Mensyukuri 50 Tahun Perdamaian di Yakonde

Pdt Jhon Baransano didampingi Ketua Klasis Waibu Moi, Pdt Yosafat Entong STh, saat meresmikan tugu perdamaian di Kampung Yakonde, Minggu (13/11). (Robert Mboik Cepos)

SENTANI– Masyarakat Kampung Yakonde melaksanakan doa dan ibadah syukur 50 tahun perdamaian dengan melakukan peresmian terhadap tugu perdamaian yang dibangun oleh masyarakat setempat, Minggu, (14/11).

Ketua panitia yang juga sebagai anak asli Kampung Yakonde,  Alphius Toam mengatakan, ada sejarah besar di balik berdirinya tugu perdamaian di Kampung Yakonde itu. Di mana antara Tahun 1958 sampai Tahun 1963, cukup banyak masyarakat asli di kampung itu yang meninggal dunia.  Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa silih berganti meninggal dunia.

“Sampai yang terakhir itu jumlah penduduk di sini hanya tersisa 11 kepala keluarga  dan 39 jiwa,” ungkap Alphius Toam.

Yang sisa ini kemudian terus bergumul dan mencari tahu sebab-sebab dari kematian mendadak yang dialami oleh warga kampung setempat.  Bahkan anak-anak dari kampung setempat juga sempat mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.  Bahkan untuk menghentikan fenomena tersebut, masyarakat adat kampung setempat juga beberapa kali melakukan ritual secara adat.

“Di tahun 1971 melalui mimpi  bahwa dulunya ada pertumpahan darah di kampung itu.  Setelah dicari tahu, ternyata dulunya di kampung itu juga pernah terjadi peperangan dan ada pembunuhan di kampung itu.  Darah itu menuntut bahwa mereka harus melakukan perdamaian,”jelasnya.

Dari situ kemudian Tahun 1971 itu juga mereka berinisiatif untuk melakukan perdamaian, dengan mengundang seluruh suku-suku yang ada di wilayah Sentani dan sekitarnya yang notabene pernah terlibat dalam pertikaian berdarah masa lalu.

Setelah mereka melakukan perdamaian secara adat, sejak saat itu sampai sekarang jumlah penduduk terus meningkat bahkan masyarakat setempat yang juga menyampaikan didikan tinggi sudah banyak.

“Itulah yang menjadi momen untuk kami mensyukuri 50 tahun dari perdamaian itu.  Ternyata setelah dilakukan perdamaian itu, banyak membawa perubahan di kampung ini,”tandasnya.

Adapun makna dari tugu yang dibangun dan diresmikan itu, pilar ukiran asli Suku Sentani, bermakna aeluruh tatanan kehidupan Masyarakat pada masa lalu atau kebiasaan pola hidup sosial, ekonomi, budaya dan hukum seluruhnya dikendalikan dengan atura adat. Landasan berbentuk piring bermakna proses perubahan perilaku kehidupan lama yang mengandalkan kekuatan adat, kemudian lambat laun berubah menerima kuasa Injil atau proses peralihan dari kehidupan kepercayaan adat kepada kuasa Injil Yesus Kristus. Selanjutnya bentuk hati bermakna, hati yang tulus ikhlas menerima perdamaian, berdamai dengan sepenuh hati. Tali emas yang melingkar bermakna ikatan tali kasih, tali persaudaraan yang kuat, mempersekutukan  untuk hidup rukun dan damai. Tangan yang berjabat bermakna hidup dalam perdamaian dengan semua orang,

“Salib yang berdiri tegak pertanda berakhirnya kekerasan dan segala bentuk penindasan. Pengorbanan Kristus di kayu salib telah mendamaikan manusia dengan Allah,”tambahnya. (roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *