Meriam Pengganggu Kenyamanan Warga Segera Ditertibkan

AKP. Lintong Simanjuntak (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Bunyi-bunyian jelang bulan Desember dan akhir tahun nampaknya  mulai terdengar. Meski masih sayup sayup namun bagi warga yang tinggal tak jauh dari asal suara terkadang merasa terganggu dan  menganggap  itu tidak nyaman.

Asal suara ini  sendiri biasa dimainkan oleh anak – anak menggunakan meriam baik yang terbuat dari pipa maupun buatan tangan. Untuk yang berbentuk meriam biasa ditembakkan dari atas bukit namun yang buatan  tangan atau dikenal dengan meriam kaleng, biasa dimainkan di lorong – lorong atau kawasan pemukiman.

Terkait ini Kapolsek Abepura, AKP Lintong Simanjuntak menyampaikan  bahwa hingga kini belum ada warga yang melapor soal gangguan n dari meriam tersebut.

Akan tetapi ia bebunyian akan semakin ramai jika sudah masuk bulan Desember dan ini sudah seperti kebiasaan. Jika tak disikapi maka aktivitas tersebut selain mengganggu kenyamanan warga, kadang juga bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. “Memang mulai terdengar dan saya sudah tahu kalau ada bunyi – bunyi meriam. Warga juga belum melapor tapi kami akan ambil tindakan jika memang kelewatan,” kata  Lintong, Rabu (10/11).

Lintong memastikan bahwa aktivitas yang dianggap mengganggu ini akan segera ditertibkan lebih awal sebelum ada komplain dari warga. Sebab ia tak mau ketika ada yang sedang beribadah justru terganggu akibat dentuman meriam tersebut.

“Saya akan meminta anggota cek dulu karena saya yakin ini akan bertambah banyak apalagi saat ini banyak anak – anak juga membuat sendiri. Jadi meriamnya dipegang kemudian dibawa berkeliling. Kalau di tempat sepi saya pikir tidak masalah tapi kalau di pinggir jalan bisa – bisa jadi ribut,” tambahnya.

Pantauan Cenderawasih Pos untuk wilayah Abepura ada titik untuk bermain meriam yang biasa dipakai yaitu di bukit di belakang SAGA Abepura. Ada juga di bukit di atas Jl Biak Abepura termasuk di bukit di Tanah Hitam. “Yang kami khawatirkan jika ada warga yang kaget, kemudian tak terima dan didatangi. Ini bisa terjadi kekerasan fisik dan akhirnya muncul masalah penganiayaan dan lainnya. Sebelum itu terjadi nanti saya akan naik mengecek dan mengamankan, yang biasa main jika tidak mau mendengar arahan kami,” tegas Lintong. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *