Terima Kasih Papua atas Keramahannya

Atlet paralimpik atletik DKI Jakarta Moh Agung dan Marcelino usai menerima medali di Stadion Lukas Enembe. (PBPeparnas Papua)

Jayapura– Layar perhelatan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua 2021 telah ditutup resmi oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (13/11) malam. Atraksi penutupan yang menghentak dari grup Kotak, penampilan atlet disabilitas, ratusan penari tifa, dan gemerlap 500 drone di atas Stadion Mandala memberikan kesan tersendiri bagi para atlet yang berpeluh keringat selama 14 hari.

Kesan tersebut juga dirasakan Moh Agung, 23, atlet balap kursi roda T54 yang ditemui di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (13/11).

“Saya baru pertama kali ke Papua. Langsung bertanding dan mendapatkan dua perunggu. Padahal kami hanya berlatih intens dua bulan sebelum Peparnas,” ujar Agung yang turun di nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter atletik paralimpik.

Bagi Agung, pelayanan panitia pelaksana (panpel) dan penerimaan masyarakat Papua selama Peparnas begitu ramah kepada dirinya maupun anggota kontingen DKI Jakarta lainnya. Tim atletik DKI Jakarta terdiri dari 11 orang. Dari tim tersebut hanya dua yang merupakan atlet senior seperti Doni Yulianto, peraih balap kursi roda di Asian Paragames dan ASEAN Paragames.

“Itu sudah saya rasakan sejak mendarat di bandara, mengurus akreditasi, membantu saat akomodasi maupun selama pertandingan. Para relawan dan driver selalu tersenyum dan mengucapkan salam. Sering mengajak ngobrol kami. Saya berterima kasih atas keramahan mereka,” imbuh Agung.

Menurut Agung, bayangan seram soal keamanan dan masyarakat Papua sirna begitu ikut berlaga di Peparnas ini. Soal konsumsi dari panpel juga tidak ada masalah. Ia pun sempat merasakan nikmatnya penganan papeda dan mujair bakar.

Agung juga menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang begitu baik kepada atlet penyandang disabilitas. Dengan demikian, sukses Peparnas Papua ini menjadi pemicu bagi dirinya dan kawan-kawan atlet paralimpian lainnya meraih prestasi lebih baik lagi.

Berlaga di arena atletik adalah pengalaman baru Agung. Sebelum menjadi atlet balap kursi roda (wheelchair racing), ia menekuni olahraga panjat tebing. Seangkatan dengan juara Dunia dan Asia Panjang Tebing, Aspar Jailolo, yang tak lain adalah saudaranya.

Akibat mengalami kecelakaan kaki kanannya, Agung lalu beralih menekuni cabor atletik khusus cabor balap kursi roda T54. Berkat pembinaan dari Dispora DKI Jakarta dan National Paralympic Committee (NPC) Jakarta, ia mampu meraih prestasi di Peparnas.

“Padahal kami berlatih kurang dari setahun. Hanya sekitar dua bulanan sebelum ke Papua. Itu pun mengikuti aturan buka tutup lapangan latihan di Pusat Pelatihan Olahraga Daerah Ragunan,” tukasnya.

Namun, Agung berharap dirinya akan kembali ke ajang Panjat Tebing karena itu ia mulai berlatih dan mengumpulkan peralatan bagi lomba panjat tebing paralimpian.(PBPeparnas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *