Dukungan Anggaran Rp 3,5 M. Tapi Atlat Difabel Papua Barat Pulang Naik Kapal Laut

Tampak para atlet Difabil dari Provinsi Papua Barat yang berkursi roda harus naik kapal laut kembali ke Papua Barat ketika sedang di Pelabuhan Jayapura, Kamis, (18/11). (Noel/Cepos)

JAYAPURA  Merasa diterlantarkan karena harus membawa atlet difabel menaiki kapal penumpang yang jelas tidak layak bagi mereka. Pendamping dan atlet  dari Papua Barat mengaku kecewa karena tidak naik pesawat seperti atlet lainnya yang mengikuti pertandingan pada Peparnas Papua.

Hal ini disayangkan oleh Puji Astuti Olivia yang merupakan Pengurus Cabor Boccia Provinsi Papua Barat yang sebagai sponsor yang mengakomodir para atlet difabil khususnya  Grahita Ganguan Syaraf/Mental yang harus dikursi roda dan naik kapal laut.

“Kami ada 250 orang dalam satu kontungan dengan 9 cabor, kami seharusnya tangal 15 tapi harus rubah cencel pesawat dan kami diarahkan naik kapal, sementara mereka ini semua bukan atlet normal dan kesulitan untuk naik apalagi kebanyakan yang saya tangani mereka yang alami ganguan mental,” ujarnya.

Dikatakan sementara ini pengurus 5 orang ke Papua Barat untuk mengurus keuangan dan seharusnya responya cepat karena difabel harusnya naik pesawat.

“Meraka siapakan tapi kondisi hotel  yang tidak memungkinkan dan atlet Bocia (Grahita) tidak bisa di tinggalkan di satu tempat.  Sementara dalam sejarah untuk pertama kalinya Papua Barat ikut Peparnas.  Mereka atlet Boccia masuk di 5 besar dan ini kali pertama terus yang buat kami kecewa karena tidak ada dana pembinaan dan ini jelas kami terdiskrikiminasi harusnya kami naik pesawat bukan kapal,” katanya.

Ia mengatakan konflik interen antara NPC dengan Pemda setempat seperti Dispora dan Wakil Gubernur hendaknya jangan berdampak kepada para atlet yang seharusnya di perhatikan dan kepentingannya diutamakan.

“Kami sudah buktikan Papua Barat juga bisa dengan kondisi keterbatas, saya berharap usia anak-anak, menimal sekolah mereka diperhatikan Pemda dari jenjang pendidikan dan Atlit Boccia yang tidak sekolah banyak yang tidak sekolah, maka kami harapkan bisa diperhatikan, karena kami sudah getarkan nama Papua Barat untuk pertama kali masuk di Peparnas,  kami urutan 14 dengan tujuh emas, yang kami tau dukungan angaran Rp 3,6 M, dan 1,5 M sudah di cairkan dan tahapan kedua dan ketiga belum tau berapa tapi dana sisah belum jelas sampai saat ini maka terjadi keterlantaran,” katanya.

Sementara itu atlet difabel untuk cabor atletik yang meraih emas Kesyah Akwan mengaku sedih dan kesalah dengan situasi ini.

“Posisi teman-teman kami sedih dan  marah juga ada, sedih karena kita di tidak diperhatikan dan kami meraasa dikecilkan jadi atlet marah tapi kami diam  dan kami ikut saja,” ujarnya.

Ya berharap dengan kondisi ini pemerintah dapat memperhatikan beberapa atlet yang berhasil menyumbang medali emas dengan memberikan dana prestasi sesuai dengan yang dijanjikan.

“Harapkanya kami minta rencana pemberian bonus tetap di wujutkan pemerintah bagi kami yang berikan prestasi,” ujarnya, (oel/gin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *