Impian “Memimpin Diri Sendiri” dan Jebakan-Jebakannya  

Almarhum Andreas Deda bersama dengan Hengky Mofu mendampingi mahasiswa menyanyikan Lada (lagu daerah) di Fakultas Sastra Unipa (foto: I Ngurah Suryawan)

Mengenang Andreas Jefri Deda

 

Shall there is no way to

by then give extra enough

where stand stay

reach what needs without shall

where extra enough needed without

no nothing could be

leg and hand scoring thought and heart

—————————

Jika tak ada jalan untuk

dan karenanya berilah kecukupan lebih

dimana berdiri tetap

jangkau apa yang butuh tanpa harus

Ketika kecukupan lebih butuh tanpa

bukan tidak bisa yang ada

kaki dan tangan menopang pikiran dan hati

@ Deda Andrew

Manokwari, 1 Juni 2020. Asjap – Amban.

 

I Ngurah Suryawan

Saya merasakan betul kehilangan spirit pemikiran “kedaulatan Papua” yang selalu akan saya kenang dari almarhum Andreas Jefri Deda. Kak Andi begitu saya sering menyapanya adalah orang yang mewawancari saya saat melamar menjadi dosen di Fakultas Sastra, Universitas Papua medio 2009 ketika itu. Itulah pengalaman saya pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Papua. Pengalaman awal yang kemudian membuka cakrawala pemikiran dan perjalanan hidup saya. Saat wawancara itu beliau bertanya, “Mengapa anda meninggalkan Bali?, apakah anda yakin untuk menjadi dosen di Papua?” Tentu ini adalah pertanyaan yang sudah saya duga sebelumnya, tapi mulut ini seolah kelu untuk menjawabnya secara meyakinkan. Kelak, jawaban inilah yang selalu membuat saya mempunyai semangat, ikatan emosional bahkan menitikkan air mata saat membicarakan Tanah Papua dan pribadi-pribadi yang ada di dalamnya.

Tanda tanya atas jawaban saya itulah yang selalu menjadi kegelisahan Kak Andi. Konteksnya yang berbeda. Kak Andi selalu mempertanyakan  dirinya, tanah kelahirannya, dan masa depan generasi muda Papua di tanah mereka sendiri. Refleksi yang saya kira selalu menjadi pergumulannya hingga akhir hayatnya. Perhatiannya sangat besar terhadap masa depan generasi muda Papua di tengah berbagai jebakan-jebakan. Inilah titik paling sentral yang menjadi alasannya untuk mencintai budaya dan bahasa Papua, kekristenan, dan sudah tentu adalah Izaak Samuel Kijne. Spirit dari nilai-nilai itulah yang selalu didiskusikan kepada saya, kepada kami di Fakultas Sastra Unipa (Universitas Papua) saban sabtu sore sambil beberapa teman memainkan music dan menyanyikan lagu-lagu daerah Papua. Kadang Ia juga mengunjungi ruang-ruang jurusan dan berdiskusi tentang bahasa dan budaya Papua.

Kecintaan terhadap budaya dan bahasa Papua jugalah yang mendorong Kak Andi untuk menggerakkan penggunaan noken dan batik Papua di lingkungan Fakultas Sastra Unipa. Pergelaran seni budaya juga berlangsung semarak. Ia dengan bersemangat mengikuti seri diskusi sastra dan budaya yang sempat saya dan kawan-kawan Fakultas Sastra Unipa gerakkan. Persembahannya untuk daerah kelahirannya tercinta, Sentani, ditunjukkan Kak Andi dengan menuliskan kamus tri lingual (tiga bahasa) yaitu Sentani-Indonesia-Inggris.  Buku sejarah Gereja Ebenhaeser Yoka yang diterbitkannya menujukkan kecintaannya terhadap nilai-nilai kekristenan yang menjadi salah satu pondasi penting kepapuaan.

Almarhum Andreas Deda bersama dengan Quin Tulalessy mengunjungi ruangan kerja saya di Fakultas Sastra Unipa (foto: I Ngurah Suryawan)

Esai ini adalah sedikit usaha saya untuk mengenang perjumpaan ide dan pegumulan dengan Kak Andi. Perjumpaan yang membawa kita pada beberapa waktu tentang realitas Papua kontemporer dan meneropong masa depannya. Terkhusus kami sering mendiskusikan masa depan anak-anak muda Papua di tengah kemelut konflik dan begitu banyak kepentingan di dalamnya. Kak Andi sering memulai diskusi dengan spirit nilai-nilai kekristenan yang ditanamkan oleh para penginjil yang datang ke Tanah Papua. Baginya, nilai-nilai kekristenan yang dibawa oleh penginjil bisa dijadikan salah satu pondasi dalam membangun Papua. Salah satunya yang seria Ia kutip dan tuliskan pandangannya adalah Izaak Samuel Kijne. Kak Andi meyakini ini dengan mengungkapkan:

Ketika kukenang Kijne, aku temukan sebuah pelajaran yang telah redup di zaman ini dari semua kepemimpinan anak – anak Papua. Semangatnya mengajarkan; anak satu Bapa bergandeng tangan dalam perbedaan bahasa dan kampung halaman telah semakin jelas meredup ketika pembangunan Papua itu didengungkan dengan ‘pembangunan berbasis wilayah budaya’.

Saya menulis esai ini sebagai bentuk penghormatan atas pemikiran dan lontaran ide-ide Kak Andi yang harus kita gumuli bersama. Ide yang perlahan-lahan sudah semakin jauh dari perbincangan tentang masa depan Papua. Pergumulan Kak Andi semakin sedikit mendapatkan perhatian dari generasi muda Papua yang tengah mempersiapkan dirinya menghadapi perubahan. Situasi yang membuat mereka, generasi muda Papua, kehilangan pijakan untuk menanggapi perubahan. Pijakan yang menjadai pondasi identitas dan nilai-nilai dari kepapuan itu sendiri. Inilah titik soalnya. Kegamangan itulah yang membawa banyak generasi muda Papua dalam berbagai jebakan. Implikasinya membuat generasi muda Papua semakin jauh dari kedaulatan dirinya. Diri dan hidupnya menjadi semakin tergantung dengan kuasa lain yang tidak bisa mereka kendalikan. Inilah yang saya sebutkan dengan jebakan-jebakan yang mengitari generasi muda Papua. Jebakan yang membuat mereka melupakan apa yang sebenarnya pondasi dan nilai-nilai kepapuaan yang utama. Inilah yang menjadi sumber pergumulan sebagai kecil generasi muda dan cendekiawan Papua. Salah satunya adalah Andreas Jefri Deda.

Spirit Kijne

Suatu sore menjelang malam, hari sudah mulai gelap dan hujan mulai turun. Motor Beat melaju pelan dan parkir di depan pintu masuk Fakultas Sastra Unipa. Seorang lelaki berjalan dan berdiri di depan pintu. “Eh, kam dua belom pulang?” tanyanya. Sa jawab sambil batariak dari dalam ruangan, “Belum bapa. Tong lagi ketik-ketik ini. Baru bapa?”. Dia kemudian menjawab akan kerja juga di kantor jadi minta tolong ditemani. Saya ketika itu bersama Kaka Nikodemus Wamafma berdua di ruangan Jurusan Antropologi.

Saya mengenang Kak Andi selalu memulai pijakannya dengan melatakkan nilai-nilai Pendidikan kekristenan yang dibumikan oleh Izaak Samuel Kijne. Nilai-nilai kekristenan inilah yang tumbuh mengawali interkoneksi diantara sesama orang Papua dan juga dunia. Pengaruh zending dan misi yang menyebarkan agama sekaligus pendidikan dipraktikkan salah satunya oleh Izaak Samuel Kijne. Tokoh inilah yang selalu menjadi rujukan dari Kak Andi yang meletakkan pondasi pendidikan Kekristenan bagi orang-orang Papua. Pengabdiannya mendidik orang Papua melalui sekolah asrama guru di Mansinam Manokwari dan dilanjutkan ke Miei Teluk Wondama dalam rentang waktu 1923-1953 merupakan inspirasi bagi dunia pendidikan di tanah Papua untuk mensinergikan nilai-nilai kekristenan dengan budaya Papua.

Izaak Samuel Kijne menggali pendidikan lokal yang berbasis adat dan budaya Papua untuk diadopsinya menjadi bahan pengajaran membaca melalui tiga seri Itu Dia, Djalan Pengadjaran di Nieuw Guinea. Kijne juga menangkap kegemaran orang Papua bernyanyi dengan merekamnya melalui nyanyian-nyanyian dalam Seruling Mas Njajian Pemuda Pemudi dan Perkataanja. Kijne dengan demikian adalah seorang yang multitalenta yang mampu menggali nilai-nilai pengetahuan dan pendidikan lokal Papua yang dipadukan dengan nilai-nilai Kekristenan.

I.S.Kijne melihat fenomena ini dan kemudian mencoba melihat pengetahuan-pengetahuan lokal dan karakter dari orang Papua sendiri. Ia berbekal pengetahuan dan “panggilan” sebagai seorang pendidik dan belajar untuk memahami apa yang menjadi isi hati dari orang Papua tersebut. Kijne adalah seorang penginjil zending yang berasal dari Belanda, datang dan diutus untuk mengajar dan mendidik orang Papua dahulu melalui sekolah-sekolah peradaban yang dibangun zending pada saat itu. Kijne memadukan sekaligus pendekatan agama, bahasa, dan budaya dalam

Kijne juga membuat buku yang sangat berguna bagi murid di sekolahnya dan memulai teknik mengajar secara global. Ia mengajar murid yang baru menggunakan buku dengan judul “Itu Dia”. Cara kerjanya dengan memulai memecahkan kalimat dan menggabungkan kalimat yang ada. Untuk berhitung, ia menggunakan “metode angka” berbaris. Dengan cara tersebut, anak-anak pada saat itu dapat memahami dengan benar pelajaran yang ada.

Pdt I.S. Kijne bersama istrinya (foto: Albert Rumbekwan dari dok. STT I.S. Kijne)

Kijne dengan kemampuannya, ia mengarang Mazmur dan Nyanyian Rohani yang dipakai sebagai nyanyian untuk beribadah bagi orang dewasa, Suara Gembira untuk anak sekolah minggu dan Seruling Emas yang dibuat untuk mengajarkan agar orang Papua mencintai tanahnya. Ia juga menyusun satu buku nyanyian yaitu Mazmur Maranu untuk orang di Wondama. Dengan kata lain Kijne bermaksud secara khusus untuk mendidik orang Papua dalam bidang pendidikan yang akan membuat suatu peradaban baru.

Hampir sebagian orang Papua yang saya temui mengenal dengan baik sebuah pernyataan yang menjadi doa dan ruh “kebangkitan” rakyat Papua yang diciptakan oleh Izaak Samuel Kijne. Perkataan nubuatnya yang terkenal dan dikenang oleh orang Papua, diucapkan di Miei, Wasior pada tanggal 26 Oktober 1925. Ia mengatakan:

“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”.

Kalimat inilah yang mulai berkembang dalam pemikiran orang Papua dan menjadi penyemangat bagi orang Papua untuk “memimpin dirinya sendiri” tanpa tekanan dari siapapun. Kutipan dari perkataan I.S. Kijne berimplikasi penting dalam tumbuhnya gerakan-gerakan di Tanah Papua. Perkataan ini dianggap juga sebagai suatu perkataan yang membangkitkan spirit pembebasan orang Papua dari penjajahan yang mereka rasakan selama ini.

Mencermati hal ini Kak Andi dalam sebuah tulisannya mengkontraskan imajinasi perkataan Kijne dengan realitas Papua kontemporer. Ia menuliskan:

Nama besar Kijne dan penggalan kalimat Miei 25 Oktober 1925 seakan menjadi sebuah syair suci yang terpatri dijiwa anak – anak Papua dari berbagai generasi untuk berspekulasi di setiap ruang yang mandek dari aktivitas kehidupannya. Ketika kurenungkan jalan hidup yang kulalui sebagai anak Papua di negeriku sendiri aku tertunduk malu dan mulai mencari jawab untuk semua kekaburan ini. Mungkinkah Kijne salah mengucapkan kalimat ini sebagai doa peradaban orang Papua?

Kenyataan yang kutemukan hari ini, semua jabatan penting birokrasi mulai dari Gubernur hingga Ketua RT di tanah Papua dijabat oleh Orang Asli Papua. Bahkan di beberapa lembaga publik juga Orang Asli Papua menjadi pimpinan. Dan kepemimpinan ini telah berlangsung untuk hampir mencapai 20 tahun lebih yang mana sebagai sebuah masa pembinaan merupakan suatu masa yang sangat cukup untuk menyiapkan sebuah generasi emas Papua.

Bangsa (Papua) yang akan bangkit memimpin dirinya sendiri ini telah menghasilkan dua provinsi di Tanah Papua sebagai provinsi termiskin di Indonesia dan dua Provinisi tak berkualitas di Indonesia. Dari angka Kemisiknan dan Index Pembangunan Manusia. Papua dan Papua Barat yang di pimpin oleh anak – anak Papua sendiri adalah provinsi yang terburuk dari 34 Provinisi di Indonesia.

Jebakan-Jebakan

Impian memimpin diri sendiri yang tepatri kuat pada Sebagian rakyat Papua dan generasi mudanya menghadapi tantangan jebakan-jebakan yang mematikan. Dinamika dan kompleksitas di akar rumput tentunya perlu diperhatikan secara mendalam. Salah satu jebakan tersebut adalah lahirnya lapisan anak-anak muda Papua yang justru menjadi broker (perantara) yang mengorbankan saudaranya sendiri dan menyingkirkan pondasi kepapuaan tersebut. Mereka ini mengais-ngais rupiah dan kekuasaan dengan menjadi centeng para elit Papua atau Jakarta dan menjadi predator politik yang memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan negara dan kekuasaan. Mereka ini membentuk brokerage (jaringan perantara) yang selalu beraksi sesuai dengan kepentingannya, tidak peduli harus memangsa saudaranya sendiri.

Kekuasaan yang mereka bentuk membentang luas dalam mediasi dan jaringan-jaringan sosial yang tentu saja melibatkan para orang-orang penting di pemerintahan maupun aparat keamanan. Maka terjadilah fragmentasi, baku tipu (saling menipu), baku jual (saling menjual), bahkan baku tumbuk (saling tikam) antara sesama orang Papua dalam merepresentasikan dirinya. Sebenarnya ini sudah mulai terlihat dari apa yang ditengarai oleh Giay (2000) bahwa kekuasaan Indonesia membutuhkan kaki tangannya di Papua sejak awal berintegrasi (aneksasi). Mental para birokrat Papua dan juga generasi muda sebagian besarnya terbentuk dari pendidikan Indonesia. Namun, belajar dari pendidikan Indonesia juga membuat mereka memahami bagaimana baku tipu (saling menipu) itu terjadi dan terpelihara, dimana rakyat Papua selalu menjadi obyek penderitanya.

Rakyat Papua, generasi muda, dan para birokrat Papua, berada dalam ruang-ruang antara tersebut. Pada situasi-situasi tertentu, seperti kerusuhan pasca ujaran rasisme 2019, kita menyaksikan para broker yang “menjual” isu-isu kekerasan dan penderitaan untuk tujuan ekonomi politik dan kekuasaan. Salah satunya adalah pemekaran daerah. Berikutnya aksi penangkapan dan kekerasan tidak kunjung selesai baik yang memakan korban rakyat Papua maupun aparat keamanan negara. Keseluruhannya adalah gula-gula (pemanis) dan panggung-panggung yang menjerat cara berpikir dan perilaku orang Papua untuk menipu saudaranya sendiri. Disinilah yang saya maksud dengan fragmentasi dan baku tipu dan yang lainnya itu. Wilayah kelam dari ironi anak muda Papua ini beririsan dengan masyarakat Papua biasa di gunung-gunung dan lembah-lembah yang sudah kenyang dengan derita kekerasan. Berbagai tragedi hadir silih berganti, baik itu dianggap sebagai separatis, tertembak aparat keamanan, berdiri membela tanah adat sendiri, hingga tragedi pengungsian karena konflik kekerasan yang tak kunjung selesai.

Saya melihat jebakan-jebakan inilah yang merupakan cermin wajah dari generasi muda dan rakyat Papua secara umum. Kak Andi dan beberapa generasi muda Papua lainnya selalu menggumuli ini dengan berbagai keresahan dan negosiasi terus-menerus. Integritas dan konsistensi menjadi pertaruhannya. Kelokan-kelokan tajam dan bernegosiasi menjadi keniscayaan. Proses refleksi dan mengkritik diri sendiri harus terus dilakukan. Jebakan-jebakan terus akan menghantui tanpa henti.

Manokwari – Ransiki, November 2021

Penulis: I Ngurah Suryawan, Antropolog dan peneliti sosial budaya Papua. Bukunya Jiwa yang Patah: Rakyat Papua, Sejarah Sunyi, dan Antropologi Reflektif (2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *