di upacara tersebut, mereka berdoa kepada tuhan untuk segera dibebaskan untuk Papua.

Sementara itu, Kepolisian Resor Merauke mengamankan 17 orang terkait dengan peringatan  1 Desember, Senin  (30/11)  sore. Mereka  diamankan di sebuah rumah kost, Jalan Mopah Lama, Kompleks Jati-Jati, Kelurahan Rimba Jaya.

Mereka dijemput  setelah beritanya  masuk  di media sosial terkait kedatangan warga dari  Distrik Waan, Kabupaten Merauke.  Dalam narasi yang ditulis di media sosial bahwa kedatangan  mereka ke Merauke untuk meminta membuka ruang demokrasi dengan pihak TNI-Polri, gereja tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan masyarakat pada umumnya pada momentum  1 Desember  2021. Dengan membawa kelapa serta busur dan anak panah, sebagai simbol perdamaian dan perang dengan pihak TNI-Polri.

Kelapa adalah bentuk perdamaian, sedangkan busur dan anak panah sebagai simbol perang terhadap TNI dan Polri.

Kapolres Merauke,  AKBP. Ir. Untung Sangaji, M.Hum membenarkan  telah mengamankan  17 orang tersebut.  “Ya kita mengamankan sebanyak yang ada di video tersebut,’’ kata  Kapolres, Rabu (1/12).

Setelah diamankan, lanjut Kapolres, kemudian mereka dimintai keterangan. Namun dari interogasi yang dilakukan,  lanjut Kapolres, bahwa ternyata mama-mama yang bicara dalam video yang beredar tersebut hanya sebagai  korban dan tidak tahu apa-apa. “Sementara  ini kita masih melakukan pendalaman terhadap mereka-mereka ini dan saat ini masih kita amankan di Polres Merauke sambil  kita mintai keterangan,’’ jelas Kapolres.

Kapolres menegaskan  bahwa mereka yang diamankan ini sebenarnya tidak tahu  apa-apa. ‘’Kasihan mereka. Belum lama ini saya ke Kimaam dan bagi-bagi sembako di sana, dan saya mengganti  kantong-kantong air mereka dari  jeringen yang sudah  tidak layak,’’ terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Kapolres mengimbau  kepada seluruh masyarakat Merauke untuk tidak melakukan hal seperti itu dan meminta untuk melakukan aksi kemanusiaan dimana saja berada dengan keahlian apapun yang dimiliki. “Berbuat baiklah sebelum mati. Itu filosofi saya. Karena kalau kita sudah mati, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi,’’ tandasnya.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Merauke,  AKP Najamuddin, MH, mengatakan bahwa 17 orang yang diamankan  hanya dijemput dari tempatnya setelah adanya video yang keluar di media sosial  untuk dimintai keterangan. “Rencananya setelah kita mintai keterangan, mereka akan dipulangkan. Tapi, sebelum dipulangkan, Pak  Kapolres  akan memberikan pakaian layak pakai serta beberapa di antaranya kemungkinan akan  dilatih di home industri,” pungkasnya. (fia/oel/ulo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *