LBH Masih Perjuangkan Nasib Mahasiswa  Korban Penggusuran Paksa

Emanuel Gobai, SH., MH (Yewen/cepos)

JAYAPURA– Pada tanggal 10 November 2021 kemarin, Universitas Cenderawasih (Uncen) telah mencapai usia ke 59 tahun sejak berdiri secara resmi pada tahun 1962 yang silam.

Berbagai harapan tentu disampaikan oleh berbagai pihak, terkait perasaan HUT universitas terbesar dan pertama kali di bumi cenderawasih ini. Salah satunya datang dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua dan Papua Barat.

Direktur LBH Papua dan Papua Barat, Emanuel Gobai, SH., MH mengungkapkan bahwa ulang tahun Uncen pihaknya masih terus memperjuangkan hak para mahasiswa mengenai dugaan penggusuran paksa yang saat ini masih disidangkan di Pengadilan Negeri Kelas 1A Jayapura.

Menurut Gobai, pihaknya telah melakukan gugatan terhadap Universitas Cenderawasih dan PB PON XX Papua di Pengadilan Negeri Kelas IA Jayapura atas dugaan penggusuran paksa yang dilakukan terhadap Asrama Mahasiswa Uncen.

“Gugatan yang kami lakukan ini seperti menjadi kado ulang tahun bagi Universitas Cenderawasih yang kini kasusnya masih ditangani di Pengadilan Negeri Kelas IA Jayapura,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (11/11).

Gobai menjelaskan, dugaaan penggusuran paksa ini terjadi pada tanggal 21 Mei 2021 di Asrama Rusunawa Uncen dan Asrama Sakura Uncen. Dugaan penggusuran ini membuat para mahasiswa aktif tidak mendapatkan tempat untuk menginap hingga kini.

“Untuk diketahui bahwa sampai saat ini banyak mahasiswa Uncen penghuni asrama mahasiswa Unncen Sakura dan Rusunawa masih tinggal di keluarga-keluarga, teman, pondok-pondok darurat dan juga posko pengusuran paksa dengan kondisi yang memprihatinkan tanpa ada uluran tangan dari pemerintah yang memiliki tanggungjawab untuk memenuhi hak asasi manusia sesuai perintan pasal 28i ayat (4) UUD 1945 junto Pasal 8, UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia serta UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang Perubahan UU Nomor 21 Tahun 2021 Tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua,” jelasnya.

“Sudah saatnya mahasiswa uncen dan Alumni Uncen mengambil langkah jelas untuk menghapuskan fakta dugaan penggusuran paksa yang adalah pelanggaran HAM Dari dalam pagar Universitas Cenderawasi dengan cara membuka kembali Asrama Mahasiswa Uncen untuk ditempati oleh Mahasiswa Uncen Penghuni Asrama Mahasiswa Uncen yang sampai saat ini menumpang di rumah-rumah keluarga, teman, kos-kosan, pondok-pondok darurat dan posko pengusuran paksa asrama mahasiswa Uncen,” harapnya. (bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *