FIFA Jamin Siapa Saja Boleh Datang untuk Saksikan Piala Dunia 2022

Mantan pesepak bola Prancis, Marcel Desailly, CEO Hublot Ricardo Guadalupe, dan Presiden FIFA Gianni Infantino berpose bersama jam Piala Dunia dalam acara satu tahun sebelum kick-off Piala Dunia Qatar 2022, di Corniche Fishing Spot, Doha, Qatar, (REUTERS)

JawaPos.com – Presiden FIFA Gianni Infantino menandaskan semua orang bakal disambut di Qatar untuk menyaksikan Piala Dunia 2022. Hal itu disampaikan Infantino saat memasang jam digital hitung mundur untuk mengingatkan satu tahun sebelum kick-off Piala Dunia 2022 yang kontroversial dan pertama diadakan di Timur Tengah itu.

Pertandingan pembuka Piala Dunia 2022 akan berlangsung 21 November 2022 di Stadion Al Bayt yang berkapasitas 60.000 orang. Infantino mendesak semua penggemar sepak bola dan semua orang boleh menghadiri ajang empat tahunan tersebut negara Teluk Arab.

“Kita tak boleh beranggapan seandainya kita diam di rumah saja dan hanya mengkritik, maka segalanya bakal berubah. Segalanya sudah membaik. Segalanya akan terus membaik,” kata Infantino seperti dikutip Reuters, Senin (22/11).

Dalam acara yang dilangsungkan Minggu (21/11) malam waktu setempat, mantan bintang-bintang sepak bola seperti David Beckham dan Samuel Eto’o menyaksikan pertunjukan drone dari dermaga di West Bay Doha saat penyelenggara menjanjikan sebuah turnamen yang spektakuler.

Namun, di sela-sela acara para pejabat bersikap defensif dalam isu-isu penting yang telah mengganggu turnamen ini selama bertahun-tahun seperti undang-undang anti-LGBTQ yang ditetapkan Qatar, kesejahteraan pekerja migran dan tudingan korupsi.

Nasser Al Khater, CEO Piala Dunia 2022, membela catatan negaranya di meja bundar virtual dengan wartawan pada Sabtu (20/11) malam. “Qatar sudah diperlakukan dan diadili secara tidak adil, diperlakukan tidak adil bertahun-tahun,” kata Al Khater.

Dia membantah tuduhan Departemen Kehakiman AS bahwa suap telah dibayarkan untuk mengamankan suara ketika Qatar dianugerahi hak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 pada 2010 lalu.

Dia juga membela kemajuan negara ini dalam hak asasi manusia dengan menunjuk reformasi tenaga kerja yang baru-baru ini dilakukan, tetapi mengingatkan bahwa masih banyak tugas yang harus dikerjakan.

Amnesty International baru-baru ini mengatakan bahwa reformasi perburuhan di negara ini belum memperbaiki kehidupan pekerja dan bahwa praktik-praktik seperti menyandera gaji dan meminta pekerja berganti pekerjaan masih menjadi hal yang biasa dilakukan. Pemerintah Qatar menolak temuan Amnesty International tersebut.

Pada Jumat (19/11), Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengatakan Qatar tidak cukup menyelidiki dan melaporkan para pekerja yang meninggal dunia di negara itu.(JawaPos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *