Satu Pasien Covid Meninggal Dunia

Para Relawan Pemakaman Covid-19 saat memakamkan satu jenazah pasien Covid di lokasi pemakaman Buper Waena, Kamis (18/11). Kematian kali ini menjadi yang pertama setelah hampir satu setengah bulan tak ada pasien covid yang meninggal. (Yamamoto for Cepos)

*Jangan Jadi Pembuka Gelombang Baru

JAYAPURA– Setelah sempat absen di bulan Oktober 2021 lalu, pasien covid yang dinyatakan meninggal akhirnya kembali muncul pada Rabu (16/11).

Pasien berusia 37 tahun dideteksi mengalami gejala berat, pneumonia ensefalitis, hiperkoagulopati dan gagal nafas.  Jenazah berjenis kelamin perempuan ini akhirnya dimakamkan di  lokasi pemakaman covid di Buper, Waena, Kamis (18/11).

Sebelum jenazah Covid ini, jenazah terakhir yang dimakamkan yaitu pada September 2021 dan pada Oktober tak  ada satupun yang dimakamkan di Buper dan kini November muncul lagi satu.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari yang dikonfirmasi membenarkan adanya satu pasien Covid-19 yang meninggal dunia di ruang ICU Covid 19 RS Dian Harapan, Rabu (17/11) lalu.

Menurut dr. Antari, pasien tersebut mulai dirawat di RS Dian Harapan sejak 10 November. Pasien ini dalam kondisi sakit berat, ditambah komplikasi, yang mana pasien memiliki penyakit penyerta TB (Tuberculosis).

“Pasien masuk pada 10 November di RS Dian Harapan dan kemudian setelah diperiksa di Litbangkes, dinyatakan positif Covid-19. Memang kondisinya kesehatannya semakin memburuk dan yang bersangkutan sakit berat, dan ada komplikasi. Komorbidnya TB,” ungkap dr. Sri Antari., kepada Cenderawasih Pos Kamis (18/11) kemarin.

Diketahui bahwa hingga saat ini kasus meninggal dunia akibat Covid-19 di Kota Jayapura telah mencapai 270 kasus dari 12.974 kasus secara kumulatif, yang mana 12.698 kasus sembuh, dan tersisa 6 kasus yang masih dalam perawatan saat ini.

Secara terpisah, Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., menarget Kota Jayapura masuk zona hijau dalam penanganan Covid 19. Ini dapat terwujud dengan terus menekan angka penularan kasus Covid 19.

“Kita di Kota Jayapura, dari PPKM Level 4 sudah turun ke PPKM Level 2. Demikian, saya menargetkan agar Kota Jayapura masuk zona hijau, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang tidak kendor, terutama di aktivitas publik, aktivitas ekonomi, di rumah ibadah, sekolah, maupun di tempat umum lainnya,” tambahnya.

Secara terpisah, Yamamoto Sasarari, salah satu  anggota Gugus Tugas Covid Provinsi Papua yang juga Relawan Pemakaman Covid-19 menyebutkan, yang perlu diantisipasi adalah jangan sampai dari kemunculan ini menjadi pemicu lahirnya gelombang baru covid.

“Untuk yang  kami makamkan di pekuburan covid khususnya di tahun 2021 tercatat ada 197 orang. Hanya ini belum dengan  jenazah yang dimakamkan pada tahun 2020,” ujar Yamamoto Sasarari saat ditemui di lokasi pemakaman Buper, Kamis (17/11).

Dari total keseluruhan yang sudah dimakamkan di lokasi Buper Waena diperkirakan berjumlah sekitar 300 orang lebih. “Iya sekitar 300 lebih dan belum mencapai 400 orang. Itu sudah dengan yang dimakamkan di tahun 2020 lalu,” jelasnya.

Dari momentum yang dikatakan angka covid sempat meledak terjadi pada Juli – Agustus lalu dimana dalam sehari rata – rata pasien yang dikubur bisa mencapai 10 orang. “Bahkan ada beberapa kali yang 12 orang. Itu moment dimana angka covid meledak ditahun ini dan kami benar-benar kewalahan ketika itu,” tuturnyaa.

Dari tingginya angka penderita yang meninggal, dikatakan proses pemakaman tidak hanya dilakukan di siang hari tetapi sampai malam hari. Hanya saja tidak semua pasien covid mau dimakamkan menjadi satu, karena ada pihak keluarga yang  meminta dimakamkan di pemakaman umum.

“Itu yang jumlahnya 43 orang tadi. Mereka meninggal Covid tapi minta dimakamkan di lokasi pemakaman umum,” tambah Yamamoto.

Disinggung soal  keluarga lain yang meminta jenazah diangkat dan digabung  di kuburan umum, kata Yamamoto permintaan ini sudah beberapa kali  didengar. Hanya tim pemakaman dan gugus tugas tentunya memerlukan beberapa surat keterangan yang salah satunya dari kepolisian.

“Sudah ada beberapa  orang yang tanya dan minta mereka (jenazah) dipindahkan dan kami tidak masalah. Ada yang menginginkan digabung di Tanah Hitam tapi  kami dengar lokasi di Tanah  Hitam itu juga hampir penuh dan mungkin tidak lama lagi ditutup dan dialihkan ke lokasi di Buper,” ungkap Yamamoto.

Setelah  mendenar informasi ini dikatakan pihak keluarga akhirnya mengurungkan niat – niat tadi. “Setelah mereka dengar bahwa lokasi di Tanah Hitam mulai penuh dan pemerintah akan mencarikan lokasi baru di Buper juga akhirnya mereka bilang tidak usah, tidak jadi kalau begitu,” tutupnya.

Sementara itu, Satgas Covid-19 Provinsi Papua menyatakan sangat mendukung pelaksanaan PPKM level III di seluruh Indonesia yang akan dilakukan pada bulan Desember oleh pemerintah pusat.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, SpOG (K) menjelaskan, sampai dengan saat ini pelaksanaan PPKM setelah diambil.alih oleh Mendagri, penurunan angka Covid-19 terus berangsur-angsur membaik.

“Menurut kami kebijakan pemerintah pusat dalam menerapkan PPKM 1, 2, 3 dan 4, sangat efektif, dibantu dengan kerjasama kreatif dari setip satgas masing-masing kab/kota,” katanya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (18/11) kemarin.

Diakuinya, selain itu koordinasi yang baik antara Satgas Covid-19 Provinsi Papua dengan Satgas Covid kab/kota, sehingga pemantauan kasus di Papua bisa terkontrol dengan baik.

“Imtinya terkait penerapan PPKM Level III oleh Mendagri, kami belum menerima surat edaran tersebut. Jika ada, pastinya kami akan sangat mendukung, karena keputusan pemerintah pusat merupakan keputusan yang sangat efektif bagi Papua,” tambahnya.

Diakuinya, jika sudah ada edaran Mendagri tersebut pastinya pihaknya akan langsung mensosilisasikan kepada masyarakat Papua. (gr/ade/ana/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *