Sempat 8 Bulan Kondusif, Konflik di Intan Jaya Meluas

Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni didampingi Ketua DPR Papua, Jhon Banua Rouw, disela-sela jumpa pers yang berlangsung di Gedung DPR Papua, Senin (23/11 malam. (Yewen/Cepos)

JAYAPURA– Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni mengungkapkan bahwa situasi dan kondisi di Kabupaten Intan Jaya selama kurang lebih 8 bulan belakangan ini sudah sempati  kembali kondusif seperti biasa. Namun, akhir-akhir ini konflik di Intan Jaya semakin meluas dan sulit dikendalikan.

  “Memang sejak 8 bulan yang lalu sudah lumayan kondusif berjalan, namun setelah hilangnya saudara Sem Kobogau itu muncullah aksi-aksi dari TPN-OPM atau KKB yang saling balas membalas dan kini sudah meluas dan kembali lagi Intan Jaya menjadi konflik yang tidak bisa dihentikan,” ungkapnya kepada wartawan, usai menggelar konferensi pers di Gedung DPRP Papua, Senin (22/11) kemarin malam.

  Meskipun demikian, kata Tabuni dalam posisi ini pihaknya sendiri telah melakukan koordinasi dan komunikasi bersama seluruh Forkopimda, baik Dandim dan Kapolres setempat. Hasilnya sendiri sudah disampaikan kepada Panglima dan sudah di mengutus Polisi Militer ke Intan Jaya dan saat ini sedang dalam proses.

   “Masyarakat dalam artian KKB ini belum sabar, sehingga terus melakukan gerakan-gerakan. Tapi kami dalam pertemuan dengan masyarakat kami sudah menyampaikan bahwa saat ini dalam proses berjalan,” ujarnya.

   Natalis Tabuni menyampaikan, pihaknya dari pemda tidak hanya melakukan komunikasi kepada TPN-OPM, tetapi pihak TNI-POLRI juga terus membangun komunikasi dengan mereka, sehingga untuk bisa menahan serta nasehat, sehingga tidak melakukan aksi-aksi yang merugikan semua pihak.

  “Kami juga sebagai sipil dalam hal ini Pemerintah Daerah (Pemda) melibatkan berbagai pihak seperti LSM, para kepala kampung, kepala distrik dan juga lembaga DPRD sudah melakukan pendekatan kultural, kekeluargaan dan juga secara agamis kepada mereka,” ujarnya.

  Tabuni menyebutkan, pihak TPN-OPM atau KKB ini memang ada beberapa kelompok dan tidak hanya satu kelompok. Dari kelompok ini memang ada yang berjuang sebagai TPN-OPM dari dulu di Intan Jaya seperti Ayub Waker. Ada juga yang baru muncul seperti yang dijelaskan oleh kepolisian bahwa mencari eksitensi atau jati diri dengan melakukan penembakan dengan motivasi belum jelas.

  “Ini sudah kita lakukan identifikasi masing-masing. Kalau dengan kelompoknya dengan Ayub Waker atau sekarang Sabinus Waker saya pikir sudah kesepakatan untuk berhenti perang. Karena sejak awal sampai sekarang pasukannya tidak terlibat lakukan penembakan,” sebutnya.

  Sedangkan untuk kelompok TPN-OPM atau KKB yang keluar dari Paniai, Nduga, Puncak yang ke Intan Jaya, menurut Bupati Natalis yang harus butuh komunikasi yang lebih serius sambil tetap sabar. Walaupun dari tahun 2019 sampai sekarang bukan waktu yang sedikit. “Tapi kita harus sabar dan sabar lagi untuk melakukan komunikasi, sehingga kedepan mereka bisa mengerti, memahami dan bisa mengendalikan diri untuk berhenti melakukan aksi-aksi yang menimbulkan konflik yang berkepanjangan,” ujarnya. (bet/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *