Warga Dikabarkan Ngungsi, Ada Kios Dibakar KKB

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, SH., dan Wabup Esau Miram, SIP bersama Forkopimda Kabupaten Yahukimo saat menyambut kedatangan Kapolda Papua, Irjen Pol. Mathius D. Fakhiri, beberapa waktu yang lalu. Saat ini situasi Yahukimo khususnya Distrik Suru-suru sedang tidak kondusif pasca penyerangan dua anggota TNI. (Elfira/Cepos)

*Kehadiran Aparat Keamanan Dituding Buat Warga Hidup dalam Kecemasan di Distrik Suru-suru

JAYAPURA-Warga di Distrik Suru-suru Kabupaten Yahukimo dikabarkan mengungsi sementara ke hutan. Pengungsian tersebut pasca penembakan dua anggota TNI dari satuan BKO Aparat teritorial (Apter) Koramil Persiapan Suru-suru, Kabupaten Yahukimo yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersebjata (KKB), Sabtu (20/11) pagi.

Selain warga yang mengungsi, dikabarkan ada beberapa kios yang dibakar. Untuk jumlah kios yang dibakar tersebut, belum dipastikan berapa jumlahnya.

Anggota DPRD Kabupaten Yahukimo Dapil Distrik Obio, Uria Kandeng menyampaikan, dirinya mendapatkan informasi dari warga bahwa ada warga Suru-suru yang mengungsi ke hutan saat penyerangan terhadap dua anggota TNI tanggal 20 November lalu.

“Warga lari ke hutan lantaran mereka ketakutan, hingga saat ini mereka masih berada di hutan,” ungkap Uria saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Rabu (24/11).

Dikatakan, jumlah warga di Distrik Suru-suru sebanyak 6.000 jiwa. Namun dirinya tidak tahu berapa jumlah warga yang mengungsi ke hutan.

Terkait dengan kejadian di Distrik Suru-suru tersebut, Uria mengaku dirinya sudah berkomunikasi dengan Dandim Yahukimo melalui pesan WhatsApp yang meminta agar anggota yang ditempatkan di Suru-suru segera ditarik. Hal ini agar situasi di Suru-suru kembali membaik.

“Yang warga inginkan pembangunan, bukan kehadiran aparat TNI di Suru-suru. Kehadiran Pos TNI di Suru-suru justru membuat masalah baru bagi warga setempat,” kata Uria.

Menurut Uria, kehadiran Pos TNI dan anggota di Suru-suru membuat warga hidup dalam kecemasan. Mereka cemas diserang dari berbagai pihak. Termasuk bisa diserang dari anggota KKB yang ada di Nduga yang memang berdekatan dengan Suru-suru.

Lanjutnya, sejak dulu di Distrik Suru-suru tidak ada masalah. Warga menurutnya hidup tentram dengan berkebun, hanya saja kehadiran Pos TNI dan anggota di sana (Suru-suru, red) itu memancing situasi tidak baik.

“Kami minta jangan mendatangkan masalah kepada warga dengan kehadiran aparat. Saya tidak mau ada konflik kerusuhan di Distrik Suru-suru Kabupaten Yahukimo yang korbannya adalah warga sipil,” tegasnya.

Sementara itu, Dandim 1715/Yahukimo, Letkol Inf Christian Ireeuw mengatakan, pembakaran kios bertepatan dengan penyerangan dua anggota TNI. Selain itu, ada beberapa warga yang mengamankan diri sementara ke hutan.

“Ada satu dua  kios yang dibakar dan beberapa warga yang mengamankan diri ke hutan pasca penyerangan dua anggota TNI. Mungkin mereka merasa takut dengan situasi, sehingga mereka  menghindar. Kita sedang komunikasikan dengan anggota yang ada di Suru-suru terkait situasi terakhir di sana. Sebab tidak ada jaringan telepon di sana,” kata Dandim saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos.

Dandim juga membantah jika Suru-suru dikuasai anggota separatis. Sebab hingga saat ini, masih ada anggota di Pos Persiapan Suru-suru. Bahkan, Dandim sendiri sedang berupaya untuk bisa masuk ke Suru-suru dengan beberapa anggota untuk memasang alat komunikasi.

Selain itu, bakal ada pergantian pasukan dari anggota yang lama kepada anggota TNI yang berasal dari Jawa Barat.

Terkait dengan penarikan pasukan dari Suru-suru, Dandim mengaku akan membicarakan hal ini dengan Bupati dan DPRD yang ada di Yahukimo

“Tidak boleh seenaknya minta penarikan pasukan, ini negara. Lagian Pos Koramil Persiapan di Suru-suru dibangun sudah lama sebelum saya jadi Dandim. Satuan-satuan yang ada di Pos untuk membantu pemerintah daerah, membuka wilayah yang terisolir,” jelasnya.

“Jika ada yang minta penarikan pasukan, orang tersebut perlu dipertanyakan. Bisa dibilang dia berafiliasi dengan KKB. Soal penarikan pasukan itu kebijakan pimpinan, tapi kita ketahui bahwa Panglima maupun KSAD memberikan perhatian untuk Papua. Langkah langkah yang diambil harus persuasif,” ucapnya.

Secara terpisah, Kapolres Asmat, AKBP. Dhani Gumilar menyampaikan, pihaknya masih dalam penyelidikan terkait dengan informasi warga yang mengungsi dan informasi kios yang dibakar di Distrik Suru-suru.

“Masih dalam penyelidikan. Kami belum bisa masuk ke TKP dikarenakan terkendala akses transportasi dan jaringan komunikasi. Anggota sedang mendalami informasi dari masyarakat Suru-suru yang turun ke Distrik Tomor,” tutup Kapolres, kemarin (24/11). (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *