Miris, Gedung Sejarah Dibongkar Tanpa Suara

Proses pembongkaran Kantor Gubernur Papua, bangunan bersejarah itu kini hanya tinggal nama. Foto ini diambil Selasa (9/11) lalu. (Yohana/cepos)

JAYAPURA – Proses eksekusi gedung Kantor Gubernur Papua  di Jl Soa Siu nyaris tanpa riak – riak. Ini sedikit berbeda dengan penebangan pohon beringin bersejarah di halaman kantor gubernur. Pohon beringin tersebut  disebut bersejarah karena menjadi simbol perdamaian dengan negara tetangga PNG. Ditanam oleh Perdana Menteri PNG, Michael Somare pada zaman Gubernur Irian Jaya (Papua), Mayjend TNI  (Purn) Soetran di tahun 1976. Setelah pohon, kini gedung   bersejarah tersebut dihilangkan. Ada yang berpendapat bahwa tak bisa dengan alasan renovasi dan  peningkatan kualitas bangunan sebab sebelumnya gubernur pernah sampaikan akan membangun kantor gubernur di arah Koya Distrik Muara Tami.

“Jelas kami sesali sebab itu bagian dari sejarah. Gedung kantor gubernur pertama yang representative dan dibangun oleh orang yang punya hari pak Acub Zainal. Beliau ketika itu tidak hanya membangun kantor gubernur tetapi juga GOR Cenderawasih termasuk perumahan TNI dan beberapa bangunan bersejarah lainnya bahkan tim Persipura,” beber Gunawan, satu pegiat sosial Kota Jayapura, (10/11). Jika kondisinya sudah seperti ini kata Gunawan apa lagi yang mau dipertahankan dan gunawan melihat pemimpin daerah saat ini tak paham soal peninggalan sejarah. “Gubernur sekarang ingin membangun sesuatu yang bisa dikenang ke depan tetapi ia sendiri menghancurkan kenangan sebelumnya. Sulit membangun peradaban tanpa bercermin pada sejarah. Harusnya gubernur paham ini, jangan asal bongkar, tebang dan hilangkan,” sindir Gunawan.

Apalagi pembangunan gedung baru dikatakan tidak sebanding dengan kinerja aparat yang dimiliki.  Masih banyak keluhan yang muncul dan sejatinya kata Gunawan bukan gedung yang diinginkan masyarakat karena masih banyak yang tidur di emperan,  banyak yang belum mendapatkan pelayanan  kesehatan maksimal dan lainnya. “Bukan gedung yang dibutuhkan masyarakat tapi bagaimana ada rumah yang layak, air bersih yang lancar, kesehatan yang tanpa biaya lalu tidak harus menggusur  karena masih ada lokasi lain. Kami bingung ini pola pikirnya seperti apa sih,” cecar Gunawan.

Hal lain diungkapkan Rudi Mebri, pria yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Pemuda Port Numbay ini menganggap  keputusan yang diambil untuk menggusur dan menghilangkan bangunan kantor gubernur lama  sangat tidak tepat dan menghilangkan bukti sejarah. “Itu dibangun oleh gubernur Irian Jaya ketika itu, Acub Zainal pada tahun 1973. Bangunan tersebut inisiatif yang luar biasa setelah Belanda angkat kaki,” kata Rudi melalui ponselnya, Rabu (10/11). Meski hanya menjabat hingga 1975 namun Acub Zaenal memiliki konsep pembangunan yang membanggakan.

“Kalau Kantor Gubernur dibongkar maka saat ini tersisa gedung kesenian, bangunan Sarinah meski sudah tidak asli lagi termasuk gedung DPRP bagian depan dan Hotel Numbay. Ada bebarapa  bangunan bersejarah lainnya tapi sudah dilakukan perombakan dan mendengar soal kantor gubernur ini saya juga prihatin, sebenarnya tidak harus membongkar tapi bisa mencari lokasi lain,” beber Rudi. Ia juga berharap warga lebih kritis atas kebijakan – kebijakan yang diambil pemerintah saat ini dan jangan hanya diam sebab belum tentu semua kebijakan yang diambil adalah benar  sehingga perlu dikoreksi. “Sebenarnya saya sangat tidak setuju gedung itu dibongkar dan saya bingung kenapa harus dibongkar juga,” tutup Rudi. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *