Sepakat Berdamai, Pembuat Video yang Sentil Kitab Suci Minta Maaf

Suasana pertemuan antara PGGJ  dengan tiga pemuda yang membuat video Tik Tok yang menyentil ayat kitab suci di Polres Jayapura, Senin, (22/11).

SENTANI– Pihak Persatuan Gereja-gereja Jayapura (PGGJ)  dengan tiga pemuda yang terlibat dalam pembuatan video Tik Tok yang menyentil ayat kitab suci, akhirnya sepakat berdamai. Tiga pemuda ini mengaku khilaf dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kristiani Papua dan Indonesia umumnya terkait dengan konten video yang sempat viral beberapa waktu lalu itu.

Mewakili rekannya, AC mengatakan, sesungguhnya mereka bertiga yang terlibat dalam pembuatan konten tersebut tidak bermaksud untuk menghina ayat kitab suci dan menista agama.  Niat mereka sebenarnya melalui video tersebut, mereka ingin mengajak masyarakat untuk membaca dan melihat kitab suci.  Namun ternyata, apa yang yang mereka pikirkan tidak seperti yang dipikirkan oleh masyarakat Kristiani pada umumnya.  Sehingga hal ini kemudian memicu reaksi dan kecaman dari masyarakat.  Karena itu, pihaknya mengaku bersalah dan sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya itu, pihaknya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Kristiani di Papua dan Indonesia pada umumnya.

“Niatan kami sebenarnya mengajak orang-orang untuk lebih banyak membaca dan membuka Alkitab.  Cuma terjadi miss komunikasi sehingga terjadilah seperti ini.  Karena sudah terjadi, maka kami juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.  Mohon dimaafkan karena semua orang pernah berbuat dosa dan salah,” katanya kepada media ini di Kantor Polres Jayapura,  Senin (22/11), kemarin.

Dia mengatakan, ada pelajaran positif yang bisa diambil dari Kejadian ini.  Terutama mengajarkan pihaknya untuk kedepan lebih selektif dalam membuat konten dan tentunya lebih berhati-hati lagi.

Sementara itu, Ketua PGGJ Kabupaten Jayapura, Naftali Modou menjelaskan, penyelesaian masalah ini sudah melalui ranah hukum dengan melaporkan ketiga pembuat konten video tersebut ke Polres Jayapura.  Namun karena pihaknya sudah mendengar penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari pembuatan video itu yakni kemudian membuka hati untuk memaafkan mereka.

“Kami berharap lain kali tidak lagi membuat konten-konten yang berkaitan dengan firman Tuhan dengan disertakan unsur pornografi.  Kalau mau menggunakannya itu harus tahu konteksnya seperti apa,” tambahnya. (roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *