Sempat Mau Sewa Pembunuh Bayaran

Terdakwa MM dan VL ketika duduk di kursi pesakitan pada sidang perdana kasus dugaan pembunuhan berencana yang digelar di PN Jayapura, Senin (22/11). (Gamel/Cepos)

Terdakwa VL terlihat berkonsultasi dengan tim penesehat hukumnya usai mendengarkan dakwaan yang dibacakan JPU pada persidangan di PN Jayapura, kemarin (22/11). (Ayu/Cepos)

*Sidang Perdana Kasus Cinta Segitiga Berujung Maut

JAYAPURA-Sidang perdana kasus cinta segitiga yang mengakibatkan pembunuhan terhadap Nasrudin atau Acik salah seorang pengusaha perhiasan emas di Keerom, Juni 2021 lalu di Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Senin (22/11) kemarin digelar di Pengadilan Negeri Jayapura.

Kasus yang melibatkan seorang pemuda berinisial MM berusia 23 tahun berkewarganegaraan Afganistan ini sempat menarik perhatian. Pasalnya siapa yang menyangka jika dibalik gantengnya sosok berkulit terang ini,  ia justru diduga ikut terlibat dalam pembunuhan yang diduga kuat direncanakan. Korbannya adalah suami dari kekasih gelapnya bernama Nasrudin atau Acik sedangkan kekasih gelapnya berinisil VL yang juga jadi terdakwa dalam kasus ini.

Sidang yang awalnya dijadwalkan digelar pukul 10.00 WIT ini baru dimulai pukul 15.30 WIT.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, kedua terdakwa juga tak saling berbicara, baik saat masuk ke ruang sidang maupun saat keluar dari ruang sidang.

Terdakwa MM datang menggunakan kemeja lengan panjang kotak – kotak dan celana  berwarna abu – abu. Ia juga menggunakan sandal sport, Nike. Sedangkan sang kekasih VL juga menggunakan kaos lengan panjang  yang motif kotak – kotaknya lebih kecil  dengan celana hitam dan sepatu berwarna coklat.

Keduanya duduk di kursi pesakitan menggunakan rompi tahanan  berwarna merah. Meski duduk satu bangku namun keduanya memberi jarak hampir 2 meter dan sekali lagi tak saling menyapa.

Sidang perdana ini dipimpin oleh majelis hakim Edi  Suprayitno, SH., MH., Andi Asmuruf, SH., dan Lin Carol Hamadi SH.

Edi Suprayitno sendiri merupakan Ketua Pengadilan Negeri Kelas I. Sedangkan jaksa penuntut umum (JPU) adalah Rakhmat SH untuk JPU terdakwa MM dan Yang Melva Rian, SH., untuk terdakwa VL.

Sementara tim penasehat hukum juga terbagi dari dua yakni Yuliyanto & Associates untuk  PH dari MM dan tim Albar Yusuf SH., MH dan kawan-kawan untuk terdakwa VL.

Sidang diawali dengan pembacaan dakwaan dimana berkas kedua terdakwa dipisah atau displit. Jaksa Melva membacakan dakwaan hampir sama persis dengan cerita saat dilakukan rekonstruksi, dimana Senin 28 Juni 2021 sekira pukul 17.00 WIT  korban, Narsudin dan istrinya VL berangkat dari Arso II menuju Jayapura untuk pergi ke dokter mata (dr. Wendy) di Apotik Kimia Farma depan Kantor Pos Jayapura.

Setelah dari dr. Wendy, korban dan VL menuju toko parfum Lily di samping Bank Mandiri Jayapura dan dilanjutkan ke Mal Jayapura untuk membeli susu dan pampers.

Sekira pukul 21.00 WIT, korban dan VL  kemudian pulang ke rumahnya di Arso II dengan memilih melewati Jembatan Youtefa dan arah kendaraan melintas di Km 9. Sesampainya di tempat kejadian perkara, mobil korban dicegat dan korban keluar dari mobil. Dimana ketika itu VL mengaku sedang tertidur kemudian terbangun setelah melihat sang suami terjatuh di pahanya.

Di situlah MM disebut melakukan penusukan berulang – ulang dan sempat mengenai tangan kanan VL.

Setelah itu, MM mengambil tas korban dan pergi meninggalkan keduanya. Korban Narsudin disebut tewas di lokasi kejadian dengan 39 luka tusuk.

Terdakwa MM sendiri berhasil diamankan di Bandara Sentani pada Sabtu (3/7) lalu saat akan berangkat ke Makassar. Polisi mengecek manifest dan menemukan nama MM di dalamnya. Sedangkan istri korban pada Jumat (2/7) sudah berangkat lebih dulu ke Makassar untuk mengantarkan jenazah suaminya.

Dari pengembangan penyidikan diketahui, modus pelaku menghadang mobil korban dengan cara mengaku sebagai Polisi kemudian meminta  korban turun karena membawa ganja. Saat korban turun inilah, pelaku menghabisi korban.

Sementara hasil pendalaman kasus diketahui jika MM dan VL baru menjalin hubungan selama 6 bulan. Dimana bermula ketika Januari 2021, VL berkenalan dengan MM lewat aplikasi Instagram kemudian melakukan copy darat di Jayapura.

Keduanya sempat bertemu di Hotel Fox Jayapura. Dari pertemuan ini, keduanya sepakat untuk lebih sering bertemu dan akhirnya muncul keinginan untuk bisa hidup bersama. Hanya saat itu, VL masih memiliki suami sehingga terencanalah niat menghabisi korban.

Upaya untuk menghabisi Nasrudin ini ternyata bukan sekali. Sebelumnya pernah direncanakan  membunuh korban dengan cara meracuni menggunakan obat jamur  kaki namun tak berhasil. Upaya lainnya direncanakan  menyewa pembunuh bayaran dengan biaya hampir Rp 100 juta.

Ini juga tak berhasil hingga keduanya sepakat melanjutkan aksi yang disusun mulai dari perjalanan ke Jayapura. Seperti diketahui hubungan antara VL dan suaminya sempat tak harmonis. Ini lantaran VL diketahui pernah berselingkuh dan  saat itu hampir terjadi perceraian.

Usai pembacaan dakwaan yang pertama untuk terdakwa VL, para penasehat hukum terdakwa sepakat mengajukan eksepsi. “Iya kami keberatan dengan dakwaan dan kami ajukan eksepsi. Nanti dibacakan seminggu lagi,” kata Albar Yusuf SH., MH., di persidangan.

Sedangkan kuasa hukum terdakwa MM, Yulianto, SH., MH., menyatakan tidak akan mengajukan ekspsi namun pihaknya meminta pengadilan menggelar sidang secara terbuka atau tidak dilakukan dengan cara online.

“Kami  sepakat tidak lakukan eksepsi tapi kami minta agar semua dibuka di depan ruang sidang ini. Saksi – saksi darimana saja dihadirkan termasuk saksi ahli forensic,” beber Yulianto.

Menariknya dalam sidang ini, terdakwa MM mengaku tidak tahu soal penikaman termasuk pisau yang disebutkan bahwa ialah yang menerima dari terdakwa VL. “Tidak – tidak, saya tidak tahu ada penikaman dan itu pisau juga saya tidak tahu,” ucapnya.

Terdakwa MM  terlihat cukup kooperatif dengan menjawab pertanyaan – pertanyaan majelis hakim dan  meski sempat mengaku kesulitan berbahasa Indonesia namun akhirnya semua berjalan lancar.

Dalam komunikasi selama sidang, MM cukup fasih berbahasa Indonesia  meski majelis hakim sempat menggunakan bahasa Inggris. “You understand,” tanya majelis.

Sementara dari dakwaan yang dibacakan JPU, keduanya melekat pasal yang sama yakni pasal 340 KUHP, pasal 338 KUH dan sub paal 55  KUHP. Sidang akan kembali dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan eksepsi dari kuasa hukum VL. (ade/cr-265/nat)

Walaupun Orang Asing, Mahdi Tidak Terkendala Bahasa Saat Ikuti Persidangan

JAYAPURA – Pelaku pembunuhan Nasruddin atau Acik (45) seorang juragan toko emas di wilayah Arso, menjalani persidangan pertama di Pengadilan Negeri Kelas 1A Jayapura pada Senin (22/11). Mahdi Mehrban (23) dan Vergita Legina Hellu (25) sebagai pelaku pembunuhan berencana yang terjadi di Holtekamp menjalani persidangan bersama penguasa hukumnya. Yaitu Albar Yusuf, Mursani, dan Nita S. Sibarani selaku kuasa hukum Virgita atau akrab di sapa Caca. Sedangkan Yuliyanto, Titi Susan N. Rumaherang, Vera Wati Ngamel, Yosi Pangandaran, Purwaningsih, Dr. Muhammad Yusuf dan Edi Amoye merupakan kuasa hukum Mahdi.

Persidangan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan Negeri Jayapura, Eddy Soeprayitno S. Putra didampingi hakim anggota Linn Carol Hamadi dan Andi Asmuruf. Sidang diawali dengan pembacaan surat dakwaan kedua terdakwa. Surat dakwaan pertama dibacakan oleh jaksa penuntut umum kepada terdakwa Vergita Legina Hellu, dan setelah itu surat dakwaan kedua kepada Mahdi Mehrban. Sidang pidana berlangsung sejak pukul 15.00 WIT.

Atas perkara tersebut Jaksa Penuntut menjerat keduanya dengan pasal pembunuhan berencana yaitu Pasal 338 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP. Pada pembacaan dakwaan tersebut pihak Vergita atau Caca mengajukan keberatan sedangkan Mahdi tidak mengajukan keberatan. Dalam persidangan tersebut Mahdi yang merupakan warga negara asing mengalami kendala terkait bahasa dalam memahami apa yang disampaikan oleh jaksa. Walaupun kesulitan, ia mengaku memahami inti dari surat dakwaan tersebut. “Saya mengerti sedikit-sedikit bahasa Indonesia.” Ucapnya ketika ditanyai oleh Hakim yang memimpin majelis.

“Persidangan dilangsungkan dengan bahasa Indonesia dan kami tanyai kepada terdakwa apakah memahami bahasa. Dan ternyata dia paham walaupun sedikit-sedikit. Jadi tidak ada masalah. Kecuali jika terdakwa tidak bisa sama sekali bahasa Indonesia sehingga kalau ditanyai tidak bisa menjawab. Tetapi tadi kita lihat sendiri bahawa terdakwa Mahdi bisa menjawab dengan lancar ketika ditanyai dalam bahasa Indonesia.” Terang Eddy seusai memimpin persidangan. Selanjutnya caca akan menjalani sidang pembacaan esepsi karena mengajukan keberatan pada Senin 29 November, sedangkan Mahdi akan menjalani persidangan selanjutnya yaitu pemeriksaan saksi-saksi pada 6 Desember 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *