Hadapi Penolakan, Pengusuran Rumah Ditunda

Petugas Gabungan saat mencoba melakukan penggusuran rumah di lahan UPBU Wamena  dengan memutuskan aliran listrik di salah satu rumah, Selasa (23/11). (Denny/ Cepos)

WAMENA-Rencana penggusuran 4 rumah yang berada di tanah milik UPBU Kelas I A Wamena, nampaknya masih tarik ulur dan terus mendapat penolakan dari warga yang mendiami lokasi tersebut. Hingga kemarin, petugas belum bisa melakukan eksekusi lantaran warga belum bersepakat soal ganti rugi bangunan yan ada di atas tanah tersebut.

  Dalam pelaksanaan penggusuran oleh UPBU Kelas I Wamena  mendapatkan perlawanan dari masyarakat. Bahkan alat berat yang masuk di lokasi tersebut  dipalang dan disuruh kembali atau tidak membongkar bangunan tersebut. Disamping itu, petugas PLN juga melakukan pemutusan aliran listrik harus menyambung ulang ke rumah warga, karena warga tak ingin aliran listriknya diputuskan.

  Warga yang mendiami lokasi tanah tersebut merupakan keluarga dari mantan pegawai UPBU Wamena yang sudah berdedikasi untuk pembangunan bandara di Wamena, namun sudah berstatus pension. Namun mereka  menuntut ada  kejelasan dari pihak UPBU Wamena tentang tuntutan mereka selama ini.

  Ketua Komisi C DPRD Jayawijaya Iwan Asso, yang melakukan pertemuan dengan warga di Perumahan Pensip Wamena menyatakan sebenarnya masalah ini sudah dibahas bersama di DPRD jayawijaya,  namun belum ada kata sepakat baik dari UPBU Wamena  dan juga warga yang mendiami lokasi tersebut.

  “Sebenarnya warga sudah mengaku kalau itu tanah dari Bandara Wamena, namun yang mereka inginkan ada sedikit perhatian dari pihak bandara dalam hal ini UPBU Wamena,” jelasnya.

   Ia menyatakan dari hasil diskusi dengan masyaarkat di Pensip, mereka mengaku pernah dijanjikan bagi anak -anak pensiunan dari UPBU Wamena yang masih ada di lokasi itu untuk diberikan  semacam kegiatan, kedua direncanakan anak -anak ini menjadi karyawan tetap di Bandara wamena.

  “Hal ini tidak berjalan, sehingga menimbulkan kekecewaan bagi mereka ditambah lagi dari UPBU Wamena memaksakan untuk melakukan penggusuran sehingga terjadi keributan kecil anatara warga dengan petugas,” kata Ketua Komisi C.

  Ia juga mengaku telah mencoba untuk menghubungi kepala UPBU Wamena, namun tidak merespon panggilan teleponnya. Tak lama kemudian,  Kapolres Jayawijaya tiba di tempat dan melakukan komunikasi ulang dengan kepala bandara Wamena.

  “Jadi keinginan masyarakat seperti apa nanti kita bisa diskusikan dengan kepala bandara menyangkut masalah ini,  rencananya kita dari dewan yang fasilitasi namun kalau kepala bandara bisa hadir lebih baik lagi, agar kita bisa selesaikan masalah ini,”tuturnya.

   Sementara itu Kepala UPBU Kelas I A Wamena  sampai saat ini belum bisa memberikan komentar terkait  rencana penggusuran 4 rumah yang berada di lahan milik Bandara Wamena. (jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *