Lukisan Cat Biji Pinang Lolos Dalam Pameran Galeri Nasional

Dosen Syafiuddin menunjukkan lukisannya yang dipamerkan dalam event galeri nasional, RestArt yang digelar di Lampung, Jumat (12/11) pekan kemarin (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Hasil karya seorang dosen Institute Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, Syafiuddin S.Pd., M.Sn  patut diacungkan jempol. Pasalnya ia menawarkan sebuah lukisan dari bahan cat yang tak biasa.

Jika selama ini orang melukis menggunakan bahan cat acrylic  maupun cat minyak lainnya, kali ini ia  memanfaatkan bahan  alami yakni biji pinang. Bahkan lukisan yang diberi nama Anak Kandung Rahim Sagu ini terpajang  dalam  pameran  galeri nasional, RestArt yang diadakan di Lampung. Event ini memberi ruang bagi seluruh pelukis di 34 provinsi dan setiap pelukis mengirimkan maksimal 2 karya untuk diseleksi.

“Jadi pamerannya baru dibuka Jumat pekan kemarin dan ini menjadi agenda nasional dan ini merupakan event Galeri Nasional Indonesia pada temu karya taman budaya (TKTB) se Indonesia dan dari Papua saya yang diminta untuk mengirimkan karya,” kata Syafiuddin saat ditemui di Belantara Bunga, Ale-ale, Waena, Senin (15/11). Dari dua karya yang dikirim kata Dosen Design Komunikasi Visual (DKV) menyampaikan bahwa 1 karyanya dari bahan dasar buah pinang yang lolos. Lukisan tersebut bergambar seorang anak usia dini menatap ke arah pelukis dengan atribut penari dimana kulit – kulitnya dicat menggunakan cat putih dan menggunakan mahkota bulu – bulu kasuari.

Hanya menariknya lukisan yang dibuatnya ini bukan menggunakan cat pada umumnya melainkan menggunakan biji pinang, kapur dan juga sedikit arang. “Lukisan ini saya buat awal tahun 2021 dan saya bersyukur bisa  dipamerkan dalam galeri nasional,” beber Syafiuddin. Disini ia  menitipkan pesan soal sejatinya ada bahan yang ramah lingkungan, hemat serta mudah didapat dan bisa menghasilkan sebuah karya yang menarik,” bebernya. “Jadi bisa dibilang 95 persen dari pinang dan 5 persen dari arang,” tambahnya.

  Syafiuddin menambahkan bahwa saat ini kebanyakan orang lebih senang mencari yang praktis dalam membuat lukisan namun ia melihat sejatinya Papua memiliki potensi yang tak kalah hebat untuk menciptakan bahan yang ramah lingkungan. “Kalau bicara biji pinang atau ludah pinang kebanyakan orang mengeluh karena menganggap bahwa pinang hanya jadi sampah dan ludahnya kadang mengotori tapi saya justru tertarik sebab ketika ia bercampur dengan kapur maka daya rekatnya semakin kuat dan itu nilai plusnya,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *